Senin, 23 Oktober 2017

BALI DIMATA RAFFLES.

Pengantar
Tulisan Raffles mengenai Bali sekitar tahun 1813 an, memberikan gambaran  bagaimana Bali pada waktu itu, meskipun apa yang disajikan belum tentu semuanya seperti yang digambarkan. Bila Bali dilukiskan tidak seperti apa adanya, kita tidak perlu merasa kecewa dan tidak juga perlu berbangga bila disanjung. Juga mungkin banyak hal-hal yang ditulis Raffles tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada waktu itu. Cukup dimaklumi, karena seperti itulah apa yang dia dengar dari penjelasan orang-orang yang dijumpainya, dan orang  yang member keterangan itu,  juga belum tentu paham dengan apa yang disampaikannya.  Tapi bagaimanapun juga mungkin pandangan Raffles ini dapat dipakai untuk mulat sarira bagi krama Bali. Astungkara.


Pulau Bali
Pulau Bali
Disebelah  timur Jawa terletak pulau Báli. Tempat menarik ini menunjukkan struktur mineralogi yang sama dengan Jawa, dan mungkin pada satu periode sebelumnya, keduanya merupakan satu  pulau yang sama. Memiliki iklim yang sama dan tanah yang sama, memiliki pegunungan, dan sungai yang cocok untuk tujuan irigasi, serta memiliki tingkat kesuburan yang sama; namun memiliki pantai  tanpa pelabuhan atau tidak memiliki pelabuhan yang bagus. Sehingga  terlepas dari  perdagangan internasional, terutama dengan pedagang dengan  kapal-kapal besar. Karena kemerdekaan yang panjang, dan  telah lama berpijak kepada  budaya mereka sebelumnya , maka ciri-ciri yang paling mencolok dalam karakter penghuninya adalah, dari ritus keagamaan mereka yang khas. Penduduk asli Báli, meskipun sosok aslinya  sama dengan orang-orang Jawa, tetapi banyak hal yang menunjukkan beberapa perbedaan mencolok, tidak hanya dalam perilaku mereka dan tingkat peradaban yang telah mereka capai, namun juga penampilan dan tubuh mereka. Mereka berada di atas ukuran menengah Asiatik, dan melampaui, baik  tinggi maupun otot tubuh  orang Jawa maupun Malayu

Masyarakat Bali
Meskipun menganut agama Hindu, (yang di India barat membentuk karakter Hindu yang paling lunak), mereka masih memiliki banyak keberanian dan kehendak asli. Ketidak pedulian umum mereka terhadap penindasan yang mereka hadapi, humor yang baik, bersama dengan animasi dari energi superior mereka, sehingga secara alami lebih ekspresif dibandingkan dengan  gaya masyarakat Jawa, Mereka juga aktif dan giat, dan terbebas dari ketidak berdayaan dan ketidak pedulian yang bisa diamati pada masyarakat  di Jawa. Bagi orang asing, perilaku mereka tampak spontan, tidak biasa, kasar. Tapi setelah berkenalan lebih lama, akan nampak  kejujuran mereka yang tak tergoyahkan dan  kepercayaan serta  rasa hormat timbal balik. Wanita mereka, menunjukkan kesetaraan sempurna dengan para pria, jujur,  tanpa pamrih dan tidak diwajibkan untuk melakukan banyak pekerjaan berat dan merendahkan yang dipaksakan seperti  pada wanita di Jawa. Dalam hubungan rumah tangga mereka sopan, santun,  ramah, dan  hormat. Wanita tampaknya telah memperoleh harga diri yang relatif lebih tinggi daripada yang diperkirakan bisa dicapai. Perilaku orang tua terhadap anak-anak mereka halus  dan lembut, dan ini didukung oleh ketaatan  anak yang baik. Kepada pemimpin mereka, mereka menunjukkan penghormatan yang tinggi, sedangkan di antara mereka sendiri mereka berdiri di atas pijakan kesetaraan. Di mata mereka Raja mereka suci, yang menimbulkan ketaatan tanpa pamrih; tanpa menuntut atas ketundukan mereka. Karena itu orang Eropa atau penduduk asli,   terbiasa dengan sopan santun seperti  orang-orang Jawa, atau dengan sopan santun khas Melayu. Dalam seni mereka berada jauh di belakang masyarakat Jawa, meskipun mereka tampaknya mampu maju dengan cepat. Sekarang mereka adalah orang yang sedang naik daun. Tidak terdegradasi oleh despotisme atau dilemahkan oleh kebiasaan kebosanan atau kemewahan., Mereka  bertekad untuk lebih adil,  untuk mencapai  kemajuan dalam peradaban dan pemerintahan. Mereka adalah orang–orang  dengan keburukan seperti :  kemabukan, kebebasan, dan perselingkuhan:

