Selasa, 11 November 2014

MISTERI JEMBATAN RAMAYANA (3)



Kiskindhakanda
Menceritakan Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Diperjalanan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa.  Setelah meraih kemenangan bertahtalah Sugriwa di kerajaan Kiskindha. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Sitha, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman pergi ke istana Alengka mencari tahu tempat  Rawana menyembunyikan Sitha dan mengetahui kekuatan pasukan Rawana. Bersekutulah Sugriwa dengan Rama dan saling berjanji akan tolong-menolong. Selanjutnya Sugriwa memerintahkan prajurit kera berangkat ke Alengka. Setelah sampai di pantai, maka para kera bingung karena tidak mampu menyeberangi laut.


Pasukan Wanara membuat Jembatan ke  Alengka

Sundara Kandha
Mengisahkan  tentara Kiskindha yang membangun jembatan Situbanda yang menghubungkan India dengan Alengka.  perjalanan sang Hanuman yang menjadi utusan Sri Rama. Hanuman, kera putih (wanara seta) kepercayaan Rama, si anak dewa Angin menuju ke negara Alengka dengan cara mendaki gunung Mahendra, kemudian meloncati menyeberang samodra dan tibalah di Alengka. Seluruh kota dijelajahinya hingga masuk di istana. Hanuman  bertemu dengan Sitha. Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Sitha menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Sitha ditemani oleh Trijata kemenakan Rawana, yang juga berusaha membujuk Sitha untuk bersedia menjadi istri Rawana. Karena sudah beberapa kali Rawana meminta dan ‘memaksa’ Sitha menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rawana habis kesabarannya dan ingin membunuh Sitha namun dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Sitha di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Sitha, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rawana dan kemudian dibawa kepada Rawana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Dengan ekornya yang menyala itu mengakibatkan seluruh kota itu terbakar, kemudian kembalilah Hanuman ke Ayodya melaporkan peristiwa itu ke hadapan Sri Rama.
Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.

Yudha Kandha
Menceritakan tentang Wibisana yang diusir Rahwana dan akhirnya Wibisana bergabung dengan sang Rama. Sebelumnya Wibisana memberikan petunjuk agar kakaknya yaitu Sang Rahwana mau mengembalikan Sitha kehadapan Rama, namun petunjuk tersebut membuat Rahwana marah.  Wibisana disuruh pergi dari Alengka. Ia pergi bergabung dengan Sri Rama. Dalam peperangan antara bala tentara Sri Rama dan Rawana,  Indrajid gugur, Kumbakarna beserta prajurit dan para senapati gugur dalam perang berebut Sitha. Rahwana yang sakti itu mengamuk, peperanganpun berlanjut dan banyak  prajurit kera yang mati. Hampir saja Rama kewalahan karena kesaktian Rahwana, akhirnya Rahwanapun mati. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman. Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja Alengka.
Selesailah peperangan antara Sri Rama melawan Rahwana. Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja Alengka. Di hati Rama ternyata ada keraguan tentang kesucian Sitha. Untuk membuktikan, maka ia menyuruh membuat api unggun. Masuklah Sitha ke dalam api itu. Ternyata tidak mati, justru dewa Agnilah menyerahkan Sitha untuk Rama sebab Sitha memang masih suci. Kini Sitha bersama Rama pulang ke Ayodya, diiringi oleh tentara kera. Mereka disambut oleh Barata, yang segera menyerahkan tahta kerajaan kepada Sri Rama.


Rama, Sitha, Hanuman

Utara Kandha.
Dua pertiga dari buku Utara kandha ini berisi tentang cerita yang tidak ada kaitannya dengan riwayat Sri Rama. Setelah pertempuran yang dasyat  dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Sitha.  Ketika  Sitha diboyong ke Utara (Ayodya), Sri  Rama mendengar desas-desus rakyat bahwa kehadiran Sitha  sangat disangsikan akan kesuciaannya. Demi memperlihatkan kesempurnaannya, maka Sitha yang pada saat itu dalam keadaan hamil diusir dari Ayodya oleh Rama. Pergilah Sitha dengan tiada tujuan tertentu dengan mengenakan pakaian orang sudra papa dan sampailah di pertapaan Empu Walmiki. Usia kehamilan Sitha semakin besar, maka setelah tiba waktunya lahirlah dua anak yang ternyata lahir kembar, diberi nama Kusa dan Lawa. Keduanya diasuh dan dibesarkan oleh Empu Walmiki dan dididik membaca kakawin. Sang Walmiki juga menulis cerita riwayat Rama dalam kakawin. Suatu saat ketika sang Rama mengadakan aswameda yaitu korban pembebasan kuda, Kusa dan Lawa diajak hadir oleh sang Walmiki. Kedua anak muda inilah yang membawa kakawin gubahan sang Empu.


Walmiki, Sita

Setelah pembacaan Kakawin dengan riwayat Sang Rama, barulah tahu bahwa Kusa dan Lawa adalah anaknya sendiri. Maka segera Walmiki diminta untuk mengantar Sitha kembali ke istana. Setiba di istana Sitha bersumpah “janganlah kiranya raganya tidak diterima oleh bumi seandainya tidak suci.” Seketika itu juga bumi terbelah menjadi dua dan muncullah Dewi Pretiwi yang duduk di atas singgasana emas yang didukung oleh ular-ular naga. Sitha dipeluknya dan dibawanya lenyap masuk ke dalam belahan bumi.
Tentu saja Sri Rama sangat menyesal atas semua itu. Perasaan Rama sangat haru melihat sang Dewi Pretiwi yang berkenan untuk muncul menjemput Sitha. Peristiwa tersebut telah membuat Rama mengerti akan kesetiaan Sitha kepadanya. Itulah penyesalan Rama, yang kemudian dinyatakan pada semedinya di pantai samudra dan lepaslah penitisan Wisnu kembali ke Sorgaloka untuk bertemu dengan sang istri yaitu Dewi Pretiwi

Artikel selanjutnya :
………. untuk mengungkap lebih jauh lagi tentang usia dari karya dunia ini, maka para ahli Badan PBB  menggunakan “Uranium Radio Isotop”. Dan ternyata dari hasil uji radio isotop itu cukup mengagumkan. Para ahli berhasil mengungkap bahwa usia “Jembatan Sri Rama” mendekati usia hingga jutaan tahun. ……… . Dengan memasukkan posisi planet, konstelasinya seperti yang digambarkan oleh Maharishi Valmiki dalam naskah  Valmiki Ramayan, hal itu dimungkinkan  untuk menunjukkan tanggal yang penting  mulai dari tanggal kelahiran Shri Rama, dan tanggal kembalinya belau ke Ayodhya. ……..Jembatan Rama, adalah rantai batu koral buatan (bukan karena peristiwa alam) antara pulau Mannar, didekat Sri Lanka barat laut dan Rameswaram ………

Compiled By : I Dewa Putu Sedana, 

0 komentar:

Posting Komentar