Sabtu, 14 Desember 2013

PURA RATU PATIH



BONGANCINA SEBELUM TAHUN 1900 AN
Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terletak di ketinggian kurang lebih 900 meter dari permukaan  laut, sehingga memiliki suhu udara yang sejuk, terletak +/- 12 km di sebelah barat Pupuan, pada lintasan menuju Surabrata, Kecamatan Selemadeg, Tabanan. Sebelum pemerintah Belanda mengijinkan kembali membuka hutan lindung di desa Bongancinai pada 7 Juli  1907.  Sebelum tahun ini desa Bongancina sudah pernah dihuni. Tetapi penduduk ketika itu tidak bisa bertahan, karena lahan pertanian mereka diserang oleh hama semut pemakan daging, sehingga penduduk mengungsi ke arah timur ke desa Galiukir, Kecamatan Pupuan. Hal ini terlihat dari fakta, dimana sampai saat ini bila diadakan piodalan di Pura Desa & Puseh Bongancina, keturunan dari bekas penduduk yang kini sudah tinggal di desa Galiukir, datang untuk ”ngaturang bhakti” ke Pura tersebut. 
Menurut penuturan tetua desa jenis semut yang menyerang adalah jenis semut pemakan daging. Nampaknya semut ini memiliki racun pembius sehingga korbannya tidak sadar, waktu tubuhnya digerogoti semut, dan ketika bangun bagian tertentu tubuhnya tinggal tulangnya saja. Nampaknya koloni semut jenis ini waktu itu belum begitu besar, sehingga mereka menyerang bagian tubuh tertentu  dan  tidak  sampai memakan habis korbannya.
Juga dari penuturan tetua-tetua desa, desa ini pernah dihuni oleh orang Tionghoa, hal ini terlihat dari penemuan penduduk berupa perhiasan, gerabah, keramik, serta daun gender kuno, di beberapa tempat. Mereka juga meninggalkan desa ini, karena tidak tahan dengan serangan hama semut . 

Ada beberapa versi mengenai "Nama Bongancina". Sebuah presasti di desa Sukawana, Kintamani menyebut nama Bungancina, juga disebut nama Bukit Kuntul (Kutul, yang terletak di desa Pucaksari sekarang, yang merupakan desa induk Bongancina, pada saat pembukaan hutan di tahun 1900 an). Ada juga yang menyatakan kata Bongancina berasal dari "Buungan Cina", karena penduduk Cina tidak jadi bermukim disana dan pindah ke Tegalasih (disebelah desa Bongancina sekarang). Juga  diduga berasal dari kata  BONGanCINA (Kuburan Cina). Pernah ada seorang warga Tionghoa yang datang dari Jakarta, untuk melihat keberadaan desa Bongancina dan Pura Ratu Patih. Entah karena petunjuk mimpi atau sebab lain. Diduga Bongancina pernah menjadi desa tujuan, pada saat pertama kali orang Tionghoa menginjakkan kakinya di Bali.


 Pura Ratu Patih

DIHUNI KEMBALI
Pada awal tahun 1900 an pemerintah Belanda mengijinkan penduduk untuk membuka hutan lindung di daerah Kutul  (kini desa Pucaksari dan Sepang, Kecamatan Busungbiu, termasuk pembukaan hutan di pelemahan  Bongancina  (waktu itu masih merupakan Banjar dari Desa Kutul).  Menghadapi beratnya medan, binatang buas dan sulitnya menebang pohon-pohon besar dengan peralatan seadanya, diperlukan adanya semangat persatuan, kerjasama, saling membantu, dan semangat setia kawan diantara penduduk. Karena itu beberapa orang cikal bakal pendiri desa Bongancina, yang tinggal dalam satu lokasi di palemahan  Bongancina Tua yang terdiri dari keluarga I Dewa Made Mayus, I Dewa Putu Kereped, I Dewa Nyoman Bajing, I Dewa Putu Darta, I Gusti Putu Siama dan I Gusti Made Tama, berikrar :
1)     Siapa yang berada di rumah, agar menjaga keluarga yang lainnya. Siapa yang berselingkuh agar tidak menemukan keselamatan (Pada saat itu terdengar suara Guntur menggelegar).
2)     Siapa yang ”nyetik” (meracun), neluh, nerangjana (menggunakan ilmu hitam), mencelakai teman lainnya, agar tidak menemukan keselamatan. (Pada saat itu terdengar suara burung tuu-tuu). (Kutipan dari  catatan peninggalan keluarga I Dewa Putu Kereped).


