Jumat, 04 Agustus 2017

BALI DIMATA RAFFLES 2

THE HISTORY OF JAVA


Saya pernah membaca cuplikan History of Java ini sekitar 25 tahun yang lalu. Saya terkesan karena ada  tercantum mengenai  adat dan budaya Bali yang sampai kini masih lestari di Bali sepetrti Pawukon, Nama Hari yang jumlahnya Lima  (Legi, Paing …… Kliwon), upacara kelahiran bayi.  Ada juga sekilas saya baca mengenai Pupuh-Pupuh,  yang masih biasa dilantunkan di Bali, tercantum dalam buku History of Java, dll.



History of Java merupakan buku karya  Raffles tahun 1817  yang terdiri atas dua jilid, yaitu uraian inti tentang Jawa secara lengkap dan  informasi tambahan. The History of Java lebih dari sekedar rekam jejak seorang Thomas Stamford Raffles,. Semua dilakukan Raffles selain karena tugasnya sebagai wakil Inggris di Hindia Timur, juga karena keterikatannya pada tanah subur yang eksotis itu.

Raffles yang saat itu menjabat sebagai Gubernur-Jendral di Hindia-Belanda,  "Raffles memang fenomenal. Dia seperti komet. Pada usia 35 tahun, sudah menjadi Letnan Gubernur di Jawa. Menurut saya, dia adalah figur menarik dalam sejarah Inggris," ujar Peter Carey, sejarawan dan pengarang asal Inggris . "Buku ini (The History of Java) memiliki segudang pengetahuan dan merupakan warisan dari leluhur," kata Peter.
Menurut Prof. Farish Ahmad Noor, Head of the Doctoral Programme, Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University, Singapura, buku The History of Java memiliki kekuatan yang hebat, juga menarik untuk dibaca karena tak hanya berisi soal sejarah Jawa, tetapi juga berisi sejarah Raffles.
Dalam menulis bukunya Raffles dibantu oleh Juru Bahasanya Raden Ario Notodiningrat dan Bupati Sumenep Notokusumo II. History of Java berisi antara lain tentang 11 pokok bahasan yang diulas secara detail.

Buku ini juga mengisahkan, pada saat Raffles berada di Jawa, terjadi letusan gunung api dengan energi terbesar didunia dalam masa sejarah umat manusia. Yaitu letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada tahun 1815. Dan, Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya sampai efek-efek dan dampak-dampak kerusakannya.



GUNUNG TAMBORA 1815

Catatannya menjadi penting karena keadaan geografi, kepadatan penduduk, sistem pertanian, sistem perdagangan, adat-istiadat dan budaya serta kehidupan sosial-politik masyarakat di tanah Jawa kala itu dituliskan  secara detail dan menyeluruh.
Juga menceritakan tentang upacara adat penyambutan kelahiran bayi, pernikahan, dan kematian.

Raffles di Jawa
Selain buku The History of Java, nama Raffles dikenal karena penemuan Candi Borobudur. Nama Candi Borobudur pun dibuat oleh Raffles, awalnya bernama Borebudur, artinya 'candi budur di dekat Desa Bore', lalu diubah menjadi Borobudur.
Sejak ditemukan Raffles pada 1814, Borobudur terus mengalami upaya penyelamatan dan pemugaran, sampai akhirnya bangunan megah tersebut masuk dalam daftar situs warisan dunia.

Jasa Raffles lainnya adalah warisan berupa sistem birokrasi dan administrasi. Pria yang lahir di Jamaica ini mengganti sistem tata kelola tanah, dari tanam paksa menjadi sistem penyewaan tanah yang lebih menguntungkan pihak penggarap dan penyewa.
Beberapa hal yang diusahakan oleh Raffles antara lain menghentikan perdagangan budak, menghapuskan kerja rodi dan sistem monopoli, menyelidiki flora dan fauna Indonesia, meneliti peninggalan-peninggalan kuno seperti candi dan sastra, juga meneliti dokumen-dokumen sejarah Melayu. Di dalam The History of Java masalah perbudakan hanya disinggung secara singkat oleh Raffles namun tetap dengan keberpihakan yang jelas

Saat istrinya, Olivia Mariamne, wafat pada 1814, Raffles memakamkan istrinya di tempat yang saat ini menjadi Museum Prasasti, Jakarta. Ia pun membangun monumen peringatan untuk mengenang kematian sang istri di Kebun Raya Bogor.


