Kamis, 20 Desember 2018

AGAMA SHINTO (2)







Kitab Suci Agama Shinto.
  1. Kojiki Kyūchū (Catatan      dari hal-hal Kuno) yang mencatat peristiwa-peristiwa purbakala yang      disusun pada 712 M, sesudah kekaisaran Jepang berkedudukan di Nara. Ibukota      Nara dibangun pada tahun 710 M menuruti model ibukota Changan di Tiongkok.
    Kitab Kojiki menguraikan tentang alam kayangan tempat kehidupan para dewa      dan dewi sampai kepada Amaterasu omi Kami (dewi Matahari) dan Tsukiyomi      (dewa Bulan) diangkat menguasai Langit dan puteranya Jimmu Tenno (660      sM)  diangkat menguasi “tanah      yang indah dan subur” (Jepang) di Bumi, lalu disusul dengan silsilah      turunan kaisar Jepang itu beserta riwayat hidupnya, selanjutnya      upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu,      berkenaan dengan pemujaan terhadap kaisar beserta para dewa dan dewi.
  2. Nihongi (Sejarah Jepang) yang      ditulis pada 720 M oleh seorang pangeran Jepang  Kitab yang kedua bersifat komentar yang      panjang lebar atas kitab yang pertama itu.
  3. Yengishiki (Lembaga-lembaga      pada masa Yengi),  yang berisi      nyanyian-nyanyian dan pujaan.
  4. Manyoshiu yaitu kumpulan dari      10.000 daun adalah karya utama, tapi ini tidak dianggap sebagai kitab suci      yang diwahyukan. yang bermakna himpunan sepuluh ribu daun. Berisikan bunga      rampai, terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad ke-5 dengan abad      ke-8 masehi


Kuil Futurasan
Aliran-Aliran Shinto
Secara umum Shinto bisa dikelompokkan menjadi 4 bagian atau kelompok. Yang masing- masing mempunyai keunikannya tersendiri.
  1. Kyūchū Shinto atau Koshitsu Shinto (.Imperial Shinto). Shinto kelompok ini sangat eksklusif dan tidak umum ditemukan. Memiliki beberapa kuil saja, 5 buah di seluruh negeri. Nama kuil ini biasanya berakhir dengan nama Jingu, misalnya Heinan Jingu, Meiji Jingu, Ise Jingu dll. Kuil Shinto kelompok ini selain berfungsi sebagai tempat untuk memuja Kami juga berfungsi sebagai tempat memuja leluhur khususnya keluarga kerajaan. Salah satu dari kuil ini dibangun khusus untuk menghormati dewa Matahari. .
  2. Minzoku Shinto (Folk Shinto). Mithologi tentang Kojiki, cerita terbentuknya pulau Jepang dan cerita tentang dewa-dewa lain adalah ciri khas dari Shinto kelompok ini. Jadi Folk Shinto adalah kepercayaan Shinto yang meliputi cerita tua, legenda, hikayat dan cerita sejarah. Kuil Kibitsu Jinja yang terletak di daerah Okayama, Jepang Tengah adalah salah satu contoh menarik karena dibangun untuk menghormati tokoh utama dalam cerita rakyat yaitu Momo Taro. Disamping itu Shinto kelompok ini juga mendapat pengaruh yang kuat dari agama Buddha, Konfucu, Tao dan ajaran penduduk local seperti Shamanism, praktek penyembuhan dll. Kuil kelompok ini biasanya mudah dibedakan dengan kuil lainya karena adanya sejarah pendirian kuil yang unik. Jadi jangan kaget kalau Anda menemukan kuil yang penuh dengan ornament dan pernak pernik kucing atau binatang dan benda lainya karena sejarah pendiriannya yang memang berkaitan dengan binatang tersebut.
  3. Kyoha atau Shuha Shinto (Sect Shinto). Shinto kelompok ini mulai muncul pada abad ke 19 dan sampai saat ini memiliki kurang lebih 13 sekte. Dua diantara sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo atau Kenkokyo. Keberadaan dari Sekte Shinto ini cukup unik karena memiliki ajaran, doktrin, pemimpin atau pendiri yang dianggap sebagai nabi dan yang terpenting biasanya menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme.
  4. Jinja Shinto (Shrine Shinto). Saat ini hampir sebagian besar dari kuil yang ada di Jepang termasuk kelompok ini, yang semuanya tergabung dalam satu organisasi besar yaitu Association of Shinto Shrines. yang menghimpun sekitar 80 ribuan kuil di seluruh negeri. Kebanyakan orang Jepang hanya membutuhkan tempat untuk berdoa namun di lain pihak tidak mau terikat dengan ajaran atau doktrin tertentu. Jadi sepertinya dari semua kelompok Shinto yang ada, kelompok terakhir inilah yang sepertinya paling mudah untuk diterima serta paling banyak pengikutnya.


Kuil Shinto

Kepercayaan Agama Shinto
Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki roh atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua roh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan “Kami”.  Pada masa Restorasi Meiji (1868-1912), mulai berdiri banyak sekte baru dari Shinto seperti contohnya Kyoha atau Shuha Shinto (Sect Shinto). Dua diantara bagian sekte ini yang cukup banyak pengikutnya adalah Tenrikyo dan Kenkokyo yang biasanya digolongkan sebagai agama baru atau Shinshūkyō. Salah satu keunikan dari Shinto baru ini adalah menggolongkan diri dengan tegas sebagai penganut monotheisme. Mereka juga memiliki pendiri yang diakui sebagai guru atau nabi dan juga mempunyai ajaran layaknya agama modern.

Artikel selanjutnya :
Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami ........ beberapa dewa-dewi, mahkluk gaib, roh-roh, yang dipuja dalam Shinto antara lain: Naga (mahkluk berupa ular), Dosojin, Ebisu (salah satu dewa keberuntungan Jepang), Dewa Hachiman, Henge, Kappa, Kitsune (Roh Srigala),.......... Ada kepercayaan batin mengenai kesucian dari seluruh alam semesta, dan bahwa manusia dapat selaras dengan kesucian ini. ............ Kuil Shinto bermula dari altar (himorogi) yang dibangun sementara untuk keperluan pemujaan di iwakura (tempat pemujaan alam) atau tempat tinggal para Kami yang dijadikan tempat terlarang dimasuki manusia ...........

Compiled By: I Dewa Putu Sedana,

0 komentar:

Posting Komentar