Senin, 03 Agustus 2015

Misteri Kehidupan Masa Lalu (1)



Seluruh peristiwa yang terjadi di masa lalu, di waktu sekarang, dan di masa yang akan datang, sebenarnya terjadi secara berbarengan di dalam kontinum ruang-waktu. (Einstein)
Teori relativitas khusus dan umum Einstein,menyatakan
bahwa geometri yang tepat dari ruang-waktu, atau beberapa jenis gerakan dalam ruang,
dapat memungkinkan kita berjalan ke masa lampau dan masa depan.
Observasi ilmiah yang dilakukan menyimpulkan kehidupan dan kematian ternyata berkorespondensi dengan "alam lain" (multiverse), (teori ilmiah biosentrisme). (Robert Lanza)
Regresi  atau mundur kembali masuk kedalam kesadaran jiwa,adalah sebuah teknik dalam hipnosis yang digunakan untuk membimbing seseorang
agar bisa mengalami kembali kehidupan di masa lalu, yang mana dia terlahir sebagai pribadi yang berbeda di zaman yang berbeda.


Dalam sudut pandang Einsteinian, ruang dan waktu adalah dimensi kontinum yang eksistensinya sudah ada secara bersamaan. Ketika kita menyebut variable ruang: disana-disini-disitu, maka dalam konteks yang senada kita pun bisa mengatakan: dulu-sekarang-nanti. Ya, sebagaimana dimensi ruang yang memuat ‘disana-disini-disitu’ secara bersamaan, dimensi waktu pun memuat ‘dulu-sekarang-nanti’ dalam satu paket.Dengan kata lain, seluruh peristiwa yang terjadi di masa lalu, di waktu sekarang, dan di masa yang akan datang, sebenarnya terjadi secara berbarengan di dalam kontinum ruang-waktu. Atau bisa dikatakan: sebuah peristiwa sedang dimulai, sedang berlangsung, dan sedang diakhiri, terjadi bersamaan.  Pemahaman seperti ini, memang agak membingungkan. Terutama yang ‘terjebak’ pemahaman lama, dimana waktu ‘terkesan’ terjadi secara berurutan: dulu, sekarang, dan nanti.

Dimensi ruang, ‘disini’,  ‘disana’ dan ‘disitu’ yang terjadi bersamaan, tapi karena perubahan dimensi ruang yang sedang mengembang ini terikat pada pertambahan dimensi waktu, maka konsekuensinya dimensi waktu pun sebenarnya telah eksis di alam semesta sebagai bentuk kontinum dari T(ime) = nol sampai T = tak berhingga. Dan akibatnya, seluruh peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang-waktu itu pun sudah terjadi secara bersamaan ‘disini-disitu-disana’ dalam waktu ‘dulu-sekarang-nanti’ yang juga serentak.
Setiap peristiwa sedang dimulai, dijalani, dan diakhiri oleh setiap orang yang menempuh sejarahnya masing-masing. Tetapi, karena setiap orang harus melewati dimensi waktu secara berurutan, semua peristiwa itu tampak ‘seakan-akan serial’. Padahal semua peristiwa itu sudah eksis di alam semesta ‘secara paralel’.

Lantas bagaimana hubungannya dengan Tuhan Sang Penguasa segala peristiwa? Teori holografik, bisa membantu menjelaskannya. Bahwa seluruh peristiwa di alam semesta ini sebenarnya adalah pancaran holografik dari eksistensi Tuhan. Bukan hanya pada variable materi sebagai pembentuk sosok, dan variable energi sebagai penggerak peristiwa. Melainkan, ‘kanvas’ ruang dan waktu pun adalah proyeksi dari eksistensi-Nya. Demikian juga variable informasi yang memicu terjadinya peristiwa. Semua itu adalah proyeksi diri-Nya.


Manusia memiliki satu pikiran, dengan dua lingkup: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Bedanya, pikiran sadar mampu menalar, membandingkan baik dan buruk, benar dan salah, positif dan negatif. Adapun pikiran bahwa sadar tidak menalar mana yang positif dan mana yang negatif, mana yang benar dan mana yang salah. Dan pikiran bawah sadar, memiliki kekuatan yang luar biasa, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. ”Dalam pikiran bawah sadar  terletak kebijaksanaan tak terbatas, kekuatan tak terbatas, dan persediaan tak terbatas dari segala kebutuhan, yang menunggu dikembangkan dan diungkapkan”..

Antara dua lingkup pikiran tadi memiliki kaitan yang erat. Pikiran sadar memberikan perintah, baik sadar maupun tidak, kepada pikiran bawah sadar. Ketika seseorang berpikir, ”Saya bisa mengerjakan itu,” berarti pikiran itu perintah kepada pikiran bawah sadar. Begitu pula saat seseorang berpikir, ”Ah, saya tak mungkin bisa,” itu artinya instruksi kepada pikiran bawah sadar untuk melaksanakannya. Dan pada saat instruksi itu datang, pikiran bahwa sadar langsung bekerja tanpa perlu membuktikannya, dan tanpa mengenal waktu, bahkan saat kita sedang tidur pulas.

Ketika kita berpikir positif, pikiran bawah sadar langsung bereaksi untuk melaksanakan gagasan positif tadi. Sebaliknya, ketika seseorang berpikir negatif, seperti ketidakberdayaan, ketidak mampuan melakukan sesuatu, maka pikiran bawah sadar pun bekerja mewujudkan ide atau kesan negatif tersebut.

SUMBER  : Dicantumkan pada artikel Misteri Kehidupan Masa Lalu, terakhir

0 komentar:

Posting Komentar