Menyabung Ayam

Hasrat utama mereka adalah bertempur, berjudi dan sabung ayam. Semangat, cara hidup mereka, dan cinta kemerdekaan mereka, membuat mereka hebat dari daerah-daerah yang lebih lemah. Mereka kemungkinan besar berasal dari orang-orang Jawa sebelumnya. Pulau Báli terbelah saat ini menjadi tujuh negara bagian (kerajaan) yang berbeda, masing-masing independen dari yang lain, dan tunduk pada pemimpinnya sendiri-sendiri. Populasi negara-negara ini diperkirakan berjumlah seluruhnya di atas delapan ratus ribu jiwa. Perkiraan ini terbentuk dari jumlah laki-laki yang giginya telah didaftarkan, dimana di negara-negara yang berbeda berdiri dalam jumlah bulat sebagai berikut: Klungkung 30.000 Karang Asem 50.000 Badung 20.000 Buleleng 30.000 Tabanan 40.000 Mengwi 20.000 Gianyar 15.000 Taman Bali (sekarang Bangli) 10.000. Jumlah seluruhnya 215.000.
Populasi besar ini pasti meningkat sejak penghapusan perdagangan budak. Klungkung diakui memiliki kedaulatan yang paling tua. Rajanya dikatakan berimigrasi dari Jawa, pada  periode  saat seluruh pulau Báli mengakui kewenangan Majapahit. Bahkan  mereka tetap mempertahankan bukti-bukti martabat mereka, dan bekas-bekas pengaruh mereka sebelumnya. Di antara benda-benda  yang masih dilestarikan: keris, dan barang-barang lainnya milik Majapáhit, sehingga raja-raja lainnya mengenalinya dari mana mereka berasal. Orang pertama yang dikatakan telah mendirikan agama dan pemerintahan yang masih eksis, adalah Déwa Agung Ketut (Kresna Kepakisan), putra Rátu Brawijáya dari Majapáhit di Jawa. Penyebab berakhirnya Jawa terkait dengan orang-orang  Bali, karena : "Brawijáya diberitahu oleh kepala Brahmána, bahwa yang  tertulis dalam sebuah buku suci bahwa setelah berakhirnya empat puluh hari tampuk pemerintahan,  Rája Majapáhit akan punah.  Karena itu pada saat berakhirnya tampuk pemerintahan, Anak laki-lakinya, agar tidak terkena  kutukan dari buku tersebut, dipindahkan ke Báli dengan sejumlah pengikut, dan mendirikan otoritasnya di Klungkung, mengambil gelar sebagai penguasa tertinggi, yang tetap memiliki jabatan  turun temurun sebagai  Raja Klungkung". (Dari Babad-Babad Dalem yang ada di Bali, apa yang ditulis oleh Raffles ini, berbeda).

Pertanian.
Penduduk Báli, seperti orang Jawa, pada prinsipnya bekerja di bidang pertanian. Pulaunya subur  dan ltempatnya   sangat terbatas. Beras adalah hasil utama dari Bali. Di daerah pegunungan, pertanian mendapat kendala  dalam hal pengairan, yang mengandalkan musim hujan, karena itu  lahannya diirigasi dengan pasokan air yang melimpah dari sungai. Di beberapa tempat, seperti di Kárang Asem,  panen padi diperoleh dua kali  dalam satu tahun; tapi  bagian terbesar panen hanya diperoleh satu kali dalam setahun. Di musim kemarau, sawah ditanami jagung.

