Sabtu, 14 Desember 2013

PRABU KALIANGET, DINOBATKAN





Pendiri kerajaan Kalianget adalah Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti yang merupakan putera pertama dari I Dewa Gedong Artha dan cucu dari Ida Sri Agra Samprangan yang merupakan raja yang bertahta di Keraton Samprangan (sebelah timur Gianyar sekarang). Salah seorang putera dari I Dewa Gedong Artha, yaitu putera pertamanya yang bernama Ida I Dewa Kaleran, memiliki  kelebihan yang sangat menonjol dalam diri beliau, yaitu bakat/watak di bidang pertahanan dan keamanan. Darah kesatria yang mengalir dalam tubuh Ida I Dewa Kaleran  demikian derasnya dan beliau telah menyatakan kehadapan Ida I Dewa Gedong Artha  ( ayah beliau ),  akan mengabdikan seluruh jiwa dan raga beliau di bidang pertahanan dan keamanan. dan sepenuhnya akan mengabdikan seluruh hidupnya sebagaimana layaknya seorang kesatria sejati. Ini berarti bahwa dimana ada kekacauan, dimana ada rakyat tertindas dan tertekan disanalah Ida I Dewa Kaleran  berada untuk membebaskannya . Oleh karena itu, beliau dianugerahi senjata – senjata pusaka yang ampuh – ampuh dan para pengikut / pengiring ( rakyat ) yang telah diseleksi secara ketat baik wangsa maupun fisiknya. Jadi anak buah beliau betul – betul prajurit pilihan.  Adapun pusaka – pusaka ampuh yang dianugerahkan oleh ayah beliau adalah : I Baan Kau, I Kala Rau, I Sekar Sandat, I Ratu Pande, I Baru Ngit dan lain – lain, yang memiliki keampuhan sendiri – sendiri.

Untuk membuktikan tekad dan perkataannya, Ida I Dewa Kaleran mohon diri kehadapan ayah beliau, untuk meninggalkan keraton beserta seluruh anak buah beliau ( panjak beliau ), berangkat menuju Bali Timur Laut yaitu disekitar Culik, Tulamben, karena menurut informasi yang beliau terima, daerah tersebut sedang dikacau oleh para  Bajak Laut dari Bugis, ( Makasar ), Sasak, Sumbawa, Madura dan daerah lainnya. Dengan kehadiran beliau di daerah tersebut, maka para bajak laut tersebut bisa dikalahkan dengan perlawanan yang tidak berarti. Seluruh wilayah segera menjadi aman dari segala gangguan para bajak laut.

Kemudian, selang beberapa waktu terbetik berita bahwa rakyat di daerah Songan sedang dicekam rasa takut yang tiada hentinya dan rasa tidak aman yang berlarut – larut. Daerah Songan tersebut diganggu dan dirusak oleh I Banas Pati Raja yang bermukim di hutan Aa. Maka alangkah gusarnya Ida I Dewa Kaleran.  Beliau bersama seluruh anak buah beliau ( panjak beliau ) berangkat menyerbu hutan Aa di Songan untuk memusnahkan I Banas Pati Raja. sehingga rakyat terbebas dari segala cengkraman rasa takut.  Kedigjayaan Ida I Dewa Kaleran  mulai tercium kemana – mana dan kemudian beliau diberikan gelar oleh seluruh rakyat ( panjak ) dan para pengikut beliau dengan gelar: “ Ida  I Dewa Kaleran Pemayun  Sakti “

Berselang beberapa waktu kemudian, pada pertengahan abad keenam belas, terbetik lagi berita bahwa di Bali  bagian  Barat  Laut  dirusak  dan diobrak – abrik oleh Wong Bajo ( orang – orang Madura ). Margasatwa dirusak dan rakyat di sekitarnya terancam keselamatannya. Tanpa berpikir panjang  lagi, maka Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti  diiringi oleh para pengikutnya, langsung berangkat menuju Bali Barat Laut lewat hutan rimba yang berbukit – bukit dipedalaman Bali ( Bali Bagian Tengah ).

