Sabtu, 14 Desember 2013

KISAH JAYAPRANA, MENDUNG KELABU DI LANGIT KALIANGET





Walaupun wilayah Kalianget sangat kering dan tandus, hal tersebut bukanlah merupakan masalah bagi seluruh rakyat / panjak beliau, karena seluruh panjak beliau telah mengetahui Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti memiliki suatu pusaka sakti yang mampu menimbulkan mata air.

Oleh karena di sektor pertahanan dan keamanan Bali Barat Laut sudah dapat dirasakan mantap dan terkendali, maka otomatis diikuti tuntutan perbaikan ekonomi.  Produksi pertanian perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Maka sektor pengairan mulai menjadi pemikiran semua pihak. Dengan adanya pusaka yang ampuh dan sakti milik Ida Sang Prabu, yang telah terbukti keampuhan dan kesaktiannya ketika menciptakan mata air “ Merta Ketupat “ atau Yeh Ketupat, maka masalah di bidang pengairan dianggap sangat ringan dan rakyat sangat optimis akan mengalirnya air untuk pengairan. Maka rakyatpun mulai mohon kepada Ida Sang Prabu agar beliau berkenan mengadakan mata air untuk pengairan tanah – tanah pertanian. Dengan senang hati Ida Sang Prabu berkenan mengabulkan permohonan panjak beliau. Maka beliau memerintahkan rakyat agar bergotong royong membuat saluran air, yang ditujukan ke kaki Gunung Batukaru / Bukit Keregan. Setelah saluran itu selesai,

Ida Sang Prabu berangkat menuju kaki gunung Batukaru beserta pusaka ampuh beliau demi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat beliau. Setelah sampai di kaki gunung Batukaru, manakala beliau bersiap – siap untuk menusukkan pusaka ke kaki gunung Batukaru, tiba – tiba terdengarlah suara gaib dari  Ida Betara Gunung Batukaru dan beliau sangat marah serta melarang niat Sang Prabu. Apabila larangan ini tidak diindahkan, maka ancamannya sangat berat sekali, yaitu Ida Sang Prabu akan mengalami kehancuran total, Kerajaan Kalianget akan  berantakan.  Mendengar suara gaib tersebut, maka Ida Sang Prabu mengurungkan niatnya untuk menusuk kaki gunung Batukaru, dan beliau kembali ke Keraton Kalianget tanpa hasil apa – apa alias gagal. Padahal seluruh rakyat Kalianget telah menunggu dengan penuh harap akan kedatangan aliran air untuk mengairi sawah – sawah yang kering kerontang dan sangat tandus . Akan tetapi air yang ditunggu – tunggu tidak kunjung datang. Lama – kelamaan saluran air yang telah dipersiapkan sebelumnya ditumbuhi semak – semak belukar yang sangat lebat sekali dan saluran air tersebut diberi nama julukan “ Tukad Mendaum “ : sungai yang penuh dengan semak – semak belukar, bukannya air. Mendaum bersal dari kata Manda yang berarti dangkal, Aum/ Aub berarti lebat penuh dengan semak belukar. Nama ini diberikan karena aliran sungai yang telah di buat oleh Raja bersama rakyat lama tidak berair, akibatnya di kanan kirinya tumbuh semak belukar yang rimbun, pada aliran sungai terdapat sampah dan lelongsoran tanah sehingga menjadi dangkal. Mandaung yang berasal dari kata manda yang artinya keluar atau muncul, Aung adalah mesatria Raja, Mendaum berarti atau di artikan baru muncul atau di perlihatkan kesaktian Raja, yaitu dengan menikamkan keris pusaka Ki Baan Kau di kaki gunung Watukaru barulah muncul mata air yang mengaliri saluran air yang telah di gali sebelumnya, sejak saat itu sungai tersebut di beri nama sungai “ Mendaum”.

Karena seringnya para panjak beliau menyebut – nyebut nama Tukad Mendaum, yang ditumbuhi semak belukar, Ida Sang Prabu mulai berpikir lagi mengenai nasib seluruh panjak beliau di wilayah Kalianget. Ibarat makan Buah Simalakama : dimakan salah, tidak dimakan juga salah. Kalau kaki gunung Batukaru  ditusuk oleh Ida Sang Prabu, maka Ida Sang Prabu akan terkena kutukan Ida Betara Gunung Batukaru dan Kerajaan Kalianget akan mengalami kehancuran, dilain pihak, bila permohonan panjak beliau tidak dipenuhi, berarti panjak akan mati kelaparan,  panjak beliau akan hancur. Setelah Ida Sang Prabu berpikir dan mempertimbangkan masak – masak, maka diambil keputusan bahwa beliau akan mengabulkan permintaan panjak beliau, demi terwujudnya pengairan / irigasi yang baik, untuk kemakmuran panjak beliau, hingga panjak beliau terhindar dari  bahaya kelaparan / kehancuran. Demi keselamatan panjak beliau, beliau rela hancur.  Demikianlah kebulatan tekad beliau dalam memperjuangkan kepentingan / keselamatan seluruh panjak. Karena Prabu tanpa panjak tiada artinya. Maka berangkatlah Ida Sang Prabu menuju kaki Gunung Batukaru, dan tanpa berpikir panjang  lagi, Ida Sang Prabu langsung menancapkan keris pusaka beliau pada kaki Gunung Batukaru, maka menyemburlah air bersih dan mengalir dengan derasnya mengikuti saluran air yang telah disiapkan oleh para panjak beliau jauh sebelumnya.  Aliran air tersebut, sekarang dikenal dengan nama “ Tukad Mendaum“ di desa Kalianget yang mampu mengaliri seluruh areal persawahan di sebelah timur Seririt dan di sebelah barat Banjar. Dengan demikian produksi persawahan melimpah ruah dan seluruh panjak Ida Sang Prabu dapat menikmati hasil persawahannya secara maksimal.

