Jumat, 05 Mei 2017

ANIMISME, DINAMISME DAN SAINS (3)

Apakah setelah kematian masih ada kehidupan roh, Onvsoff.Com menuliskan :  Sebuah tim psikolog dan dokter yang bekerjasama dengan Technische Universit√§t Berlin, Jerman, baru-baru ini mengumumkan bahwa ada beberapa bentuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan Liputan Islam.Com menjelaskan : “Roh” adalah sebuah objek nyata yang eksis objektif, ada ukuran tertentu, bisa mengambang atau bergerak, adalah suatu bentuk lain dari eksistensi kehidupan, bukan ilusi semata-mata. Jika memang roh itu ada, maka itu berarti bahwa roh itu tidak akan hilang seiring dengan binasanya jasad kita, segala sesuatu dan hal-hal kecil atau besar, perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan semasa hidup seseorang, semuanya itu akan dibawa ke sepanjang hidupnya mengikuti roh-nya. (DI Hindu konsep ini merupakan Sarada/Keyakinan Agama yang disebut Karma Phala).  Sir Oliver Lodge, salah seorang fisikawan terbesar sepanjang masa, menyatakan adanya kehidupan setelah kematian setelah menggunakan penelitian ilmiah untuk membuktikannya. Dia adalah pendiri Society for Physical Research. Kehidupan dan pikiran tidak pernah menjadi fungsi dari tubuh materi, mereka hanya menampilkan diri sendiri dalam bentuk organisme material. Jadi secara ilmiah memang pemikiran Dinamisme itu benar adanya. Diprediksi bahwa di tahun-tahun mendatang fisika kuantum akan menjadi metode revolusioner yang benar-benar menunjukkan kehidupan setelah kematian.

Naturisme adalah personifikasi dan penyembahan kekuatan alam seperti matahari, bulan, dan bintang, api, gunung berapi, badai, dan hewan. Bentuk penyembahan seperti ini sudah lazim dalam agama orang-orang kuno, seperti halnya matahari yang diagungkan dalam agama Mesir kuno. Gagasan-gagasan naturistis ternyata juga muncul dalam agama-agama yang lebih "tinggi", seperti sapi suci oleh orang-orang Hindu di India atau gunung suci orang-orang Shinto Jepang. Naturisme, yang berupa  penyembahan terhadap entitas spiritual yang dipercaya dapat mengatur fenomena alam. Paham seperti ini tidak hanya terdapat dalam agama suku yang liar dan buas sebelum mereka berhubungan dengan peradaban, namun paham tersebut juga menjadi dasar filsafat orang-orang Hindu, Buddhis, Shinto, Konfusianis, dan Islam, dan juga menjadi landasan cerita-cerita takhayul orang-orang Kristen di Eropa, selain juga mitologi dari Mesir, Babilonia, Siria, Yunani, Roma, dan Skandinavia. (C. Gordon Olsen,  Animism: The Religions of Nonliterate Tribal Peoples)

Pada dasarnya spiritual adalah karakteristik yang dimiliki oleh setiap agama di dunia. Maka boleh dikatakan bahwa hakikat dan esensi agama adalah animisme (EB Taylor, Animisme dan Magis). Animisme adalah bentuk pemikiran paling tua, yang dapat ditemukan dalam setiap sejarah peradaban manusia. Perkembangan masyarakat primitive mengenai roh dan magis menurut Taylor berkembang seperti elemen-elemen lain.


Ciri yang menonjol dari struktur masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa pada masa Hindu-Budha adalah didasarkan pada aturan-aturan hukum adat serta sistem religinya, yaitu animisme-dinamisme yang merupakan inti kebudayaan dan mewarnai seluruh aktifitas kehidupan masyarakatnya. Hukum adat sebagai norma yang mengikat kehidupan mereka begitu kuat sehingga masyarakatnya bersifat statis dan konservatif.

Di Tiongkok misalnya, masih banyak masyarakat setempat yang menganut paham Animisme.Begitupun dengan masyarakat India. Bahkan, sebagian masyarakat Eropa & Asia Barat pun masih percaya dengan animisme. Di kawasan Jazirah Arab, sebagian masyarakat masih percaya pada kesaktian padang Sahara. Fir'aun masih di yakini sebagi sosok yang masih memiliki kekuatan walaupun jasadnya telah rusak. Dari semua penelusuran ini dapat di simpulkan bahwa lahirnya kepercayaan animisme di Indonesia adalah berasal dari pengaruh bangsa lain.