Perempuan tidak ikut bekerja, seperti di Jawa, untuk menanam padi: bantuan mereka di lapangan hanya diperlukan untuk menuai. Pemeliharaan ternak sama seperti di Jawa, dan hampir serupa. Sapi, kualitasnya sangat bagus, cocok untuk membajak sawah. Harga sepasang sapi jenis ini, umumnya sekitar enam dolar Spanyol, dan jarang melebihi delapan dolar. Harga beras biasa  satu pikul/100 kg (133¼ pound Inggris), sekitar tiga per empat dari dolar Spanyol. Tanah dianggap sebagai milik pribadi, tanah ini dapat diolah atau diwariskan. Tanah  dapat dijual, tanpa memerlukan  persetujuan dari atasan. Pemecahan harta ini pada umumnya sangat cepat, dan cara pengukuran tanahnya tidak terlalu pasti. Ukuran lahan dinyatakan dengan jumlah benih yang dibutuhkan untuk ditanam, yang disebut tánas (ukuran sawah di Bali kini disebut  sikut). Beberapa pemilik memiliki lima puluh tánas, sementara yang lain memiliki tidak lebih dari satu atau dua. Perumahan pribadi Raja Tua Buleleng tidak melebihi beberapa ratus tánas. Tapi meskipun pangeran/calon raja tidak dianggap sebagai pemilik sebenarnya dari wilayah kekuasaannya, tapi dia menerima bagian tertentu dari hasil  pajak. Pajak ini dibayar dengan koin Cina kecil, disebut képeng, atau sejenisnya.
.



Di Permandian

Meskipun di distrik-distrik yang lebih rendah, makanan penduduk umumnya beras, di bagian yang lebih tinggi dan lebih berangin mereka pada dasarnya mengandalkan ketela rambat  dan jagung. Makanan hewani utama yang mereka gunakan adalah daging babi, yang banyak ditemukan. Harga babi yang sedang tumbuh jarang melebihi satu dolar, dan hampir tidak sampai satu setengah dolar. Bangunan orang Báli,  berbeda dengan bangunan orang-orang Jawa,  umumnya dibangun dari dinding lumpur dan dikelilingi dengan dinding batu bata yang belum dibakar; Kota-kota utama dikatakan menyerupai kota-kota Hindu di  India. Kesenian sedikit dikembangkan. Pulau ini menghasilkan kapas dengan kualitas terbaik, para wanita di sini, seperti di Jawa, adalah produsen semua kain yang digunakan oleh suami atau keluarga mereka. Ekspor utama adalah beras, sarang burung, kain kasar, benang katun, telur asin, minyak mentah, dan minyak. Impor utamanya adalah opium (yang sayangnya banyak ditakuti penduduknya), kéyu pélet, sirih, gading, emas, dan perak. Penduduk Báli tidak menyukai kehidupan pelaut, dan bertahan sebagai  seorang pedagang. Pameran dan pasar,  sedikit dan jarang dikunjungi. Perdagangan yang terus berjalan dengan sukses terbesar adalah perdagangan budak. Harga biasa seorang budak laki-laki adalah sepuluh sampai tiga puluh dolar, dari seorang wanita dari lima puluh sampai seratus dolar. Hal yang memalukan ini, semoga segera berakhir. Undang-undang ini masih hidup, dan diberlakukan, seperti sebelumnya.

Administrasi Pemerintahan
Karakter penduduk  Báli yang paling menarik adalah cara pemerintahan mereka, hukum adat mereka, dan sistem agamanya. Di Bali dapat dilihat  jejak-jejak Hinduisme di Jawa; yang ada diantaranya disesuaikan dengan apa yang terjadi di Báli. Di Báli tidak lebih dari seratus atau  dua ratus orang Islam. Di Jawa kita menemukan Hinduisme hanya di tengah reruntuhan kuil.  dan prasasti. Di Báli,  sistem hukum, gagasan, dan  cara pemujaan,  merupakan cara atau  prilaku dalam kehidupan, dan merupakan aturan yang umum. Keadaan Báli sekarang dapat dianggap sebagai semacam gambaran  mengenai kondisi kuno penduduk asli Jawa. Hinduisme di sini  membagi masyarakat menjadi empat  gips/kasta: 1. Brahmána, 2. Satria, 3. Wesia, dan 4. Sudra.:

Raja

Raja  dibantu dalam pemerintahan internalnya oleh Kepala Perbekel; sedangkan  dalam urusan umum pemerintahannya, pengelolaan korespondensi asing, dan pengawasan hubungan luar negerinya, dibantu  oleh seorang perwira yang disebut Ráden Tumenggung. Sistem pemerintahan desa di sini seperti di Jawa. Konstitusi masing-masing desa sama. Kepala desa, disebut Perbekel, dan asistennya disebut  Kelían, petugas ini selalu dipilih dari  orang-orang di desa yang mereka tetapkan untuk memerintah. Jabatan  Perbekel adalah turun temurun, jika penerusnya mampu; dan bila terjadi kekosongan, diteruskan oleh Kelían.

