Kamis, 27 Februari 2014

JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (1)






Pengantar
Artikel berikut ini ditujukan untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan kita masing-masing. Falsafah Agama ini tidak mungkin bisa dikembangkan di Indonesia yang berlandaskan Pancasila yang pada Sila Pertamanya jelas menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. karena  Jain adalah agama yang Atheis.  Anda mungkin akan heran seperti juga halnya saya sendiri, bahwa disalah satu sudut dunia ini, masih bisa hidup tanpa pernah diusik oleh  pemerintah atau penganut agama lain sebuah Agama yang Atheis. Dan ajarannya bukan hanya sekedar diucapkan saja tetapi “dilaksanakan”, seperti misalnya pendetanya melepaskan diri dari keterikatan keinginan fikiran, sehingga beliau hidup tanpa mengenakan busana. Dan untuk pengendalian fisik dan fikirannya mereka senantiasa melaksanakan pola hidup vegetarian, puasa dan tidak tanggung-tanggung, masih ada yang melaksanakan puasa selama satu tahun  pada tahun 1998 yang lalu. Adalah suatu kemuliaan bagi penganut Jain apabila  membiarkan dirinya mati kering-kerontang kelaparan. Semoga bermanfaat.


Pendeta Jain menolak memakai barang-barang duniawi
Jainisme.
 Jainisme adalah sebuah agama kuno di India yang mana dikatakan berasal dari keluarga Dharma. Walaupun pengikutnya adalah kelompok minoritas dengan lebih kurang 4,9 juta pengikut di India, pengaruh pengikut Jain pada agama, etika, politik, dan ekonomi cukup besar. Penyebaran luas konsep falsafah India seperti karma, ahimsa, mokhsa, dan reinkarnasi, dilaksanakan juga oleh penganut Jain atau dikembangkan dari sekolah gagasan Shramana, tempat asalnya Jainisme.  Jainisme  adalah agama tua di India yang asal-muasalnya bersisian dengan Hindu. Beberapa kemiripan ajaran Jainisme dan Hindu menimbulkan anggapan kalau agama ini salah satu sekte dari Hindu.
Perbedaan mendasar antara Jainisme dan Hindu terlihat pada Astika dan Nastika. Penganut agama di India dibedakan atas 2 prinsip tersebut. Yang memegang prinsip Astika  menerima otoritas Weda sebagai kitab suci serta melibatkan kepercayaan Brahmani. Nyaya, Mimamsa, dan Yoga termasuk ajaran-ajaran berdasar Astika, dan berarti golongan Hindu.
Sementara penganut agama  yang berprinsip Nastika menolak Weda dan kitab-kitab yang dipakai oleh pemeluk Hindu. Jainisme termasuk kelompok ini dan lebih mendasarkan kepercayaan mereka yang anti kekerasan.
Sebutan “Jain” menurut Sri Krisna Saksena, berasal dari kata “Jina” (Sansekerta.), yang berarti pemenang atau yang mengalahkan. Artinya, berhasil mengalahkan atau mengatasi secara tuntas kungkungan atau belenggu penyakit dan penderitaan dalam kehidupan nyata ini. Orang semacam ini boleh disebut sebagai Jain, atau pemenang.
Bagi Jainisme, kehidupan di dunia ini diabadikan atau dibuat kekal oleh peralihan Jiva yang secara esensial telah menyebabkan keburukan dan penderitaan. Oleh karena itu, tujuan hidup sebenarnya adalah untuk mengakhiri siklus kehidupan atau rangkaian kelahiran kembali itu, yang baru bisa tercapai apabila manusia berhasil memiliki pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar ini isinya adalah hal-hal yang mengandung kelepasan.
Pendiri dari komunitas Jain adalah Vardhamana. Dia memperoleh pencerahan pada 420 SM. Jainisme memiliki banyak kemiripan dengan  Hinduisme dan  Budhisme yang lahir di area yang sama.


