Senin, 26 Februari 2018

INTI SARI BHAGAWAD GITA



Kadang-kadang  saya mendapakan pertanyaan mengenai makna Patram, Puspam, Phalam dan Toyam.  Untuk itu dibawah ini disajikan mengenai hal tersebut, tetapi sebelumnya akan diuraikan secara singkat isi Bhagawad Gita, dimana Patram, Puspam, Phalam dan Toyam, tercantum dalam Bab IX, Ayat 26.



Sri Krisna, Sais Arjuna (Google Image)

BHAGAWAD  GITA
Merupakan  bagian dari Mahabharata  dalam bentuk dialog antara Sri Krishna, personalitas Tuhan Yang Maha Esa dengan Arjuna murid langsung Sri Kresna , yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta.   Secara harfiah, arti Bhagavad Gita adalah "Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidak terikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Bhagawad Gita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagawad Gita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni sudah ada sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak akan dapat dimusnahkan.

Sri Krisna dan Arjuna (Google Image)

                                     Bhagawad Gita  terdiri dari 18 bab, yaitu:
BAB 1 Arjuna Wisada Yoga,  mengenai Peninjauan  tentara-tentara di medan perang Kurukshetra, dan menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga kekuatannya menjadi lemah, pikirannya bingung, dan dia tidak dapat bertabah hati untuk bertempur.

BAB II  Samkhya Yoga, menguraikan ajaran yoga dan samkhya, dan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Krishna, kemudian Sri Krishna memulai ajaran-Nya. dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal dan menjelskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kegiatan di dunia ini. Tetapi perbuatan dapat mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia dengan cara bertindak untuk mengabdi kepada Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.

BAB IV Jnana Yoga, menguraikan,  pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan.   Serta bagaimana menyucikan dan membebaskan diri manusia dengan  pencapaian yoga melalui ilmu pengetahuan rohani. Pengetahuan seperti itu adalah hasil perbuatan bhakti tanpa mementingkan diri sendiri (karma yoga).

BAB V Karma Samnyasa Yoga,, menguraikan mengenai  orang yang bijaksana yang sudah disucikan dengan pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kegiatan tetapi melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatannya.


BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memusatkan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati).

BAB VII. Jnana Widnyana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena budi dan pengetahuan tentang Yang Mutlak.  Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. . Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan pikirannya kepada obyek-obyek sesembahan yang lain.

BAB VIII Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan kekekalan Tuhan. Cara Mencapai  Yang Maha kuasa. Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat menjelang meninggal.

BAB IX  Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), menguraikan hakikat  kekekalan Tuhan, sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya) . Sang roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat kembali kepada Sri Krishna di alam rohani.

BAB X Wibhuti Yoga, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak tanpa awal, pertengahan dan akhir. Segala fenomena ajaib yang memperlihatkan kekuatan, keindahan, sifat agung atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani. Krishna, Tuhan Yang Maha Esa, adalah tujuan sembahyang tertinggi bagi para mahluk.

BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan penglihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian alam semesta.  Dengan cara demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Maha Kuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya sendiri yang serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang murni.

BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti,  pengabdian suci yang murni kebada Sri Krishna. Merupakan cara tertinggi untuk mencapai cinta bhakti yang murni kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh jalan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.

BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, mengenai perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama. Orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.

BAB XIV Guna Traya Wibhaga Yoga,  membahas Triguna (tiga sifat alam material) - Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas).. Sri Krishna menjelaskan arti sifat-sifat alam tersebut, bagaimana sifat-sifat itu mempengaruhi diri kita, bagaimana cara melampaui sifat-sifat alam sera cirri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani.

BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi,  Tujuan utama pengetahuan veda adalah melepaskan diri dari ikatan  dunia material dan mengerti Sri Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengabdian suci kepada Krishna.

BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang mempunyai sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dilahirkan dalam kehidupan yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material. Tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur, dengan mematuhi isi  Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.

BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Ada tiga jenis keyakinan:
a.     Keyakinan yang bersifat Sattvik, menunjukkan prilaku yang suci, dalam memuja Tuhan dan para Dewa.
b.     Keyakinan yang bersifat rajasik, yang memuja para yaskha, rakshasa (setan dan iblis), yang memberikan harta dan kesejahteraan duniawi.
c.     Keyakinan yang bersifat tamasik, adalah sifat-sifat kegelapan total, mereka amat serakah, tidak suci, amat sensual, malas, dan penuh dengan sifat-sifat negatif. Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang bersifat sementara, sedangkan perbuatan yang dilakukan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai tingkat keyakinan murni terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.

BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, menguraikan mengenai kesempurnaan pelepasan ikatan, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi. Krishna menjelaskan arti pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kegiatan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagavad Gita, dan kesimpulan utama Bhagavad gita; jalan kerohanian tertinggi,  berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta bhakti kepada Sri Krishna. Jalan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan kemungkian ia kembali ke tempat tinggal rohani Krishna yang kekal.


Compiled : IDP Sedana

Sumber :
1.     KMHDI NTT, Rangkuman Bhagawad Gita
2.     Legenda Kitab Suci, Bhagavad Gita
3.     Pendit, Nyoman S, Bhagavatgita
4.     Srila Prabhupada, Bhagawad Gita as It Is

0 komentar:

Posting Komentar