Kamis, 27 Februari 2014

JAINISME , AGAMA YANG ATHEIS (2)





Ringkasan
Didirikan sekitar 2,500 tahun yang lalu di  India. Pendiri : Nataputta Vardhamana, dikenal dengan “Mahavîra” (Pahlawan Agung). Penganut sekitar 4,9 juta Jiva terutama di India Tengah dan Selatan, terutama di Gujarat dan Mumbai.
Kebebasan Jiva dan kesamaan semua kehidupan dengan penekanan yang khusus dengan dasar tanpa kekerasan. Mengekang diri (vrata) merupakan cara bagi  penganut Jainisme untuk mencapai moksha. Falsafah Jainisme berdasarkan kebenaran-kebenaran yang abadi dan universal. Penganut Jainisme menolak makanan yang diperoleh dengan kekerasan. Penganut yang mematuhi ajaran Jainisme tidak makan, minum, atau membuat perjalanan setelah matahari terbenam  dan mereka selalu  bangun sebelum matahari terbit.  Mahavira, mengajarkan kepada pengikutnya untuk memelihara tiga mustika  yaitu :
  1. Keyakinan yang benar
  2. Pengetahuan yang benar
  3. Perbuatan yang benar yang  dijabarkan dalam   lima “sumpah besar” (maha-vrta),  berupa:
a. Ahimsa (tanpa kekerasan) fisik, mental dan verbal
b. Satya (kebenaran, kejujuran)
c. Asteya (tidak mencuri)
d. Aparigraha  (tidak mengejar harta duniawi).
e. Brahmacarya  (kontrol pikiran).
Jain tidak mempercayai bahwa jagat raya ini diciptakan oleh Tuhan.
Sekte-Sekte Jainisme: Digambara, Shvetambara, Sthanakavasis.
Pada Kuil Digambara, terdapat patung Tirthankara yang tidak dihias dan tidak dicat. Sedangkan di Kuil Svetambara patung Tirthankara selalu dihias, dengan cat atau kaca dan terkadang  dengan hiasan emas, perak dan permata  didahi. Hiasan seperti ini sangat lazim. Seorang   Tirthankara muncul di dunia, yang mengajarkan cara untuk mencapai moksha, atau kebebasan.   Tirthankara bukanlah reinkarnasi dari Tuhan. Dia adalah Jiwa biasa, yang terlahir sebagai manusia, dan memperoleh sebutan seorang Tirthankara sebagai hasil dari usaha yang keras dari penebusan dosa, dan meditasi. Karena itu seorang  Tirthankara bukanlah seorang awatara (penjelmaan Tuhan), tetapi Jiva yang mencapai kesucian puncak. Tirthankara bukanlah pendiri sebuah agama, tetapi seorang guru yang maha tahu, yang hidup  beberapa kali dalam sejarah kehidupan manusia
Buku Suci Utama :  Agamas Jain dan Siddhãnta; yang mengajarkan penghormatan yang sangat tinggi kepada bentuk kehidupan,  ajaran yang ketat mengenai vegetarian, samadi , tanpa kekerasan meski dalam pembelaan diri, dan menentang peperangan. Jumlah buku suci Jain  bervariasi dari 33 sampai 84 buku tergantung kepada masing-masing sekte.   Kitab-kitab Jainisme ditulis dalam waktu yang amat panjang dan kitab yang paling dikenal ialah Tattvartha Sutra, atau “Buku Kenyataan” yang ditulis oleh Umasvati (atau Umasvami), seorang cendikiawan dan pendeta yang hidup pada lebih dari  18 abad  yang lalu.
Hari Raya : Mahavira Jayanti, Paryushana. Diwali. Kartak Purnima, Mauna Agyaras. Puasa merupakan hal yang sangat lazim dalam spiritualitas Jain. Puasa dapat diklasifikasikan menjadi : Puasa penuh, Puasa sebagian, Vruti Sankshepa, Rasa Parityaga, Puasa Agung,
Tujuan penganut Jain untuk hidup sedemikian rupa sehingga  jiva tidak lagi terkena karma berikutnya,. Jainisme berusaha keras untuk merealisasikan sebagai manusia sempurna yang tertinggi, yang intinya adalah bebas dari rasa sakit dan bebas dari kematian dan kelahiran. Menurut Jainisme, hanya ada satu jalan untuk mencapai hal itu: yaitu dengan jalan puasa sampai meninggal, yang disebut dengan santhara