Patung Mahawira di Kuil Vimalsha di Rajasthan

Jainisme tidak mempermasalahkan keberadaan Tuhan  atau mahluk lain yang lebih tinggi dari manusia sempurna. Jiva adalah sesuatu tanpa permulaan dan tanpa akhir. Jiva dikategorikan dalam tiga kategori: Jiva yang belum mengalami perubahan; Jiva yang sedang mengalami perubahan dan Jiva yang sudah bebas dari kelahiran kembali.
√Égama  Jain mengajarkan penghormatan yang sangat tinggi untuk segala bentuk kehidupan, ajaran yang ketat mengenai vegetarian, samadi , tanpa kekerasan meski dalam pembelaan diri, dan menentang peperangan. Jainisme adalah agama kasih sayang. Cinta kasih terhadap semua kehidupan, baik manusia atau bukan, adalah hal  yang utama dalam Jainisme. Pembunuhan manusia tanpa  alasan, meskipun dengan alasan bahwa orang itu telah melakukan kejahatan  tidak dapat dibenarkan
Menurut keyakinan Jain, alam semesta tidak pernah tercipta dan tidak pernah musnah. Ia abadi namun berubah, karena melalui siklus-siklus tanpa akhir. Masing-masing siklus ini terbagi dalam enam zaman (yuga). Masa kini adalah zaman kelima dari siklus ini, yang bergerak turun. Zaman disebut “Aaro” seperti zaman pertama disebut “Pehela Aara”, zaman kedua disebut “Doosra Aara” dan seterusnya. Zaman terakhir adalah Chhatha Aaro” atau zaman keenam. Semua zaman ini memiliki durasi tetap ribuan tahun. Saat tingkat terendah tercapai, Jainisme juga akan lenyap seluruhnya. Maka, pada siklus selanjutnya, agama Jain akan ditemukan kembali dan di kenalkan kembali oleh para pemimpin baru yang disebut Tirthankara (pembuat lintasan), dan akan lenyap lagi pada akhir siklus, dan seterusnya.
Sekalipun pengikutnya sangat sedikit dibandingkan penduduk India, agama ini masih eksis dengan pengikut-pengikutnya yang terpencar diberbagai wilayah. Ajaran ini menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. . Jain menegaskan bahwa ahimsa termasuk sikap tanpa kekerasan terhadap binatang dan manusia. Akibat dari kepercayaan ini, mereka mengikuti pola “vegetarian” alias cuma makan tetumbuhan, termasuk rumput dan alang-alang. Tapi, penganut yang taat kepada agama Jain ini berbuat lebih jauh lagi dari itu. Nyamuk yang menggigit kulit dibiarkan semau-maunya. Meski lapar, tidak bakalan mau makan di tempat gelap. Bukankah kalau gelap jangan-jangan bisa kemasukkan lalat atau tertelan nyamuk? Makanya, kalau penganut Jain mau menyapu  jalan atau pekarangan, dia akan rogoh kantong dan mengupah orang lain melakukannya, takut siapa tahu menginjak serangga atau cacing.
Menurut tradisi Jaina, garis perguruan yang sangat panjang sejak zaman pra-sejarah diturunkan dimana keyakinan ajaran ini diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Guru-guru yang telah meneruskan ajaran-ajaran Jaina ini berjumlah dua puluh empat orang, yang disebut Tirthankara atau penyebar keyakinan dan yang telah mendapat pencerahan.
Jaina percaya dengan pluralisme Jiva. Terdapat Jiva-Jiva sebanyak tubuh hidup yang ada. Tidak hanya Jiva dalam binatang, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan bahkan dalam debu. Hal ini juga diterima dalam ilmu pengetahuan modern. Tidak semua Jiva   memilki tingkat kesadaran yang sama, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Semaju apapun indra-indranya, Jiva terbelenggu dalam kesadaran yang terbatas. Tetapi setiap Jiva mampu mencapai kesadaran tak terbatas, kekuatan dan kebahagian. Mereka dihalangi oleh karma, seperti matahari dihalangi oleh awan. Karma dapat menyebabkan belenggu Jiva. Dengan menyingkirkan karma, Jiva dapat menyingkirkan belenggu dan mendapatkan kesempurnaan alamiah.
Jaina juga menghormati semua jenis pemikiran. Sistem ini menunjukkan bahwa setiap objek mempunyai aspek-aspek yang tak terbatas yang ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan dari luar dirinya sendiri atau dari pandangan yang berbeda. Mengingat keterbatasan pikiran, tidak ada satu pikiran berlaku benar bagi semua benda atau hal. Kita harus belajar menjaga dan memprtahankan pikiran kita masing-masing dengan cara menghormati kemungkinan kebenaran pendapat atau pemikiran orang lain.
Sedangkan Karma adalah pengikat yang menggabungkan Jiva dengan tubuh. Keyakinan yang benar, perbuatan yang benar, pengetahuan yang benar membentuk jalan yang benar untuk mencapai pembebasan yang merupakan efek dari ketiganya tadi. Ketiganya ini merupakan triratna (tiga permata) bagi Jainisme. Bagi Jain setiap Jiva atau mahluk spiritual berhak disembah. Karena itu mereka tidak menyembah Tuhan.

Artikel selanjutnya : 
Kebebasan Jiva dan kesamaan semua kehidupan dengan penekanan yang khusus dengan dasar tanpa kekerasan. Mengekang diri (vrata) merupakan cara bagi  penganut Jainisme untuk mencapai moksha ......... Tirthankara muncul di dunia, yang mengajarkan cara untuk mencapai moksha, atau kebebasan.   Tirthankara bukanlah reinkarnasi dari Tuhan. Dia adalah Jiwa biasa, yang terlahir sebagai manusia, ........... Tirthankara bukanlah pendiri sebuah agama, tetapi seorang guru yang maha tahu, yang hidup  beberapa kali dalam sejarah kehidupan manusia ........ Kaum Jain percaya bahwa apabila jasad manusia mati, sang Jiva tidaklah ikut-ikutan mati bersama sang jasad tapi beralih (reinkarnasi) ke badan lain (tak perlu badan manusia) ...........

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 

0 komentar:

Posting Komentar