Description: https://ipsimages.photoshelter.com/img/pixel.gif
Monumen Olivia Mariamne

Hal menarik lainnya adalah mengenai pendapat seorang Raffles tentang karakter orang Jawa. Berbeda dengan orang Belanda, Raffles melihat orang Jawa secara positif. Tidak ada lagi propaganda tentang orang Jawa yang malas, pemarah, dan pembohong sebagaimana yang biasanya dicitrakan kolonial Belanda. Mengenai pandangan orang-orang Belanda terhadap orang Jawa dapat dilihat pada catatan resmi yang diberikan oleh Residen Dornick dari Distrik Jepara pada tahun 1812. Dornick dalam catatan resminya, sebagaimana dikutip Raffles, menyebutkan bahwa, “Orang Jawa yang berkelas, atau dalam keadaan yang makmur,  mereka akan terlihat sebagai orang yang percaya takhayul, sombong, pencemburu, suka membalas dendam, kejam, dan bertindak seperti budak pada atasannya, keras dan kejam pada para bawahannya, dan pada orang-orang yang tidak beruntung yang tunduk dalam wewenang mereka, mereka juga malas dan lambat.”. Sebaliknya, Raffles menyebut masyarakat Jawa sebagai penduduk yang dermawan dan ramah jika tidak diganggu dan ditindas. Orang Jawa dalam hubungan domestik memiliki sikap baik, lembut, kasih sayang, dan penuh perhatian. Sedangkan dalam hubungan dengan masyarakat umum orang Jawa adalah orang yang patuh, jujur, dan beriman, memperlihatkan sikap yang bijaksana, jujur, jelas dalam berdagang dan berterus terang

Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran tentang perbandingan kosakata bahasa Melayu, Jawa, Madura, dan Lampung. Begitu kayanya data dalam buku ini membuat sang penulis seakan-akan telah menulisnya berdasarkan observasi puluhan tahun. Satu hal yang menjadi kesan bagi pembaca di Indonesia adalah gaya penulisan Raffles yang simpatik, sekalipun itu menjadi nostalgik bagi pembaca di Barat. Dengan begitu, Raffles selamat di dua sisi mata uang sekaligus. Ia mencintai Indonesia tanpa perlu menjadi benalu bagi semangat kolonialisme yang mewabah di negara-negara barat. Bagi sebagian orang, Raffles menjadi sebuah nama bagi pengandaian tentang kolonialisme yang indah.

Raffles telah mencatat semua hal mengenai Tanah Jawa secara lengkap, cermat, dan teliti tanpa melewatkan sepotong informasi pun. Ia tidak hanya mengisahkan sejarah sebagai rentetan peristiwa yang menembus dimensi ruang dan waktu, tapi ia juga melengkapinya dengan informasi kuantitatif. Angka-angka yang merekam fenomena yang terjadi pada masanya:

Informasi demografis penduduk Pulau Jawa dan Madura yang disajikan Raffles dalam bukunya, yang merupakan hasil sensus penduduk yang dilakukan Pemerintah Inggris pada 1815 itu dirangkum dalam tabel-tabel statistik yang untuk menyusunnya dibutuhkan kecermatan, ketelitian, dan logika yang lurus. Melalui tabel-tabel itu, kita jadi tahu bahwa total penduduk Pulau Jawa saat itu sekitar 2 juta orang, lengkap dengan informasi sebarannya menurut jenis kelamin, profesi, suku bangsa, dan Karasidenan. Dan patut dicatat, semua informasi itu dikumpulkan pada 1815, ketika nenek moyang kita tengah larut dalam mitos dan dunia supranatural.

Juga tercantum  tabel-tabel yang memuat informasi mengenai produksi sejumlah komoditas pertanian di Pulau Jawa seperti padi, jagung, tanaman perkebunan, dan aneka hewan ternak. Pantaslah  kita menjadi bangsa terjajah kala itu. Tak tanggung-tanggung lamanya hingga ratusan tahun. Kita dijajah oleh bangsa Eropa yang unggul dan tangguh dalam persenjataan dan ilmu pengetahuan. Di saat sebagian besar nenek moyang kita tengah terkungkung dalam keterbelakangan, buta huruf dan tak tahu baca tulis, kaum penjajah telah menggunakan statistik. Sesuatu yang hingga saat ini masih asing di telinga banyak orang Indonesia. Buku Raffles telah meneguhkan bahwa statistik merupakan bagian yang tak terpisihkan dari sejarah. Statistik mencatat sejarah secara obyektif tanpa peduli siapa yang menjadi pemenang dan penguasa. Dalam menulis bukunya, dia banyak mengumpulkan statistik, obyek-obyek material juga disertakan, mulai lukisan, ukiran kaju dan logam, baju adat, alat musik, specimen tumbuhan,  rangka dan kulit binatang.


0 komentar:

Posting Komentar