Di bawah Perbekel Kepala, yang disebut Perbekel Rája, ada beberapa Perbekel Kecil, sebagai asisten petugas tersebut dalam menyampaikan perintahnya kepada Kepala Desa; dan di bawah Ráden Tumeng'gung ditempatkan sekitar seratus orang, dengan pangkat dan gelar Kelían Témpek. Banyak Perbekel desa di Buleleng memiliki gelar Gústi, yang turun temurun  dalam keluarga mereka, dan yang berfungsi untuk membedakan mereka sebagai bangsawan. Perintah militer sekarang dipegang oleh seorang kepala  Brahmana, yang diberi nama Rája Bángen Senapáti. Dia  menerima penghormatan dan penghargaan di samping Raja sendiri.

Administrasi Peradilan.
Administrasi peradilan umumnya dilakukan oleh pengadilan, yang terdiri dari satu Jáksa dan dua asisten: dalam penentuan   keputusan apa pun, beberapa Brahmana dipanggil. Keputusan mereka dipandu oleh hukum tertulis, Hukum sipil yang  disebut Degáma, Hukum kriminal disebut Agáma. Sebelum dilakukan keputusan pengadilan, tiga atau empat saksi diminta untuk mendukung tuntutan pidana. Saksi mereka diperiksa dengan sumpah, dan orang-orang dari masing-masing pihak berhak untuk bersumpah dan harus diperiksa. Cara pengambilan sumpah dilaksanakan dengan cara mengucapkan kalimat, "agar saya dan seluruh generasi saya binasa, jika yang saya katakan tidak benar”, kemudian  menahan pukulan air di tangannya, dan setelah itu  diberikan meminum air itu. Bentuk prosedur mengharuskan jaksa penuntut atau penggugat untuk didengar lebih dulu kesaksiannya dengan sumpah. Saksi-saksinya diperiksa selanjutnya, kemudian tahanan atau terdakwa dan saksi-saksin terdakwa, setelah itu pengadilan mempertimbangkan secara keseluruhan semua bukti. Tidak ada penyiksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti. Hukuman yang biasa dijatuhkan adalah hukuman mati, kurungan, dan perbudakan. Hukuman menurut Undang-undang, dalam beberapa kasus, sangat berat, di lain pihak sangat ringan.  Pencurian dan perampokan yang mengakibatkan kematian, pembunuhan dan pengkhianatan dalam beberapa kasus dihukum dengan menghancurkan anggota tubuh  narapidana dengan kapak, dan membiarkannya bertahan beberapa hari dalam penderitaan sampai kemudian. meninggal  Perzinahan dihukum dengan hukuman mati pada pria dan perbudakan abadi kepada pelaku wanita. Semua hukuman ini untuk memberikan efek jera. Raja harus memastikan setiap hukuman pidana sebelum dieksekusi, dan setiap keputusan perdata yang melibatkan perbudakan berkelompok.



