Kamis, 05 Desember 2013

ZOROASTERISME, Mayat Penganutnya Digeletakkan di Menara (5)





Konsep Kosmologi
Konsep kosmologi Zoroastrianisme tersusun dalam 3 tahap:
  1. Penciptaan dunia,
  2. Pewahyuan agama Mazda,
  3. Trasfigurasi akhir. Pada dasarnya diyakini di sini bahwa apapun yang tercipta di muka bumi ini terdiri dari dua: spiritual dan material, jiwa dan raga. Jadi dualisme Cartesian sebenarnya sudah sejak zaman Zoroaster diyakini adanya.
Proses penciptaan berawal dari yang spiritual memiliki embrio menuju yang material, embrio ini kemudian mengembang menjadi alam semesta. Akan tetapi, jika spiritualnya adalah kejahatan (evil) maka sulit tercipta menjadi materi, satu-satunya kemungkinan menjelma adalah adanya ketercampuran dengan hawa baik. Kemudian semesta ini hadir berdasarkan susunan: Langit yang terdiri dari batu dan kristal, air, bumi, tumbuhan, binatang dan lalu manusia. Semua ini dijelaskan dalam Gathas yang merupakan wahyu atau petunjuk dalam agama Mazda.
1
Alam semesta dalam ajaran Zoroastrianisme berusia 12.000 tahun. Setelah masa 12.000 tahun berakhir barulah akan terjadi kiamat. Masa 12.000 tahun ini terbagi menjadi beberapa periode:
  1. Periode 3.000 tahun pertama, yaitu masa ketika Ahura Mazda menciptakan alam semesta. Ahriman kemudian berusaha menyerang dan menghancurkan alam yang diciptakan Ahura Mazda.[ Hal ini disebabkan karena kehendak Ahriman adalah menyakiti dan merusak alam ciptaan.
  1. Periode 3.000 tahun kedua, yaitu periode Ahura Mazda dan Angra Mainyu beradu kekuatan, keduanya berusaha saling kalah mengalahkan. Dalam peristiwa inilah terjadi terang dan gelap serta siang dan malam
  2. Periode 3.000 tahun ketiga, yaitu masa ketika nabi Zarathustra lahir dan menerima penglihatan dari Ahura Mazda. Selanjutnya, penglihatan ini kemudian disebarkannya kepada umat manusia.
  3. Periode 3.000 tahun terakhir, yaitu masa munculnya seorang Saoshayant setiap seribu tahun, yang diyakini sebagai penyelamat yang akan memerintah dan memelihara bumi. Ketiga Saoshayant yang akan datang itu adalah keturunan Zarathustra yang pada akhirnya akan memimpin manusia untuk melawan dan menghancurkan Ahriman serta para pengikutnya. Barulah setelah itu perdamaian dunia akan terwujud


Patung Zoroaster di New York
Konsep  Etika Hidup
Moralitas Zoroaster diungkapkan dengan tiga kata, yaitu :
  1. Humat (Pikiran Baik),
  2. Huklit (Perkataan Baik)
  3. Huvarsht (Perbuatan Baik).
Dalam masalah-masalah etika, agama Zoroaster menekankan arti penting kejujuran dan kebenaran. Ascetisme, hidup ugal-ugalan, zina, ditentang keras. Penganut Zoroaster melaksanakan pelbagai ibadah agama yang menarik, beberapa di antaranya dipusatkan pada pemujaan terhadap api. Misalnya, api suci senantiasa dibiarkan berkobar di kuil Zoroaster.
Zoroastrianisme memberikan kebebasan bagi setiap penganutnya untuk memilih hidup yang baik atau jahat bagi dirinya sendiri. Menurut mereka dunia yang akan datang akan mengalami pembaruan. Pembaruan dunia ini tidak dapat dikerjakan oleh satu orang saja tetapi membutuhkan keterlibatan banyak orang. Oleh karena itu, Zoroastrianisme sangat menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang untuk melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah penolakan untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura Mazda.
Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah meninggal. Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka memahami bahwa dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri  karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan berarti menolak Sang Pencipta. Prilaku bertapa dan bujangan adalah prilaku yang dikutuk; penyucian diri sangat bernilai. Untuk memerangi kejahatan. Seseorang haruslah setiap saat menentang kekuatan jahat.


Festival Zoroaster
Dua prinsip dasar sebagai dasar etika Zoroastrian : memelihara kehidupan dan berjuang melawan kejahatan. Untuk dapat memelihara kehidupan  seseorang harus memelihara sumber keuangan, meningkatkan peternakan, menikah dan mempunyai anak-anak.

Artikel selanjutnya :
Zoroaster mengajarkan kepada pemeluknya untuk menolong tuhannya mengalahkan roh jahat dengan melakukan pemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik; kebersiahan hati yang pemurah dan dermawan; pengasih kepada binatang terutama hewan yang berguna ……….. . Surga seperti tempat reuni keluarga besar dan kehidupan di dalamnya, merupakan penyempurnaan alami dari kehidupan di dunia serta kenikmatan yang abadi dengan tidak lagi memiliki nafsu makan dan merupakan tempat roh memuji Ahura Mazda. …… disebutkan dalam Gathas bahwa akan terdapat sebuah alam setelah kematian. Dalam pemahaman Zoroastrianisme, setiap orang akan mengalami penghakiman setelah meninggal.  Penganut Zoroaster meyakini bahwa ketika seseorang meninggal, ia harus dapat membuktikan dirinya telah melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan. ……..

Compiled by: I Dewa Putu Sedana, Drs, MBA
(Dari Beberapa Sumber)

0 komentar:

Posting Komentar