Senin, 11 September 2017

BALI DIMATA RAFFLES (V)

THE HISTORY OF JAVA,  Bab  VII
                                                                             
Dalam Bab VII, dilukiskan tentang : Tanda-Tanda Kebesaran,  Derajat dan Pangkat, Upacara Kelahiran, Penduduk Pegunungan Tengger, Kesenian,  Pertarungan dan Pertanian seta Adat dan kebiasaan yang Lain.

Tanda-Tanda Kebesaran.
Singasana raja adalah sebuah kursi besar bersandaran, atau kursi yang dihiasi emas dan perak, dengan bantalan dari beludru yang disebut dampar. Diantara tanda-tanda kebesaran, meliputi benda-benda keemasan, seperti hasti atau gajah, harda walika atau nanagan berbentuk ular naga, jajawen santing berbentuk banteng, sangsam berbentuk kijang, dan sawung galing berbentuk ayam jantan.  Ketika raja pergi ke luar keraton, dia diikuti oleh banyak prajurit dengan tombak (whaos). Tugas delapan orang dari mereka adalah membawa benda-benda keramat berupa gajah dan banteng, yang didekatnya juga dikendalikan empat ekor kuda yang didandani mewah. Payung kerajaan atau payung kenegaraan dibawa di depan arak-arakan  Ornamen negara atau tanda-tanda kebesaran terbuat dari emas yang ditempa dengan baik. Perisai kerajaan yang mewah bertahtakan batu-batu berharga , dan keris kerajaan tergantung pada sabuk dengan sarungnnya yang bertaburan permata

Derajat dan Pangkat.
-       Raja ditandai dengan payung keemasan
-    Sang ratu dan anggota keluarga kerajaan lainnya menggunakan payung berwarna kuning
-    Keluarga dari ratu dan keluarga raja bersama para selir-selirnya menggunakan payung putih
-       Bupati dan Tumenggung menggunakan payung warna hijau dengan diberi pinggiran dan puncak berwarna emas
-       Anggabei, Rangga, Mantri dsb. menggunakan payung warna merah
-     Kepala desa dan para pemimpin rendahan lainnya menggunakan payung warna gelap

Raja di sebut Sultan, dan istri raja disebut Ratu. Menteri yang menjalankan perintah atas nama raja disebut Patih. Pemimpin yang dipekerjakan untuk memerintah di Provinsi dinamakan Pratiwa, Punggawa, Niaka, atau Bupati.  Kepala desa biasa dipanggil Umbul, Petingi, Babakal, Babahu, Lurah atau Kuwu. Komandan perang disebut Senopati.  Pasukan disebut  Prajurit. Mereka yang dipekerjakan untuk menjaga negara dari ancaman musuh,  disebut Pechat tanda, Tamping, atau Hulubalang. Wedana Gedong adalah gelar yang diberikan kepada orang yang dipercaya untuk mengurusi penyimpanan harta milik raja, dan juga pengumpulan penghasilannya. Sekertaris disebut Carik. Sedangkan Tanda dan Sabandar adalah gelar dari pegawai yang mengumpulkan bea atau pajak di pasar-pasar dan disepanjang jalan.

Upacara Kelahiran.
Begitu mengetahui bahwa seorang wanita Jawa telah mengandung tiga bulan, ia harus mengabarkannya kepada semua kerabat dekat dan memberikan nasi kuning, minyak yang berbau manis dan lilin yang besar. Setelah usianya tujuh bulan maka ia harus mengadakan perayaan dengan mengundang seluruh kerabatnya dan menyajikan nasi kuning. Wanita yang hamil membasuh badannya dengan air kelapa muda yang hijau, yang sudah digambari dua tokoh wayang Jika seorang wanita melahirkan anak laki-laki, maka ari-ari anak tersebut harus segera dipotong dengan menggunakan pisau tajam atau bambu, dibungkus dengan selembar kertas yang ditulisi huruf jawa, kemudian diletakan dalam sebuah pot yang baru, dikubur ditanah, diberi lampu, ditutup keranjang bambu, kemudian dihiasi dengan daun pandanri. Lampu tersebut dijaga untuk tetap menyala hingga tali pusar bayi dilepas atau ari-ari tersebut dibuang ke laut. Selama itu, bayi dijaga semalam suntuk oleh orang yang membaca cerita tentang dewa-dewa atau orang terkenal, atau menghibur diri mereka dengan pertunjukan wayang.