Karena Ida Sang Prabu telah berani melanggar larangan Ida Betara Gunung Batukaru, maka Ida Betara di Gunung Batukaru mengeluarkan kutukannya : “ Ih kamu Kaleran, beraninya kau menusuk aku, terkutuklah kau, semoga keturunanmu kelak terpencar dimana–mana seperti ulat nangka dan banyak kerja tetapi kurang pangan “ Begitulah kutukan Ida Betara Gunung Batukaru terhadap I Dewa Gede Kaleran Sakti,




Jaya Prana Kecil dalam Drama Tari

Awal dari kisah Jaya Prana adalah akibat dari  keberanian Prabu yang tidak mengindahkan larangan sehingga lambat laun kutukan sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya. Rakyat dilanda wabah penyakit tapi tidak sampai di keraton. Ida Betara Gunung Batukaru menjelma menjadi seorang anak putri yang dipungut oleh I Gede Bendesa yang diberi nama Ni Layon Sari.  Dan menjadi seorang anak laki-laki.  Pada saat Sang Prabu meninjau rakyatnya yang terkena wabah, anak kecil tersebut dipungut dan diberi nama I Jaya Prana. I Jaya Prana tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, patuh dan cerdas sehingga menjadi anak kesayangan raja. Setelah besar  I Jaya Prana disuruh mencari jodoh dan bertemulah ia dengan Layon Sari yang kemudian dinikahkan oleh Sang Prabu di keraton. Pada saat pernikahan berlangsung ternyata secara diam-diam Sang Prabu tertarik pada kecantikan Ni Layon Sari. Dipanggillah Maha Patih  Ki Patih Sawunggaling untuk membuat upaya untuk membunuh Jaya Prana dengan cara memerintahkan Jaya Prana untuk mengamankan margasatwa yang dirusak Wong Bajo (orang Madura) di barat Bali yaitu di Teluk Terima.  Pada hari yang telah ditentukan, kira-kira 7 hari setelah pernikahan, rombongan yang dipimpin oleh Ki Patih Sawunggaling dan diiringi oleh puluhan pengiring beserta I Jaya Prana berangkat ke Teluk Terima. Perjalanan tersebut dilepas dengan sedih oleh Ni Layon Sari. Sesampainya di Teluk terima, Ki Patih Sawunggaling menunjukkan sepucuk surat dari Sang Prabu bahwa atas perintah Prabu  untuk  membunuh Jaya Prana. Ketika Jaya Prana ditusuk dengan keris, darah keluar dengan bau harum semerbak, yang disertai dengan tanda kebesaran seperti petir, gempa, hujan dan pelangi yang menyebabkan semua orang yang hadir bersedih dan terharu. Setelah selesai upacara penguburan, rombongan kembali pulang. Dalam perjalanan pulang tersebut, rombongan dibuntuti harimau. Akhirnya terjadi bermacam-macam malapetaka, seperti ada yang diterkam harimau, digigit ular, dan tersedak yang menyebabkan 40 orang pengiring meninggal dunia. Sisa rombongan yang berjumlah 19 orang berhasil kembali ke istana. Ni Layon Sari berusaha mencari informasi tentang keadaan suaminya. Melalui salah seorang rombongan yang datang didapat informasi bahwa suaminya telah dibunuh oleh Ki Patih Sawunggaling atas perintah Sang Prabu. Mendengar berita tersebut, Ni Layon Sari sangat sedih. Raja berpura-pura sedih atas kematian I Jaya Prana. Dengan dalih untuk menghibur kesedihan Ni Layon Sari, Sang Prabu menyuruh agar ia tinggal di istana. Pada saat itulah Sang Prabu meminta dengan sangat agar Ni Layon Sari bersedia menjadi istrinya. Lebih dari itu, Sang Prabu bersedia untuk menyerahkan seluruh isi istana asalah Ni Layon Sari bersedia memenuhi permintaan Sang Prabu. Ni Layon Sari menolak dengan rendah hati semua permintaan Sang Prabu. Sebagai wujud kesetiaannya terhadap suaminya, akhirnya Ni Layon Sari bunuh diri dengan sebuah pedang. Sang Prabu terkejut dan meratapi jenazah Ni Layon Sari di pangkuannya. Sang Prabu lalu menjadi gelap mata dan mengamuk lalu bunuh diri. Setelah keributan selesai, orang tua Ni Layon Sari mengambil jenazah anaknya. Kemudian dibawa ke Banjar Sekar untuk dikuburkan

 

Makam Jaya Prana di Teluk Terima

Artikel selanjutnya :
Kemegahan kerajaan Kalianget yang didirikan sekitar  Tahun 1622 Masehi ( Caka 1544).  sebagai sebuah Kerajaan kecil di belahan Bali Utara bagian Barat cukup lama. Sampai pada akhirnya Kerajaan Kalianget itu runtuh tanpa ada yang meneruskan ........... Bukti sejarah yang beliau ( Raja Kalianget ) tinggalkan yang dapat di kenang oleh masyarakat desa Kalianget atau dareah sekitarnya sampai sekarang antara lain : Diberikannya nama Kalianget yang sampai sekarang menjadi nama desa yaitu desa Kalianget, Di galinya saluran sungai Mendaum yang sampai sekarang mengairi persawahan di 2 kecamatan, yaitu kecamatan Seririt dan Kecamatan Banjar, Dibangunnya tempat-tempat pemujaan ( Pura ) yang sampai sekaranng masih berdiri kokoh serta namanya yang abdi sepanjang masa, diantaranya : Pura Prabu. .........

0 komentar:

Posting Komentar