Kamis, 27 Februari 2014

JAINISME , AGAMA YANG ATHEIS (4)







Konsep Jainisme
Dalam Jainism mempunyai beberapa keyakinan,diantaranya:
  1. Meyakini adanya 24 garis perguruan spiritual dimana guru Mahâvîra adalah guru yang terakhir  yang harus dihormati diatas yang lainnya.
  2. Meyakini bahwa dalam menghormati semua kehidupan, seseorang harus tidak menyakiti mahluk lain, besar ataupun kecil dan bahkan pembunuhan yang tidak disengajapun akan mengakibatkan karma.
  3. Meyakini Tuhan bukanlah pencipta, Ayah atau teman. Konsep manusia seperti itu adalah keterbatasan.
  4. Meyakini Jiva   adalah abadi dan individual dan oleh karena itu orang harus menaklukkan  dirinya sendiri dengan usahanya sendiri, untuk mencapai moksah, atau kebebasan dari lahir dan kematian.
  5. Meyakini bahwa penaklukan diri sendiri bahya bisa dicapai  dengan disiplin samadi dan pengamatan religius yang ketat, dan bahwa tanpa samadi  akan memperoleh pahalanya dalam kehidupan mendatang.
  6. Meyakini prinsip  bahwa yang mengatur kehidupan yang selanjutnya adalah karma, bahwa perbuatan kita, baik yang baik maupun yang buruk membelenggu kita  dan karma ini dapat dilebur dengan penyucian, penebusan dosa
  7. Meyakini bahwa  Ågamas Jain dan  Siddhânta sebagai buku suci yang membimbing moral manusia dan kehidupan spiritual.
  8. Meyakini Tiga Mustika: pengetahuan yang benar, keyakinan yang benar dan perbuatan yang benar .
  9. Meyakini bahwa tujuan utama dari moksah  adalah kebebasan abadi dari saµsâra,  “roda kelahiran dan kematian,” dan komitmen untuk memperoleh Pengetahuan yang Agung.
Selain itu mereka juga meyakini :
  1. Menghormati setiap makhluk hidup seperti yang Anda lakukan untuk diri sendiri, tidak merugikan satu sama lain  dan bersikap baik kepada semua makhluk hidup.
  2. Setiap Jiva lahir sebagai surgawi, manusia, sub-manusia atau neraka  sesuai dengan karma mereka  sendiri sebelumnya.
  3. Setiap Jiva adalah arsitek kehidupannya  sendiri, di dunia atau akhirat.
  4. Ketika Jiva dibebaskan dari karma, ia menjadi bebas untuk  mencapai kesadaran tertinggi, mengalami pengetahuan tak terbatas, persepsi, kekuasaan, dan kebahagiaan.
  5. Tidak ada Tuhan  pencipta , pemilik, pemelihara, atau perusak. Alam semesta diatur sendiri, dan setiap Jiva memiliki potensi untuk mencapai kesadaran tertinggi  (siddha) melalui usaha sendiri.
  6. Non-kekerasan (berada di kesadaran Jiva bukan kesadaran tubuh), adalah dasar dari pandangan benar, kondisi pengetahuan yang benar dan  perilaku yang benar. Ini menyebabkan keadaan yang tidak terikat pada hal-hal duniawi dan non-kekerasan, ini termasuk belas kasih dan pengampunan dalam pikiran, kata-kata dan tindakan terhadap semua makhluk.
  7. Jainisme menekankan pentingnya mengendalikan indera termasuk pikiran
  8. Menjalani kehidupan yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Non-posesif (tanpa memiliki) adalah menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan untuk memiliki.
Jain Dharma dicirikan sebagai berikut :
  1. Sabar dan Pengampun
  2. Kerendahan hati
  3. Keterusterangan
  4. Kemurnian
  5. Kebenaran
  6.  Pengendalian diri, pengendalian indera dan pikiran 
Dalam refleksi ini, praktisi berpikir tentang kesulitan untuk mempraktekkan semua di dunia praktis dan bekerja melalui tantangan saat ini tergantung pada kemampuan seseorang dan keadaan.  Jain didorong untuk merefleksikan pikiran-pikiran ini dengan empat kebajikan berikut atau sistem nilai yang jelas yang berlaku. Mereka adalah:


  1. Perdamaian, cinta dan persahabatan untuk semua.
  2. Apresiasi, menghormati dan menyenangkan bagi prestasi orang lain
  3. Belas kasihan bagi Jiva yang menderita.
  4. Ketenangan dan toleransi dalam berurusan dengan, kata-kata,  pikiran dan tindakan
Jalur  Dharma (kebenaran), ajaran yang diajarkan  Mahavira, Dia mengajarkan kepada pengikutnya untuk memelihara tiga mustika  yaitu :
  1. Keyakinan yang benar.
  2. Pengetahuan yang benar.
  3. Perbuatan yang benar
Dari tiga mustika ini  yang berhubungan dengan perbuatan yang benar , dijabarkan dalam   lima “sumpah besar” (maha-vrta), lima janji yang harus diikuti oleh pendeta Jain yang merupakan sumpah berupa:
  1. Ahimsa (tanpa kekerasan) fisik, mental dan verbal
  2. Satya (kebenaran, kejujuran)
  3. Asteya (tidak mencuri)
  4. Aparigraha  (tidak mengejar harta duniawi).
  5. Brahmacarya  (kontrol pikiran).
Di dalam kasus kependetaan disiplin ini benar-baner ketat, kaku dan sangat fanatik.
Janji yang lebih kecil (Anuvrata), yang diikuti oleh masyarakat biasa. Ini merupakan janji yang kurang begitu ketat. Masyarakat Jainisme terdiri atas pendeta, biarawan (wati) dan orang kebanyakan. Sementara dalam kasus orang kebanyakan hal itu bisa di modifikasi. Seorang jain tidak akan makan kentang, wortel, bawang, dan sayuran lainnya

Artikel selanjutnya : 
Jain tidak mempercayai bahwa jagat raya ini diciptakan oleh Tuhan. Bila Tuhan menciptakan jagat raya, dimanakah Dia sebelum dunia diciptakan, dan dimanakan Dia sekarang. Tidak ada mahluk apapun yang memiliki kemampuan untuk menciptakan dunia ini. Bagaimana mungkin Tuhan yang tidak material mampu menciptakan sesuatu yang material?.............. sekte ini berpegang bahwa      seorang pendeta hendaknya tidak memiliki sesuatu, bahkan juga pakaian,      jadi mereka hanya memakai pakaian dagingnya sendiri. Mereka meyakini bahwa      pengorbanan seperti ini tidklah mungkin untuk seorang wanita. Sekte ini      percaya bahwa wanita tidak dapat mencapai kebebasan, sebelum dia terlahir      kembali sebagai pria, .........

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 

0 komentar:

Posting Komentar