Pada hari pernikahan ayah dari pengantin perempuan pergi ke masjid dengan pengantin laki-laki, dan memberi tahu kepada penghulu bahwa laki-laki yang datang bersamanya setuju untuk memberikan sri kawin (sekitar 2 dolar. Setelah menyatakan penegasan, Penghulu menyucikan pernikahan tersebut dengan kata-kata sebagai berikut : "Saya mempersatukan kamu, raden mas (pengantin laki-laki), dalam sebuah ikatan perkawinan dengan satia (pengantin perempuan), dengan maskawin dua barang dari emas dan perak,….. Tidak ada bagian dunia, dimana perceraian terjadi sesering di Jawa. Hal ini dikarenakan adanya kebolehan pada hukum Islam untuk bercerai.

  
Pernikahan tempo doeloe

Untuk penguburan mayat, Setelah mayat dimandikan, kemudian dibungkus dengan kain putih, lalu dibawa keluar rumah dengan menggunakan tandu jenazah yang ditutupi dengan kain  berwarna-warni dan untaian bunga digantung seperti gorden. Semua teman dan kerabat menemani jenazah menuju pemakaman. Pesta makan-makan diadakan untuk memperingati kematian. Pertama pada saat hari meninggalnya, kedua pada hari ketiganya, ketiga pada hari ketujuh meninggalnya, keempat pada hari keempat puluh, kelima pada hari keseratusnya, keenam pada hari keseribu kematiannya. Juga tiap tahun diadakan pesta makan-makan untuk memperingati kematiannya.

Penduduk Pegunungan Tengger.
Satu-satunya tempat  dimana upacara dan doktrin dari agama Hindu yang masih ada hingga sekarang di Jawa. Mendiami kurang lebih 40 desa yang tersebar di sepanjang rangkaian perbukitan. Kepala desa mendapat gelar Petinggi dan dibantu oleh seorang Kabayan. Dukun pada umumnya adalah orang yang pandai. Memiliki kitab. ditulis diatas daun lontar. Ketika seorang wanita melahirkan anak pertamanya, dukun mengambil daun dari rumput alang-alang, dan menggosokan tangan ke tangan dari sang ibu dan bayi nya, seperti tanah, sambil mengucapkan doa pendek. Ketika pernikahan disetujui, pengantin laki-laki dan wanita di bawa kehadapan dukun di dalam rumah. Pada jamuan pernikahan, dukun mengulangi doa puja. Sedangkan untuk penguburan penduduk Tengger, jenazah dimasukan kedalam kubut dengan kepala berada disebelah selatan. Jenazah dijaga jangan sampai bersentuhan dengan tanah dengan ditutupi bambu dan papan. Penduduk Tengger mempercayai dewa yang Maha Kuat, nama dewa ini disebut Bumi Truka Sang  Hyang Dewata Batur, dan keterangan ibadah mereka dicantumkan dalam buku Panglawu. Mereka hidup hampir tanpa ada kejahatan, dalam keadaan damai, teratur, jujur, rajin dan bahagia. Jumlah penduduknya sekitar seribu dua ratus jiwa. Bahasanya tidak banyak berbeda dengan bahasa Jawa, meskipun lebih banyak tekanan dalam pengucapannya. Suku Badui, jumlahnya tidak terlalu banyak, dan tinggal di pedalaman Bantam (Banten). Mereka keturunan dari orang-orang yang lari kedalam hutan setelah runtuhnya bagian barat kota Pajajaran. Uang yang mereka hargai adalah dollar Spanyol

Perayaan dari orang Jawa terdiri dari tiga macam : grebeg atau pesta keagamaan; membacaki atau menyelamati. Yang paling penting dari semua perayaan adalah perayaan nasional yang berkaitan dengan perayaan Islam seperti maulud, puasa dan gerebeg besar.



Tari Singo Ulung

Kesenian.
Pertunjukan drama terdiri dari dua macam, yaitu topeng dan wayang. Tokoh yang berada di dalam topeng diambil dari cerita petualangan Panji, seorang pahlawan  favorit dalam cerita Jawa. Musik gamelan mengiringi pertunjukan dan dilantunkan dalam berbagai ekspresi.  Lawakan, dibawakan untuk meningkatkan gairah penonton. Pada pertunjukan wayang atau pertunjukan bayangan, temanya merupakan cerita fabel yang diambil dari sejarah pada periode yang paling awal, hingga keruntuhan kerajaan Hindu Majapahit.

