Selasa, 18 April 2017

ANIMISME, DINAMISME DAN SAINS (1)

PENGANTAR
Beberapa bulan yang lalu, dalam siaran RRI Pro 3, seorang pejabat pariwisata di Sumatera Utara menyampaikan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke daerahnya, upacara-upacara daerah yang bersifat tradisional perlu dibangkitkan. Pejabat itu mengambil contoh Bali. Di Bali penganut Agama Hindu meskipun  meyakini akan keEsa-an Tuhan, namun dalam kehidupan sehari-hari upacara tradisional tetap dilaksanakan. (Dan mungkin karena melaksanakan upacara yang animistis dan dinamistis inilah, menempatkan Bali sebagai Desninasi Wisata Dunia No 1 tahun 2017, mengungguli Paris di tempat kedua) Dari siaran radio inilah muncul inspirasi untuk melihat Animisme, Dinamisme dari sudut pandang  Sains. Kedepan dogma-dogma agama yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah ataupun secara spiritual, akan mulai ditinggalkan, terutama oleh mereka yang biasa berfikir kritis.
  


ANIMISME.
Animisme berasal dari bahasa latin yaitu anima yang berarti Roh, kepercayaan animisme adalah suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi,  baik itu hidup ataupun mati mempunyai roh. Kepercayaan  (seperti gunung, laut, sungai, gua, pohon,   batu besar dll) memiliki roh yang harus dihormati. Animisme dapat dikenal dengan istilah yang lebih sederhana dan populer "penyembahan roh", berbeda dengan penyembahan kepada Tuhan atau dewa-dewa.

Novi Effendi , dalam artikelnya “Tinggalkan Segala Tradisi Yang Syirik”, memberikan contoh tradisi masyarakat Islam yang merupakan warisan yang terus dilestarikan keberadaannya, meskipun di dalamnya penuh diliputi ritual-ritual syirik berupa penyembahan kepada sesuatu selain Tuhan Yang Maha Pencipta. Tradisi budaya syirik tersebut antara lain :
1.  Tradisi Pesta Sedekah Laut, Pesta atau sedekah laut berasal dari kepercayaan pemujaan dewi laut serta dewi perikanan oleh penduduk pesisir yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi meskipun mereka menganut Islam.
2.   Tradisi Pesta Sedekah Bumi,  Selain sesajen tidak ketinggalan disiapkan pula nasi tumpeng. Dalam pemberian sesajen tersebut  juga dilakukan ritual berupa pembacaan doa yang bercampur dengan mantera-mantera. Upacara ritual sedekah bumi bersumber dari kepercayaan nenek moyang pada masa Hindu dan Budha yang mempercayai akan dewi padi yang dipuja pada musim-musim menanam padi, panen dan waktu menyimpan padi dalam lumbung.


3.  Tradisi Tumbal ( Mengorbankan ternak hewan sembelihan ), Tradisi Pesta Adat Tahunan, Sebagai contoh di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur seperti di Kabupaten Kutai Kertanegara, Kutai Timur, Kabupaten Berau dan ditempat lain, dengan menyelenggarakan upacara yang bersifat magis dan sakral serta sangat kental dengan aroma peninggalan zaman nenek moyang yang mempunyai kepercayaan animisme dan dinamisme serta tidak ketinggalan pula pengaruh agama Hindu dan Budha. (Di Bali dikenal dengan sebutan “mecaru” atau melaksanakan “Tawur”, seperti yang dilaksakan sehari menjelang Hari Raya Nyepi)
4. Tradisi Tepung Tawar, Tepung tawar ada yang dalam bentuk menaburkan beras kuning dan ada pula dengan cara memercikkan air yang diberi wewangian. Upacara ritual pemberian tepung tawar ini dilakukan hampir pada setiap kesempatan adanya acara-acara seperti menyambut kedatangan tamu yang dihormati, menyambut orang-orang yang baru pulang haji. (Di Bali justru dipakai sendiri, yang berupa beras putih (disebut basma atau bija), ditempelkan diantara alis, pada setiap selesai sembahyang).
5.  Tradisi Menyediakan Sesajen Untuk Persembahan Kepada makhluk halus yang ditakuti. Para makhluk halus tersebut diyakini bertempat tinggal di pohon-pohon besar dan tempat-tempat angker. (Di Bali dilaksanakan dengan melaksanakan Tawur Kesanga (Buta Yadnya), sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian /pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima warna) berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Caru Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat. Hari berikutnya dilaksanakan hari Raya Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian (Amati Geni = Tidak menyalakan api, Amati Karya = Tidak bekerja, Amati Lelungaan = Tidak bepergian dan Amati Lelanguan = Tidak bersenang-senang).  Pelaksanaan upacara yang animis dan syirik ini, kemudian oleh PBB diadopsi (sebagian kecil saja, karena hanya dilakukan pemadaman listrik satu jam saja) dengan peringatan  “World Silent Day” yang di rayakan setiap tgl 21 Maret )
6. Mendatangi Tempat-Tempat/Kuburan Yang Dikeramatkan Untuk Meminta Pertolongan.  Sebelum Islam masuk di Nusantara , masyarakatnya sangat menghormati dan mengagung-agungkan tempat-tempat yang dianggap keramat, termasuk kuburan orang-orang yang dianggap sakti pada zamannya. Ditempat-tempat keramat atau di kubur-kubur yang dikeramatkan tersebut banyak orang datang membawa berbagai sesajen seperti bunga-bungaan kemudian mereka meminta pertolongan/menyampaikan hajatnya. (Pada Agama Hindu, mengunjungi tempat “suci” (keramat ??) tapi bukan kuburan, dikenal dengan Tirta Yatra.  Karena di tempat-tempat seperti itu, bagi mereka yang spiritualnya sudah maju, akan dapat merasakan adanya konsentrasi energi (aura) positif.
7.     Tradisi Penghormatan Atas Bunga-bungaan. Setiap upacara hajatan seperti siraman atau mandi-mandi bagi calon pengantin dan upacara tingkepan atau mandi-mandi bagi wanita yang hamil, memandikan jenazah, hiasan usungan/tandu jenazah, menaburkan bunga pada saat ziarah di kubur. (Pada waktu kunjungan raja Arab Saudi ke Bali, Salman bin Abdulaziz Al Saud tahun 2017. Beliau disambut dengan tari  Pendet (tari penyambutan Tamu), dengan menaburkan bunga kepada Raja Salman oleh penari).
8.   Tradisi Penghormatan atas Benda-benda Pusaka dan Batu Cincin, memuja-muja benda-benda pusaka peninggalan para leluhur maupun peninggalan raja-raja zaman dahulu baik berupa senjata seperti keris dan tombak, maupun benda-benda lainnya seperti gamelan, gong, kereta. (Para ilmuwan menyatakan bahwa atom terdiri dari neutron dan elektron yang senantiasa bergerak dengan kecepatan cahaya.  Jadi, adakah yang mati jika semuanya terurai dari atom yang senantiasa bergerak?. Prinsipnya adalah setiap melekul benda mati bergetar, begitu ealektron-elektron dari atom-atomnya berputar akan  memancarkan energi.  Alam semesta ini sesungguhnya terdiri dari atom. Di dalam batu, di sebuah besi, di pepohonan, di dalam hewan, di langit, di udara dan di seluruh alam semesta, dipenuhi oleh atom dan energi. Bila konsentrasi energi positif  pada suatu benda cukup tinggi, maka hal itu akan menjadikannya benda itu akan menjadi “bertuah”, sesuai dengan jenis energinya).
9.     Tradisi Siraman/mandi Untuk Calon Pengantin/Wanita Hamil , Upacara ritual siraman atau mandi-mandi bagi calon pengantin ini dimaksudkan untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala bentuk kekotoran, agar begitu memasuki perkawinan dalam keadaan suci dan bersih.

