Senin, 05 Maret 2018

MAKNA PATRAM, PUSPAM, PHALAM, TOYAM



Bab 9, Ayat 26 Bhagawad Gita,  yang sering disebutkan sebagai  The Most Confidential Knowledge, isinya sbb :
patram puspam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami prayatatmanah

Terjemahannya kata demi kata :
(patram: daun, pushpam: bunga, phalam: buah, toyam: air,
yah: siapa yang saya, me : untuk saya, bhaktyaa: dengan pengabdian,
prayacchati: persembahan, tat: itu, aham: aku,
bhakty-upahritam: pemberian dalam pengabdian, asnami : menerima,
prayata-atmanah – seseorang yang penuh kesadaran).

Terjemahannya secara utuh maknanya :
 (Siapa saja  yang sujud kepada-Ku dengan persembahan
setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah atau seteguk air,
Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang tulus hati

Top of Form

Jika Anda hanya memiliki buah, persembahkanlah  buah kepadaNYA, Jika tidak ada buah yang tersedia, persembahkan  padaNYA bunga. Jika bukan musim untuk bunga, persembakan  kepadaNYA daun saja; dan  itu  sudah cukup, asalkan itu  dipersembahkan dengan tulus dan  kasih sayang. Jika daun juga langka, buatlah persembahan berupa  air, yang tersedia di mana-mana, tapi pastikan lagi bahwa Anda melakukannya dengan tulus. Kata bhaktyā telah digunakan di kedua baris pertama dan kedua dari ayat tersebut. Ini adalah bhakti pemuja kepada Tuhan, dan bukan nilai dari persembahan itu. Dengan pernyataan yang indah ini, Shri Krishna mengungkapkan sifat Tuhan  yang penuh kasih. Bukan nilai material dari persembahan yang utama,  tetapi  ketulusan kita dalam memberikan persembahan.  Shri Krishna mengatakan bahwa Ishvara tidak menginginkan persembahan yang mahal. Untuk menjadi pemuja, kita bisa memberinya sesuatu yang dihasilkan   alam : daun, bunga, buah atau bahkan beberapa tetes air.

Apapun yang dipersembahkan hendaknya sadvika dan dipersembahkan dengan hati yang tulus. Sebelum perang Bharatayudha, ketika Shri Krishna pergi ke Hastinapura untuk mengeksplorasi kemungkinan membuat kesepakatan antara Kaurava dan Pandawa, Duryodhana  telah dengan bangga menyiapkan makanan yang terdiri dari lima puluh enam jenis yang berbeda. Namun, Shri Krishna menolak keramahannya dan malah pergi ke pondok Vidurani (Widura) yang sederhana, yang telah lama merindukan kesempatan untuk melayani Sri Krishna. Vidurani sangat gembira saat menerima Sri Krishna  di rumahnya. Yang dia tawarkan hanyalah pisang, tapi mentalnya begitu terbebani sehingga dia bahkan tidak menyadari bahwa dia membuang isi buahnya dan memberikan kulit pisang kepada Shri Krishna. Meski begitu, melihat pengabdiannya, Shri Krishna dengan senang hati memakan kulitnya, seolah-olah memakan makanan yang paling lezat di dunia.


Orang yang mencintai Krshna akan mempersembahkan apapun, dan  menghindari mempersembahkan  sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan demikian, daging, ikan dan telur tidak boleh dipersembahkan kepada Krishna. Dia dengan jelas meminta agar daun, buah, bunga dan air diberikan kepada-Nya, sehingga  Sayuran, biji-bijian, buah-buahan, susu dan air adalah makanan yang tepat untuk manusia. Dengan cara ini, seseorang yang berada dalam kesadaran Kṛṣhṇa secara otomatis dilatih untuk tidak menerima makanan yang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi manusia, atau tidak dalam kategori sadvika, sehingga  seseorang dapat menjalankan persembahyangan bahkan dalam kondisi yang paling miskin sekalipun. Tuhan berkata, patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyam: (daun, bunga, sedikit buah, atau sedikit air) semuanya tersedia di setiap belahan dunia, dapat dipersembahkan. Proses pencapaian hasil yang luar biasa sangat mudah dan bisa dicoba bahkan oleh orang-orang yang paling miskin sekalipun tanpa kualifikasi apa pun. Satu-satunya kualifikasi yang diperlukan dalam hubungan ini adalah menjadi pemuja murni Ishvara.

Mengapa penting memberi persembahan  kepada Ishvara? Membangun hubungan yang kuat antara kita dan Tuhan,  membutuhkan sikap  dan tindakan. Seperti  suami istri yang baru menikah. Bagaimana mereka memastikan bahwa mereka bisa mempertahankan ikatan yang kuat?.  Untuk memulainya, mereka dapat bertukar hadiah pada ulang tahun pernikahan mereka,  dengan kartu, bunga dan sebagainya. Hal yang sama juga berlaku untuk ibadah. Saat kita melakukan semua jenis kegiatan  untuk diri kita sendiri seperti mandi, makan  dan sebagainya, setidaknya kita bisa mulai menyembah Ishvara dengan menghaturkan bunga atau air. Nah, mengapa semua ini dibutuhkan?.  Orang bisa mengatakan bahwa kita seharusnya berlatih yoga karma dengan melakukan tindakan tanpa pamrih. Tapi, yoga karma tidak lengkap tanpa menuju kepada cita-cita yang lebih tinggi, dan Ishvara adalah cita-cita tertinggi. Apalagi tanpa hubungan emosional yang tepat dengan Ishvara, pengejaran kita akan menjadi kering. Begitu kita telah menciptakan kebiasaan menyembah Ishvara setiap hari di rumah kita, kita perlahan-lahan harus melaksanakannya diluar rumah  dalam setiap tindakan.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari isi Bab 9, Ayat 26 Bhagawad Gita adalah :
1.     Persembahan kepada Tuhan (Ishvara), tidaklah harus mahal dan mewah, tetapi cukup sesuatu yang dihasilkan   alam : apakah selembar daun, setangkai bunga, sebutir buah atau bahkan beberapa tetes air.
2.     Persembahan haruslah sadvika dan dipersembahkan dengan hati yang tulus.
3.     Daging, ikan dan telur tidak boleh dipersembahkan kepada Krishna.
4.     Sayuran, biji-bijian, buah-buahan, susu dan air adalah makanan yang tepat untuk manusia

SUMBER :
Gitajourney.com
https://vaniquotes.org
www//holy-bhagavad-gita.org , Bhagawad Gita, The Song of God

0 komentar:

Posting Komentar