1 2 Monumen Tri Yudha Sakti, Singaraja

PURA RATU PATIH
Pada saat pembukaan hutan, penduduk belum mampu mendirikan Pura Kahyangan Tiga, oleh karena itu cikal bakal pendiri desa yang tersebut diatas beserta cikal bakal penduduk yang lain yang tinggal di lokasi yang berbeda, mendirikan bebaturan sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tempat memuja beliau untuk tempat memohon agar penduduk bisa selamat tidak terserang binatang buas dan terhindar dari serangan hama semut . Pura tersebut kemudian dikenal dengan nama Pura Ratu Patih (Nama ini diberikan oleh orang yang kesurupan pada saat dilaksanakan piodalan). Pura ini pernah dipugar tahun 1978 dan dipenghujung tahun 2009 dilaksanakan pemugaran kembali yang dilaksanakan oleh para Pengempon Pura yang jumlahnya  +/-  85 KK.. Pembangunan Tahap Pertama diselesaikan diawal tahun 2010 dan pada tanggal 12 Januari 2010, dilangsungkan upacara pemelaspasan, yang dipuput oleh Ida Pedanda Griya Jagaraga dan dihadiri juga oleh Muspika Kecamatan Busungbiu. 



Tanggal 3 Mei 2015, Senin Wuku Sinta (Banyu Pinaruh), Purnama Desta diadakan pemelaspasan alit sehubungan ada perbaikan pada Padmasana,  ”aturan” seorang tapakan dari Pejeng, Gianyar. Sebelumnya beliau menderita sakit dan setelah tangkil di Pura Ratu Patih penyakitnya sembuh. Hal yang cukup unik pada pemelaspasan alit ini, ada pemedek yang kerawuhan (kesurupan), menelungkupkan badannya ke tanah dan menirukan suara seekor naga. Menurut penuturan pengempon yang tinggal di sekitar pura, memang masih sering didengar seperti suara naga pada hari-hari tertentu. Disamping suara itu, pasca revolusi 1945 juga sering didengar derap kuda dimalam hari. Pernah suara derap kuda itu dikejar, tetapi suaranya menghilang dipesiraman pura. Yang unik juga ada pemedek yang kerawuhan, menyampaikan agar setiap tanggal 17 Agustus, diadakan persembahyangan dan bendera merah putih dikibarkan. Memang pasca revolusi 1945, ”munduk” (daerah ketinggian), sepanjang desa Bongancina, Desa Belatungan sampai ke Surabrata, merupakan desa basis perjuangan.