Kepercayaan Jainisme
Kebebasan Jiva dan kesamaan semua kehidupan dengan penekanan yang khusus dengan dasar tanpa kekerasan. Mengekang diri (vrata) merupakan cara bagi  penganut Jainisme untuk mencapai moksha, atau kesadaran sifat Jiva yang sebenarnya. Jainisme mengistilahkan seorang penganut  biasa sebagai shravak / pendengar. Sangha Jainisme, terdiri dari empat bagian:
  1. Biarawan ,
  2. Biarawati (sadhvi)
  3. Penganut lelaki biasa
  4. Penganut perempuan biasa (shravika).
Masyarakat Jainisme terdiri atas pendeta, biarawan/biarawati dan orang kebanyakan. Hanya ada lima disiplin spiritual didalam jainisme. Bagi pendeta disiplin ini benar-benar ketat, kaku dan sangat fanatik untuk dilaksanakan. Sementara untuk umum hal itu bisa di modifikasi. Kelima sumpah disebut “sumpah besar” (maha-vrta), sementara bagi orang umum disebut ‘sumpah kecil’ (anu-vrta). Kelima sumpah tersebut adalah :
  1. Ahimsa (Non kekerasan),
  2. Satya (kebenaran di dalam   pikiran),
  3. Asteya (Tidak mencuri),
  4. Aparigraha      (ketakmelekatan dengan pikiran, perkataan dan prbuatan). Dalam hal      penganut umum aturan ini bisa dimodifikasi dan disederhanakan
  5. Brahmacharya (berpantang dari      pemenuhan nafsu baik pikiran, perkataan maupun perbuatan).
Jaina mengklasifikasikan pengetahuan menjadi :
  1. Pengetahuan langsung (aparoksa) yang terbagi menjadi
    1. Avadhi jnana adalah kemampuan melihat hal-hal yang tidak nampak oleh indra.
    2. Manahparyaya jnana adalah telepathi.
    3. Kevala-jnana adalah kemahatahuan.
  2. Pengetahuan antara (paroksa).; yang terbagi menjadi :
    1. Mati yang mencakup pengetahuan perseptual dan inferensial
    2. Sruta yang berarti pengetahuan yang diambil dari otoritas., dan merupakan tiga jenis pengetahuan langsung
Disamping kelima pengetahuan benar tersebut diatas, ada juga tiga pengetahuan salah, yaitu : Samshaya atau keragu-raguan,Viparyaya atau kesalahan Anandhyavasaya atau pengetahuan salah melalui kesamaan.
Pengetahuan  dibagi lagi  menjadi dua jenis,
  1. Pramana atau pengetahuan tentang suatu benda seperti apa adanya
  2. Naya atau pengetahuan tentang suatu benda didalam hubungannya dengan yang lainnya.  Naya berarti titik pandang atau pendapat dari mana kita membuat pernyataan tentang sesuatu .  Semua kebenaran adalah relatif terhadap pandangan kita. Pengetahuan parsial merupakan salah satu aspek yang tak terhitung banyaknya tentang suatu benda disebut “naya” . Terdapat tujuh naya yang empat pertama adalah artha-naya, kemudian tiga terakhir disebut sabda-naya.
Dalam beberapa hal doktrin Mahavira amat mirip dengan ajaran Buddha dan Hindu. Kaum Jain percaya bahwa apabila jasad manusia mati, sang Jiva tidaklah ikut-ikutan mati bersama sang jasad tapi beralih (reinkarnasi) ke badan lain (tak perlu badan manusia) Doktrin perpindahan Jiva ini adalah salah satu dasar pemikiran faham Jainis. Jainisme juga percaya kepada karma, doktrin tentang etika konsekuensi dari sesuatu perbuatan akan menimpanya pula di masa depan. Untuk mengurangi bertambahnya beban dosa pada Jiva, yakni dengan cara menyucikannya, yang merupakan tujuan utama dari ajaran agama Jain. Mahavira mengajarkan, hal ini bisa dicapai dengan cara menjauhi kesenangan. Khusus buat pendeta-pendeta Jain, dianjurkan melaksanakan hidup dengan kesederhanaan yang ketat. Adalah suatu kemuliaan apabila seseorang membiarkan dirinya mati kering-kerontang kelaparan.
Kaum Jain menghormati kemerdekaan setiap makhluk hidup, dan juga memahami saling ketergantungan di antara semua makhluk dan ketergantungannya dengan lingkungan dimana mereka hidup. Perusakan yang tidak perlu akan ketiga hal ini berpengaruh negatif pada Jiva yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhinya. Dan sesungguhnya kita tahu bahwa ia berpengaruh jangka panjang pada ekologi.

Artikel selanjutnya : 
....... semua kehidupan mempunyai Jiva yang abadi ........... setiap kehidupan , betapapun primitifnya, adalah juga sebuah Jiva. ......... setiap kehidupan , betapapun primitifnya, adalah juga sebuah Jiva. Bagi Jains, setiap Jiva terkait dengan sesuatu, dan terlibat dalam putaran kelahiran dan kematian sejak awal. Jiva tidaklah muncul dari sesuatu yang sempurna, yang kemudian terlibat dalam perputaran kelahiran dan kematian. ........ Penganut Jainisme menolak makanan yang diperoleh dengan kekerasan. Penganut yang mematuhi aja

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, Drs, MBA.

0 komentar:

Posting Komentar