Sedangkan di Jepang yang teknologinya sudah sangat maju, tapi orang Jepang pada saat ini mencari nafkah dengan bertani dan mencari ikan. Banyak yang menerima kebaikan dari alam dan juga menggantungkan hidup dari kemurahan alam. Dan tanpa sadar mereka jadi percaya bahwa dalam gejala alam terdapat dewa (tuhan) yang tidak terlihat, berbuat kebaikan sekaligus memusnahkan. Timbul pemikiran "Animisme" di mana dewa berdiam dalam gunung, batu karang, maupun pepohonan, percaya bahwa dewa ada di setiap benda. Gerakan ini timbul dengan sendirinya, meluas ke semua daerah di Jepang, dan dimulailah kepercayaan terhadap dewa-dewa. Karena itu, di Shinto tidak ada pendiri agama maupun kitab suci tertentu."Shinto" yang merupakan kepercayaan khas negara Jepang, mempercayai tidak hanya satu dewa, melainkan "Delapan Juta Dewa", atau dengan kata lain, dewa di mana-mana.Di tiap daerah dibuat "Jinja" (kuil agama Shinto) tempat menyembah dewa.Meskipun orang Jepang dikatakan menganut politeisme, namun sebenarnya lebih cenderung menganut "animisme", yaitu pada dasarnya mereka menyembah alam.
Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu menelrima berbagai macam pengaruh, baik cultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang.  Antara tradisi-tradisi  asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hamper sama. Dalam bidang spiritual pertemuan antara tradisi asli Jepag dengan  pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran agama baru yaitu Agama Shinto.  Agama Shinto yang merupakan perpaduan antara paham serba roh  (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki roh atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap punya  kemampuan untuk bicara, semua roh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan “Kami”. Istilah “Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata “Kami” tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain.


Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewa melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra (Zoroaaster) atau di Agama Hindu yang dikenal dengan Rwa Bhineda (Dua yang berbeda).
Di negeri tersebut terdapat ratusan ribu kuil dengan ciri khas pintu gerbang berwarna jingga yang disediakan khusus bagi mereka yang berTuhan tapi tidak beragama. Kuil tersebut bisa didatangi atau dimasuki oleh siapa saja dengan bebas. Pada dasarnya orang Jepang sama sekali tidak memerlukan agama dalam kehidupan mereka sehari hari. Mereka hanya memerlukan tempat untuk berdoa.  Berdoa kepada siapa? Berdoa kepada siapa saja yang mereka percayai. Berdoa kepada Tuhan atapun berdoa pada diri sendiri.

Kapan sih waktu sembahyang atau waktu mereka berdoa? Jawabannya adalah tidak ada waktu dan jam khusus untuk berdoa. Kebanyakan orang hanya berdoa disaat berkunjung atau wisata ke kuil, mengantar krabat atau kenalan.
Kuil didiirikan tidak semata mata untuk berdoa tapi juga menunjukkan rasa hormat dan kecintaannya pada  apa yang dipuja atau dikagumi, bisa Tuhan atau keindahan alam. Shinto sendiri artinya Jalan Tuhan, yang artinya mungkin banyak jalan menuju Tuhan, kemanapun kita pergi, walau ke tempat terpencil atau puncak gunung sekalipun pasti ada Tuhan

Di Malaysia  Praktik animisme masih aktif dan dipraktikkan secara terbuka atau tertutup tergantung pada jenis ritual animisme yang dilakukan. Beberapa bentuk kepercayaan animisme tidak diakui oleh pemerintah sebagai agama untuk keperluan statistic, meskipun praktik tersebut tidak dilarang..Animisme di praktikkan terutama oleh orang Melayu di Semenanjung Malaysia oleh orang yang di kenal sebagai bomoh, di nyatakan juga di kenal sebagai dukun / pawang. Di Malaysia Timur, animisme juga di praktikkan oleh jumlah yang semakin menurun dari berbagai  kelompok suku di Kalimantan. 

Kepercayaan Animisme Masyarakat Tanah Melayu berbentuk kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus atau kekuatan  gaib. Juga adanya kepercayaan kepada benda hidup/tidak hidup yang dipandang mempunyai roh  seperti gunung, pohon besar, batu-batu besar, sungai dan sebagainya. Juga kepercayaan kepada makhluk halus seperti jin, hantu, penunggu dan sebagainya yang bisa  memberikan  rezeki, kesehatan, keharmonian ataupan sebaliknya.Kepercayaan ini diwujudkan dengan mengadakan upacara-upacara pemujaan seperti puja pantai di Terengganu, selamatan padi di Pahang, ketika mulai menanam padi, turun ke laut, masuk hutan dan melakukan pengobatan penyakit.Di perkirakan bahwa di provinsi Kalimantan masih terdapat 7,5 juta orang Dayak Kendayan yang tergolong pemeluk animisme.


PANDANGAN ISLAM TERHADAP ANIMISME.
Islam tidak membenarkan agama animisme sebab hal itu adalah syirik (menyekutukan Allah) dan orang yang menjalankannya dinamakan musyrik.Islam mengajarkan bahwa orang tidak boleh menghormati dan menyembah selain Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam syahadat yang pertama.Roh adalah rahasia Allah dan kita tidak diberikan pengetahuan kecuali hanya sedikit.Dalam masyarakat Islam roh itu biasanya didoakan, dan dimintakan ampun bukan malah dimintai bantuan seperti aliran animisme.

Dari Berbagai Sumber

0 komentar:

Posting Komentar