Kamis, 20 Desember 2018

BUDHA ZEN (3)




Sesepuh Zen.
Sesepuh Budha dari India adalah sebagai berikut :
1.     Mahakasyapa
2.     Ananda
3.     Sanakavasa
4.     Upagupta
5.     Dhritaka
6.     Michchaka
7.     Vasumitra
8.     Buddhanandi
9.     Buddhamitra
10.  Parshva
11.  Punyayashas
12.  Ashvaghosha
13.  Kapimala
14.  Nagarjuna
15.  Kanadeva
16.  Rahulata
17.  Sanghanandi
18.  Gayasata
19.  Kumarata
20.  Jayata
21.  Vasubandhu
22.  Monorhita
23.  Haklena
24.  Aryasimha
25.  Basiasita
26.  Punyamitra
27.  Prajnatara
28.  Bodhidarma

Aliran Zen dianggap bermula dari Bodhidharma sebagai sesepuh Zen. Ia berasal dari India dan merupakan murid generasi ke-28 setelah Mahakassapa (dalam Bahasa Pali; bahasa Sanskerta:Mahakasyapa). Sekitar tahun 520 dia pergi ke Tiongkok Selatan di kerajaan Liang. Dia kemudian bermeditasi selama 9 tahun menghadap dinding batu di vihara di Luoyang. Di sinilah juga dipercayai berdirinya vihara Shaolin



Agama  Buddha Cha”n (Cha”n Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Agama Buddha Cha”n mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Bagi agama Buddha Cha”n, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian pencerahan. Ajaran Bodhidharma diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai “Transmisi Bathin/Pewarisan Bathin” terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah Hui Neng (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.

Sesepuh Aliran Zen dari Cina, yakni :
1.     Bodhidharma (lahir sekitar 440 - meninggal sekitar 528)
2.     Hui K`o (lahir 487 - meninggal 593)
3.     Jianzhi SengTs`an (meninggal 606)
4.     Dayi Tao Hsin(lahir 580 - meninggal 651)
5.     Hung Jen (lahir 601 - meninggal 674)
6.     Hui Neng / Wei Lang(lahir 638 - meninggal 713)

Dasar Filsafat Cha’n/Zen
Dasar dari Cha’n atau Zen sering diungkapkan sebagai berikut :
1.      Diberikan di luar pelajaran
2.      Tanpa mengunakan kata-kata tulisan
3.      Langsung diarahkan kepada hati manusia
4.      Mengenal sifat asli itu sendiri dan menjadi Buddha

Latihan sesungguhnya memainkan peranan yang sangat penting. Yang dibutuhkan ialah pengalaman nyata dan bukan bergantung pada bahasa tertulis atau lisan belaka. Dalam aliran Cha’n, latihan adalah usaha perseorangan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh jika seseorang hanya menggeluti teori dan tidak melakukan latihan yang nyata. Hal ini sama seperti menuntun seekor kuda ke air; jika menolak untuk minum, akhirnya kuda itu akan mati kehausan. Demikian pula, doktrin yang tercatat dalam sutra agama Buddha hanya dapat menunjukkan kita jalan menuju Kesunyataan.

Alam tidak membedakan kesucian dari kekotoran, atau kecantikan dari kejelekan. Subjektivitas perasaan suka dan tidak suka dalam diri kitalah yang menimbulkan perbedaan itu. Dikatakan dalam Sutra Vimalakirti, “Pikiran yang suci akan menghasilkan tanah yang suci.” Akan tetapi, pikiran kita dikotori lima pengotor (objek-objek yang kita alami melalui lima indria) dan ditipu oleh tampak luar seluruh fenomena, yang menghalangi kita untuk melihat sifat murni seluruh dharma. Apa yang kita anggap kotor adalah bersih bagi seorang guru Cha’n yang telah cerah, karena pikirannya suci. Setiap
tempat adalah tanah suci baginya; oleh karena itu, ia dapat merasa bebas dan tenang ke mana pun ia pergi.



Kuil-Kuil Zen
Kuil Toudaiji, salah satu contohnya yang dibangun pada tahun 728 merupakan banguan kayu tertua di dunia. Bila menyaksikan  salah satu kuil Zen yang sangat terkenal yaitu Eiheiji Kuil  di Prefektur Fukui, kita dapat melihat dengan jelas refleksi dari ajaran Zen tersebut. Di komplek kuil yang sangat luas terasa sangat asri dan menyatu dengan alam. Pohon-pohon besar berumur ratusan tahun berdiri tegak menjulang lurus ke atas. Seperti umumnya bangunan kuil di Jepang yang sepenuhnya terbuat dari kayu terlihat sangat bersih dan terawat. Kebersihan merupakan bagian dari ibadah dan tiap hari puluhan orang (calon rahib) tampak menggosok lantai kayu sampai mengkilat dan sebagian orang lagi tampak sibuk mencabut rumput dan tanaman penganggu di taman. Ketika memasuki bangunan utama yang memiliki lorong yang sangat banyak dan panjang, sandal dan sepatu harus dilepas dimasukkan ke dalam kantong plastik dan di bawa selama berkunjung di areal dalam bangunan.

Artikel selanjutnya : 
Kalau di Indonesia dan beberapa negara lain yang mayoritas Buddha mengenal hari Waisak sebagai hari raya besar umat Buddha, di Jepang hari raya ini sama sekali tidak dikenal dan juga tidak dirayakan. .......... Kalau di Indonesia dan beberapa negara lain yang mayoritas Buddha mengenal hari Waisak sebagai hari raya besar umat Buddha, di Jepang hari raya ini sama sekali tidak dikenal dan juga tidak dirayakan. .......... . Kuil Zen-Buddhisme juga sebagai penganjur terhadap seni sajak (puisi), lukisan, kaligrafi, dan seni merangkai bunga (ikebana).............. Tujuan akhir mempelajari agama Buddha adalah untuk mencapai keadaan kedamaian sempurna, Nirvana. ..................... Pengetahuan akan menyeret orang-orang untuk memiliki pikiran yang menciptakan perbedaan. Orang-orang akan kehilangan diri di dalam dunia pengetahuan, bahkan kadang-kadang hingga pada kondisi dikendalikan oleh pandangan pembangkangan ............

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 

0 komentar:

Posting Komentar