Dalam perjalanannya, sampai di sebuah bukit (disebelah utara desa Pancasari sekarang ), beliau berhenti dan beristirahat sambil menikmati bekal berupa “ ketupat “. Para pengikut beliau merasa heran, karena beristirahat dan menikmati bekal ketupat di suatu tempat berupa bukit yang sulit untuk mendapatkan air minum.  Maka segeralah Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti memberikan penjelasan agar tenang dan tidak usah gelisah ataupun resah dengan tiadanya air minum. Begitu saatnya para pengikut beliau memerlukan air minum, lalu beliau mengeluarkan salah satu dari pusaka – pusaka beliau. Kemudian pusaka tersebut ditancapkan ke tanah, dan menyemburkan air yang sangat jernih dan bersih yang dapat diminum oleh para panjak Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti,  maka berpesta poralah seluruh panjak beliau menikmati air minum yang menjadi kekhawatiran para panjak beliau sebelumnya, dan telah teratasi berkat keampuhan pusaka beliau tersebut. Mata air / sumber air tersebut lalu diberi nama “Merta Ketipat“ atau “Yeh Ketipat“. Dengan demikian seluruh panjak beliau telah melihat dengan mata kepala sendiri , bahwa Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti memiliki suatu pusaka yang mampu menimbulkan mata air / sumber air.




Setelah sampai di Bali Barat Laut, maka para pengacau yang merusak daerah tersebut dapat diatasi dan diusir dari wilayah tersebut tanpa halangan suatu apapun juga. . Di desa Alas Arum, I Dewa Kaleran Pemayun Sakti diselimuti rasa duka campur geram karena pendahulunya  Dalem Dasar Agung telah wafat, dikalahkan oleh Kala Tiga.  Kedatang Beliau di Alas harum ini yang berkembang menjadi kerajaan Kalianget adalah sekitar Tahun 1622 Masehi ( Caka 1544). Setelah itu I Dewa Kaleran Pemayun Sakti dan prajuritnya membangun bangunan suci yang diberi nama Pura Prabu. Di pura ini di gelar upacara ritual dengan sejumlah sesajen dengan sarana  dupa dan berbagai macam bunga yang serba wangi dan suci. Sejurus kemudian Keris pusaka Aji Kayohana pemberian Dalem Gelgel tertancap dan terendam air.Suara gemuruh menggelegar, kilatan petir pun menyambar sejumlah tempat di Desa Alas Arum. Hujan tercurah dengan lebatnya selama kurang lebih tujuh hari tujuh malam.  Kala Tiga dengan para wong samarnya tak mampu menandingi kesaktian I Dewa Kaleran Pemayun Sakti Kesaktian itu, terutama dipancarkan dari keris pusaka pemberian Dalem Gelgel. Kala  Tiga beserta pengikutnya terbirit-birit pergi dan menyebar ke berbagai desa yang di anggap aman.

Rakyat mulai merasa aman, bebas dari segala jenis gangguan para pengacau daerah tersebut   Atas jasa – jasa  Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti yang sangat besar dirasakan oleh rakyat di sana   maupun   para simpatisan  lainnya,   maka  beliau dibuatkan istana kerajaan ( keraton )yang berlokasi di Kalianget dan dinobatkan/naik tahta kerajaan dengan gelar  Ida Sang Prabu Ring Kalianget  Disanalah beliau naik tahta (madeg agung) sebagai pengayom (tedung jagat) bagi seluruh rakyat  tanpa memperhitungkan untung dan rugi. Kalianget berasal dari kata Kali dan Anget, kali berarti sungai( Tukad ) Anget berarti panas nama ini diberikan karena aliran air panas ( Yeh Panas ) yang ada diwilayah desa Banjar mengaliri daerah ini, sehingga daerah ini diberi nama Kalianget. Kalianget juga dimaknai yang berasal dari kata Kali dan Anget, Kali berrti waktu, Anget berarti menakutkan (angker ) karena beberapa tempat sekitar daerah ini cukup angker sehinga sering menakutkan penduduk sekitar.


Artikel selanjutnya :
Ida Sang Prabu berangkat menuju kaki gunung Batukaru beserta pusaka ampuh beliau demi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat beliau. Setelah sampai di kaki gunung Batukaru, manakala beliau bersiap – siap untuk menusukkan pusaka ke kaki gunung Batukaru, tiba – tiba terdengarlah suara gaib ...........  mengeluarkan kutukannya : “ Ih kamu Kaleran, beraninya kau menusuk aku, terkutuklah kau, semoga keturunanmu kelak terpencar dimana–mana seperti ulat nangka dan banyak kerja tetapi kurang pangan “ ........ 

3 komentar:

  1. pak dewa, tiang keturunan saunggaling, dimana kawitan saya. suksma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Ambara Nata, bisa hubungi saya : 088 8980 8980

      Hapus
  2. Pak Ambara, hubungi 089 617 393 492 . Tiang antar Bapak untuk bertemu dengan keluarga Bapak di Tista, Kec. Busungbiu, Buleleng

    BalasHapus