Keluarga Bali

Perkawinan
Hukum adat Báli berbeda dengan yang berlaku di Jawa sehubungan dengan perkawinan dan perceraian. Di Báli, suami umumnya membeli istrinya dengan membayar sejumlah uang kepada orang tuanya.  Tiga puluh dolar adalah harga biasa. Jika tidak dapat membayar jumlah ini, maka si pria menjadi pelayan di rumah keluarga istrinya dan tinggal bersama dengan istrinya di rumah mertuanya. Tanpa memakai teori apapun tentang sejarah sistem keagamaan Báli, atau perbandingan dengan sistem di India, informasi  berikut mungkin dianggap menarik. Penduduknya, seperti yang dikatakan sebelumnya, terbagi menjadi empat kasta, diberi nama Brahmána, Sátria, Wesia, dan Súdra. Brahmána terdiri dari dua kelompok, Brahmána Siwa dan Brahmána Búdha. Yang pertama sangat dihormati, dan menahan diri untuk tidak memakan semua makanan hewani, kecuali bebek, kambing, dan kerbau: daging babi dan daging sapi dilarang. Keluarga Bramána Búdha makan tanpa makanan hewani. Brahmána Siwa dikatakan tidak melakukan ibadah di kuil-kuil, hal ini diserahkan ke kasta terendah. Brahmána dari semua golongan sangat dihormati. Brahmāna dikatakan tidak menyembah berhala, juga tidak melakukan pemujaan di kuil, tapi bersembahyang  di rumah pribadi mereka saja. Seorang Brahmana dapat menikahi wanita dengan kasta lebih rrendah, namun keturunan dari perkawinan semacam itu disebut Bujángga, yang membentuk kelas yang berbeda. Di Báli ada satu kelas orang terbuang, yang disebut Chandálas, yang tidak diizinkan tinggal di desa; umumnya adalah pelacur, peramal, pedagang kulit, penyuling minuman keras. Wanita penari adalah dari  kasta Wesia dan Sudra. Seorang Brahmāna tidak bisa dijadikan budak. Dia tidak bisa duduk di tanah. Kaum Budha dikatakan telah datang pertama kali ke negara tersebut. Dari Brahmāna Siwa sembilan generasi dikatakan telah berlalu sejak kedatangan mereka. Nama kepala negara Brahmāna dari kasta Siwa, yang pertama kali menetap di Báli, dikatakan sebagai Wútu Ráhu (mungkin maksudnya Wawu Rauh),  dia berasal dari Telingána (Kalingga?), dan dalam perjalanannya dikatakan telah singgah ke  Majapáhit. Raja Báli umumnya adalah dari kasta Satria; Tapi ini tidak selalu demikian. Dari informasi yang diperoleh di Buleleng, terlihat bahwa sebagian besar penduduk Báli mengikuti pemujaan Siwa. Kaum Budha dikatakan langka. Pengorbanan janda di tumpukan pemakaman suaminya sering terjadi. Semua kelas bisa melakukan pengorbanan ini, tapi yang paling umum dilakukan oleh kasta Satría. Jumlah wanita yang mengorbankan diri mereka luar biasa. Ayah dari Raja Buleleng saat itu diikuti oleh tidak kurang dari tujuh puluh empat wanita. Dalam kasus ini, mayatnya  biasanya dipelihara selama berbulan-bulan, bahkan selama setahun. Jenazah diawetkan dengan fumigasi, setiap hari dengan benzoin. Mayat orang mati dibakar, kecuali pada kasus anak-anak sebelum gigi mereka tumbuh.


Pengabenan

Daging sapi dikonsumsi oleh semua orang kecuali orang-orang Brahmāna. puasa menahan diri untuk tidak makan nasi pun dilaksanakan, dan hanya memakan  umbi-umbian dan buah. Kaum Budha dikatakan sangat teliti dalam diet mereka, tidak hanya tidak memakan daging sapi, tapi juga anjing dan semua hewan lainnya. Susu tidak pernah digunakan sebagai bahan makanan. Informasi khusus yang menghormati ibadah agama orang-orang Bali ini diinformasikan kepada saya oleh Mr. Crawfurd, yang mengunjungi pulau itu pada tahun 1814. Pada tahun berikutnya saya mengunjungi Buleleng sendiri; Tapi waktunya terlalu singkat untuk mendapatkan informasi yang sangat terperinci mengenai hal menarik ini.  (Tulisan Raffles berikutnya, mengenai Agama, tidak diikut  sertakan, karena sangat tidak sesuai dengan kenyataan).


Semoga tulisan Raffles ini dapat memberikan gambaran (meskipun tidak sepenuhnya benar), tentang bagaimana orang asing melihat Bali di tahun 1813an. Semoga ada manfaatnya. Astungkara. 

Alih Bahasa : IDP Sedana

BACA JUGA :

Bali Dimata Raffles  1
Bali Dimata Raffles 2
Agama Zen 1
Agama Shinto 1
Jainisme, Agama yang Atheis 1

0 komentar:

Posting Komentar