Rabu, 17 Desember 2014

AGAMA BAHA’I, Aliran Sesat ? (4)




Rumah Ibadah
Pengikut Baha’i menjadikan Gunung Caramel di Israel sebagai kiblat dalam shalat, dan hanya mewajibkan pengikutnya shalat sekali dalam sehari.. Rumah ibadah Bahá’í dinamakan “Mashriqu’l-Adhkár” (“Tempat-terbit pujian kepada Tuhan”), yakni tempat untuk berdoa, meditasi dan melantunkan ayat-ayat suci Bahá’í dan agama-agama lain. Rumah ibadah Bahá’í ini terbuka bagi orang-orang dari semua agama. Rumah ibadah Bahá’í bertemakan ketunggalan: harus mempunyai sembilan sisi dengan sebuah kubah di tengahnya, dan direncanakan untuk masa depan sebagai pusat dari berbagai lembaga sosial bagi masyarakat setempat, termasuk rumah sakit, universitas, rumah jompo, dan lain sebagainya. Sampai sekarang di seluruh dunia ada tujuh Rumah ibadah Bahá’í—di New Delhi, India; Kampala, Uganda; Frankfurt, Jerman; Wilmette, Illinois, Amerika Serikat; Panama City, Panama; Apia, Samoa Barat; dan Sydney, Australia.

Rumah ibadah Bahá’í mencerminkan tujuan dasar agama Bahá’í yang mendorong kesatuan umat manusia dan mencerminkan keyakinan akan keesaan Tuhan . Rumah Ibadah ini dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai “tempat terbit pujian kepada Tuhan”. Rumah ibadah Bahá’í merupakan sumbangan masyarakat Bahá’í bagi seluruh umat manusia termasuk semua pemeluk agama yang berbeda-beda. “Semoga umat manusia dapat menemukan satu tempat untuk berkumpul dan semoga persatuan umat manusia memancar dari istana suciNya yang terbuka…” (Abdu’l-Bahá)

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa doa dan sembahyang merupakan percakapan antara manusia dan penciptanya yang bersifat rohani dan tidak harus dilaksanakan di rumah ibadah khusus. Rumah ibadah Bahá’í   memiliki rancangannya sendiri-sendiri, namun semua harus mengikuti pola arsitektur yang bertemakan ketunggalan, yakni harus mempunyai sembilan sisi dan sebuah kubah di tengahnya. Para pengunjung dapat memasuki rumah ibadah dari sisi mana saja, namun mereka disatukan di bawah satu kubah.



Ibadah
Acara ibadah terdiri dari pembacaan Tulisan Suci Bahá’í dan Tulisan Suci dari berbagai agama, dan diperbolehkan pula adanya iringan musik tanpa instrumen (akapela). dan tidak ada khotbah, ritual, atau pemimpin doa / pendeta. Tiap tahun, jutaan orang dari berbagai agama di dunia mengunjungi rumah-rumah ibadah Bahá’í untuk berdoa dan bermeditasi.
Bahá’u’lláh bersabda bahwa rumah ibadah Bahá’í nanti akan berfungsi sebagai titik pusat kehidupan rohani masyarakat. Di sekelilingnya akan terdapat lembaga-lembaga yang antara lain bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, sosial-kemanusiaan lainnya seperti rumah sakit dan rumah jompo, dan administrasi masyarakat Bahá’í. Sehingga dengan demikian, rumah ibadah Bahá’í akan mewujudkan konsep perpaduan “ibadah dan pengabdian” sesuai dengan ajaran Bahá’u’lláh.

Bahá’í International Community memiliki kantor di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan Jenewa, juga perwakilan di komisi-komisi PBB regional serta kantor-kantor lainnya di Addis Ababa, Bangkok, Nairobi, Roma, Santiago dan Wina. . Pada tahun-tahun terakhir ini suatu “Kantor Lingkungan Hidup” dan “Kantor untuk Kemajuan Kaum Perempuan” telah didirikan sebagai bagian dari Kantor PBB Bahá’í International Community itu. Agama Bahá’í juga telah bekerja bersama dalam mengembangkan program-program dengan berbagai instansi PBB lainnya. Dalam Millennium Forum dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2000, seorang Bahá’í menjadi satu-satunya orang non-pemerintah yang diundang untuk memberikan pidato.

Orang Bahá’i mengabdi kepada umat manusia dan juga berdoa bagi kebaikan sesama manusia. Kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan kita. Dia mengetahui apa yang kita inginkan dan butuhkan. Perkembangan roh kita tergantung pada doa, karena doa merupakan makanan rohani. Pada saat kita berdoa, kita sedang memberikan makanan rohani kepada roh kita dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.



Hari-Hari Suci
Tahun Baha’i terdiri dari 19 bulan yang masing-masing 19 hari (361 hari), dengan penambahan “hari-hari kabisat” antara bulan kedelapan belas dan kesembilan belas untuk menyesuaikan kalender dengan tahun matahari. Dalam ajaran agama Baha’i juga melaksaknakan puasa selama 19 hari, mulai 2-20 Maret. Setelah berpuasa, penganut agama Baha’i juga mengenal hari raya yang jatuh pada 21 Maret. Agama ini juga memiliki tahun dan tanggal yang berbeda. Jika di Islam dikenal Hijriah dan di Nasrani dikenal Masehi, maka di Baha’i itu nama tahunnya itu Era Baha’i (EB). 21 Maret Hari Raya yang disebut hari raya Naw-ruz.

Untuk jamnya sama saja. 24 jam,” Pengikut Baha’i tidak menyebarkan Baha’i, namun jika ingin memeluk Baha’i tinggal mengenal tiga tokohnya saja, salah satunya adalah Bahau’llah dan tidak ada pembaptisan atau mengucapkan dua kalimat syahdat seperti di agama Islam.

Hari-hari Suci Baha’i:
Hari raya Sembilan belas
Naw-Ruz
Deklarasi dari Bab
Hari Raya Ridwan
Lahirnya Bab
Hari Lahir Bahaullah
Kenaikan Bab
Wafatnya Bahaullah

SUMBER : (Dicantumkan pada Artikel Agama Baha’I yang terakhir)

0 komentar:

Posting Komentar