1.3 Perwakilan Pejuang Markas Besar Markas Cabang  Kusuma Yadnya, Bongancina
PERAN PURA RATU PATIH
Disaat pembukaan hutan, Pura ini digunakan sebagai tempat ”ngaturang bhakti” dan tempat memohon keselamatan agar penduduk tidak mendapat halangan dalam membuka hutan.
Pada masa Revolusi phisik (1945 – 1949), Pura ini juga digunakan oleh para pejuang, sebagai tempat untuk memohon perlindungan.  Desa Bongancina merupakan desa basis perjuangan di daerah ”Buleleng Barat (atas)” (istilah yang digunakan untuk wilayah desa : Bongancina, Tista, Sepang dan Pucaksari) dimana Markas Besar Oemoem (MBO) Markas Cabang  Kusuma Yadnya, yang juga mencakup pejuang desa Belatungan Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan,  dibawah komando:  I  Dewa Putu Dhanu (Pak Sundih) yang menghimpun  para eksponen pejuang dari desa Bongancina dan desa di sekitarnya .
Mereka yang dimasukkan ”bui” (penjara) di Banyumala, Singaraja oleh Belanda dan dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan  Republik Indonesia oleh Belanda  tahun 1949 adalah :   I Dewa Nyoman Perte (Pak Gampang), I Dewa Ketut Sawit, I Dewa Nyoman Kaler (Pak Sekian), I Dewa Made  Landra (Pak Kelana), I Dewa Made  Dhana (Pak Teruna),  I Dewa Ketut Rai Melayang, Dewa Made Ribut,  Dewa Nyoman Mandri (Pak  Bebas), Dewa Ketut Tjandri, Dewa Made Regeg, Dewa Putu Sarka,  Dewa Made Gumbreg, Dewa Made Tantra (Pak Sedar),   Dewa Nyoman Bemben, I Dewa Ketut  Arka (Pak Kasmaya),  Dewa Nyoman Semadi, I Gusti Putu Suta (Pak Kusuma), pejuang dari desa Tista (I Nyoman Kaler), dari desa Sepang (I Ketut Sandi), dari  (I Wayan Sulandra), dan dari desa Belatungan (Kecamatan Pupuan), Dewa Putu Putra (Pak Tenang). (Prasasti untuk Markas Besar Macab Buleleng Barat  Kusuma Yadnya, yang memuat Nama Perwakilan Pejuang, tertera di Monumen Monumen Perjuangan Tri Yudha Sakti, di Sangket, Sukasada, Singaraja). (Istilah Pak ........, adalah Nama samaran yang bersangkutan pada waktu perjuangan). 
Pada saat tentara Nica  dan ”gandek”nya (sebutan untuk orang pribumi yang menjadi kaki tangan Belanda), melakukan pembakaran rumah penduduk di desa Bongancina tahun 1946, maka penduduk mengungsi ke Yeh Sibuh, desa Belatungan, Kecamataan Pupuan. Pembakaran rumah penduduk dibarengi juga  dengan penyisiran terhadap pejuang oleh tentara Nica. Pada waktu itu pejuang memperoleh ”petunjuk” agar berlindung di Pura Ratu Patih yang jaraknya hanya tiga meter dari jalan raya. Entah karena kebetulan atau memang karena para pejuang memperoleh perlindungan serara ”niskala”, semua pejuang selamat pada saat penyisiran itu. Hanya saja dalam dua pertempuran yang lainnya, lima orang pejuang desa Bongancina gugur, yang kemudian oleh penduduk didirikan Tugu Perjuangan Panca Wirapati, untuk mengenang perjuangan beliau, yang diresmikan oleh Bupati Drs. Ketut Wirata Sindhu. Para pejuang yang gugur tersebut adalah :
1.     I Dewa Nyoman Nesa
2.     I Dewa Nyoman Jebot
3.     I Dewa Nyoman Latera
4.     I Dewa Nyoman Tegeg
5.     I Dewa Ketut Gateri



1.4 Tugu Perjuangan Panca Wirapati, Bongancina

PURA RATU PATIH SEBAGAI LOKASI MEDITASI ?
Pura Ratu Patih terletak di ketinggian (munduk), sehingga pada pagi hari disaat udara cerah semua desa di sebelah timur Bongancina, Gunung Batukaru dan Gunung Agung nampak dengan jelas. Menginjakkan kaki di pelataran pura, terasa ada vibrasi positif terpancar di area itu. Beberapa bulan setelah upacara pemelaspasan, ada seorang bhakta penekun spiritual dari Denpasar, datang ke Pura tersebut. Beliau datang kesana dituntun oleh mimpinya Beliau terkesan dengan keberadaan Pura Ratu Patih.
Pada saat persembahyangan pada waktu bulan Purnama atau Tilem seperti yang biasa juga dilaksanakan di Pura-Pura yang lain, masyarakat dari desa sekitar ada yang ikut menghaturkan bhakti, malahan ada yang datang dari luar Kabutaten. Seorang penekun spiritual dari Karangasem yang setelah lama mencari keberadaan Pura ini, juga ikut sembahyang disana. Sedangkan paranormal kondang Ki Gendeng Pamungkas ketika lewat disebelah desa Bongancina menyempatkan diri juga untuk melaksanakan meditasi di Pura Ratu Patih.
Akankah dikemudian hari Pura Ratu Patih menjadi pilihan para penekun spiritual untuk melaksanakan meditasi ?. Astungkara.

2 komentar:

  1. kangen saya pernah kkn di desa bongancina tahun 1996

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengempon Pura Ratu Patih menjadi bagian dari pelaksanaan Upacara 108 Genta. Artikelnya bisa browsing dg judul yg sama. Mksh

      Hapus