Cerita wayang dibedakan menurut periode sejarah yang mereka angkat, dengan istilah wayang purwa, wayang gedog, dan wayang klitik. Wayang Purwa  adalah wayang paling awal dari perjalanan sejarah yang hebat hingga ke pemerintahan Parikesit dalam   cerita kepahlawanan dalam Baratayudha. Wayang Gedog. Cerita ini diambil dari periode sejarah setelah Parikesit, yang dimulai dari masa pemerintahan Gandrayana dan mencakup petualangan serta masa pemerintahan Panji. Wayang Klitik yang lebih menunjukan wayangnya daripada bayangannya. Wayang tersebut terbuat dari kayu dengan tinggi sekitar 25 cm. Ceriteranya  diambilkan dari mulai dengan berdirinya kerajaan di wilayah barat, yaitu Pajajaran dan diakhiri dengan runtuhnya kerajaan didaerah timur, yaitu Majapahit. Seorang dalang mengatur dan menggerakan pertunjukan ini.

Tarian pada masyarakat Jawa, terdiri dari gerakan tubuh yang indah, dan dengan gerakan tangan serta kaki yang lambat, terutama pada bagian awalnya. Tari Serimpi terdiri dari empat gadis, dibedakan dengan derajat keindahan dan kepantasan yang tidak biasa.  Penarinya jarang berusia lebih dari 14 atau 15 tahun. Tari Bedaya , sebuah tarian yang ditampilkan oleh delapan orang penari, yang dalam beberapa hal ditunjukan untuk para bangsawan, sedangkan serimpi untuk sang raja. Tari Ronggeng selalu dipertontonkan di setiap acara festival atau pesta, dan para Bupati sering mengambil  yang paling menawan dalam pertunjukan mereka untuk beberapa tahun.  Pertunjukan ronggeng biasanya diwarnai dengan aksi lucu atau lawakan. Gambuh dan Niutra. dilakukan oleh para pria. Tarian gambuh adalah tarian yang dimana penarinya memegang prisai pada satu tangan dan pada tangan lainnya mengangkat dodot dengan cara yang anggun., sedangkan pada tarian Niutra para penarinya membawa busur dan anak panah di tangan, lalu membuat gerakan seperti sedang memanah, menarik dan mengulurkan busur-busur sesuai irama gamelan. Pertunjukan Beksa  diperankan oleh laki-laki dimana dalam tariannya menggambarkan para penduduk laut selatan.

Pertarungan dan Pertanian.
Rusa jantan diburu, terutama di wilayah timur dan barat pulau, oleh suku Sunda dan Bali.. Tontonan nasional yang paling disenangi adalah pertarungan antara kerbau dan macan. Dalam pertarungan ini, kerbau dirangsang secara terus menerus dengan menggunakan air mendidih yang dituangkan ke atasnya. Jarang sekali kerbau meraih kemenangan. Macan yang masih bisa bertahan akan dibantai dengan cara rampong. Pertarungan antara Penjahat dengan Macan sudah dikenal secara umum sejak berdirinya kerajaan Mataram. Kebiasaan ini masih terjadi selama pemerintahan Sultan Yogyakarta yang telah dihilangkan oleh pemerintah Inggris pada tahun 1812. Adu banteng adalah hal yang umum diadakan di Madura dan di bagian timur dari pulau ini.. Adu burung puyuh (adu gemak) dan adu ayam jantan (adu jago) sudah sangat umum,. Orang Jawa tidak memiliki kebiasaan memasang taji pada ayam mereka. 



Pertarungan Lembu dan Macan.

Permainan telaga tari tercatat sebagai permainan yang paling tua. Cara permainannya dengan menebak jumlah kacang dalam genggaman. Dua atau tiga orang biasanya memainkan permainan ini.

Adat dan Kebiasaan Lain.
Mewarnai gigi menjadi hitam, mewarnai cuping telinga dengan warna cerah, populer di semenanjung timur India hingga Cina, menyebar luas hingga ke Papua. Tindakan memoles wajah, badan, kaki dengan bedak kekuning-kuningan, penggunaan kain sutra berwarna kuning atau satin untuk amplop surat-surat antar raja, menunjukan penghargaan pada warna tersebut yang berlaku di pulau-pulau lain, seperti Ava, Siam dan Cina.

Keris yang dipakai oleh orang Jawa, adalah satu-satunya yang ditemukan di pulau tersebut dan juga Semenanjung Malaya. Perbudakan, seperti yang dilakukan Eropa, tidak dikenal oleh lembaga kuno di pulau ini.. Sebelumnya, transaksi uang mendapat tempat yang lebih luas daripada yang dilakukan sekarang. Dalam masalah keuangan, wanita dianggap lebih unggul. Para lelaki mempercayakan masalah keuangan seluruhnya keada istrinya. Laki-laki Jawa bodoh dalam hal keuangan. Orang Jawa sangat menghargai nilai kebersihan. Di bawah sistem pribumi, bunyi alat tumbukan padi bisa menjadi tanda peringatan, dan itu tergantung gaya memukulnya. Para penduduk tahu apakah yang sedang diumumkan.


0 komentar:

Posting Komentar