10. Tradisi mendatangi dukun, dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi  berita dari langit. (Dalam bidang spiritual, bila seseorang mampu mengatur frekuensi gelombang otaknya antara 0,1 – 4 Hz, pada gelombang otak Delta dan tetap dalam kondisi sadar, maka orang tersebut  dimungkinkan  untuk dapat "melihat" informasi yang tidak dapat ditangkap oleh pikiran sadar. Melalui fase ini pulalah orang tersebut  dapat mewujudkan energi pikiran menjadi materi. Bahkan dapat weruh sadurunge winarah. Gelombang delta sering tampak dalam diri orang yang profesinya bertujuan untuk  membantu orang lain, orang yang berprofesi sebagai "penyembuh".  Kemampuan ini yang mendasari intuisi, empati, dan insting kita. Melalui delta kita bisa mengetahui kesejatian diri. Jadi nggak ada mencuri berita dari langit dengan bantuan setan, semuanya alami dan ilmiah)
11. Tradisi Penggunaan Jimat Penangkal.  sesuatu benda yang dijadikan jimat mengandung khasiat dapat memberikan manfaat kepada penggunanya sesuai dengan tujuan penggunaannya. Ada jimat yang diyakini dapat melindungi seseorang dari gangguan makhluk halus, ada jimat yang dapat memberikan kekuatan dan daya tahan pada tubuh sehingga tidak mempan terhadap berbagai senjata, ada jimat sebagai penglaris usaha, ada jimat sebagai guna-guna.


 
12. Tradisi Meyakini Hari-Hari dan Bulan-Bulan Tertentu Sebagai Hari/Bulan Yang  Baik/Tidak Baik.  Pada sebagian kalangan masyarakat meyakini bahwa ada hari dan bulan tertentu yang sial dan nahas, sehingga hari dan bulan tersebut harus dihindari untuk melangsungkan berbagai kegiatan
13. Tradisi Percaya Kepada Ramalan Primbon, Zodiak, Feng-Shui dan Shio, Tidak sedikit orang-orang dari kalangan Muslim mempercayai akan ramalan-ramalan dari kitab primbon peninggalan nenek moyang masyarakat Jawa dari zaman dahulu, ramalan bintang (zodiak) yang bersumber dari ajaran Yunani kuno dan ramalan feng-shui serta ramalan shio yang bersumber dari kepercayaan cina.
14.  Percaya Kepada Sesuatu Yang Dapat Mendatangkan Kesialan, misalnya pada saat berjalan ditengah jalan menemui ular yang melintas di jalan dari sebelah kiri sebagai tanda akan adanya kesialan atau datangnya nahas, menabrak kucing hingga mati pada saat berkendaraan sebagai tanda akan terjadinya kecelakaan bagi si pengendara, kejatuhan cicak di dalam rumah sebagai bentuk kesialan.

Bila anda melaksanakan salah satu dari ritual diatas, maka menurut sdr. Novi Effendi, anda telah melaksanakan ritual yang syirik.


Dari Berbagai Sumber

0 komentar:

Posting Komentar