Senin, 11 Juni 2018

SIWA SIDDHANTA (2)


SEKTE-SEKTE DI BALI

Pada waktu pemerintahan raja Marakata di Bali datanglah Mpu Kuturan dari Jawa Timur, beliaulah yang mengajarkan membuat Parahyangan atau Kahyangan dan membawa cara tempat pemujaan seperti yang ada di Jawa Timur. Hal ini disebutkan dalam lontar Usana Dewa. Pada awal kedatangannya di Bali, Mpu Kuturan melihat suatu kenyataan bahwa agama Hindu yang ada pada masa itu terdiri dari sembilan sekte,  Yaitu :

    
Mpu Kuturan

1.     Siwa Siddhanta, dengan adanya karya pustaka keagamaan seperti : Bhuanakosa, Wrhaspati Tattwa, Sanghyang Mahajnana, Catur Yuga dan Widgisastra yang semua ini mengambil ajaran dari Siwa Siddhanta. Demikian pula dengan Mudra dan Kuta Mantra yang dipergunakan oleh para pendeta Siwa di Bali dalam melaksanakan puja parikrama adalah bersumber pada ajaran Siwa Siddhanta.
2.     Pasupata, dengan adanya pemujaan Lingga di beberapa pura yang tergolong kuna. Jumlah lingganya cukup banyak, ada yang dibuat berlandaskan konsepsi yang sempurna dan ada pula yang dibuat deengan sangat sederhana, sehingga merupakan Lingga semua. Pemujaan Lingga sebagai lambang Dewa Siwa adalah merupakan ciri-ciri khas sekta Pasupata.
3. Bhairawa, adanyaa pemujaan Siwa dalam wujudnya yang sangat hebat dan mengerikan  yang disebut dengan nama Dhurga. Sekta Bhairawa sering pula disebut dengan nama Tantrisme kiri Wamaskta. Istilah lain yang sering dipergunakan untuk menyebutkan Tantrisme kiri adalah Prawrti marga sebutan untuk membedakan dengan Tantrisme kanan yang disebut Niwerti marga. Pemujaan Durgha di Bali juga dapat dilihat pada mantra Durgastawa, yang juga digunakan oleh para pendeta di Bali. Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakraman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Begitu pula pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa. Sekte ini menjadi satu sekte wacamara (sekte aliran kiri) yang mendambakan kekuatan (magic) yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi. Ajaran Sadcakra, yaitu enam lingkungan dalam badan dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia juga bersumber dari sekte ini.
4. Waisnawa, jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi agama Hindu mengenai pemujaan terhadap Dewi Sri. Pemujaan terhadap Dewi Sri demikian besarnya di Bali, karena Dewi ini dipandang sebagai Dewi pemberi rejeki, pemberi kesejahteraan, kemakmuran, dan pemberi kebahagiaan. Dikalangan para petani di Bali. Demikian pula adanya cerita-cerita mengenai Awatara Wisnu ke dunia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran akibat dominasi adharma, sangat populer di Bali. Semua data-data ini membuktikan ada dan berkembangnya sekte Waisnawa di Bali. Waisnawa Sampradaya memiliki peninggalan dalam tradisi adalah pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi kemakmuran. Sri adalah sakti dari Dewa Wisnu sedang Wisnu diyakini sebagai pemelihara alam semesta yang dikaitkan pula dengan pura puseh ( dipuja melalui pura puseh ) , Pura Ulun sui/bedugul dimaksudkan pula untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi utamanya sebagai Sang Hyang Wisnu.
5.   Bodha (Sagatha), adanya penemuan mantra Buddha tipe Ye te mantra dalam materai yang terbuat dari tanah liat dan tersimpan dalam stupika. Stupika seperti ini banyak di dapati di daerah Pejeng, kabupaten Gianyar. Menurut peneliti para ahli purbakala, mantra Buddha Mahayana diperkirakan sudah ada di Bali pada abad ke 9 masehi. Adanya arca Boddhisatwa di pura Genurua Bedahulu, arca Buddha di Gua Gajah, arca Boddhisatwa Padmapatni di pura Galang Sanja Pejeng dan di tempat lainnya lagi, sudah cukup memberikan bukti adanya sekta Buddha di Bali pada jaman yang silam. Disamping itu dalam beberapa prasasti Bali Kuna, banyak dijumpai keterangan tentang adanya Bhiksu atau pendeta Buddha di Bali yang memakai gelar Dang Upadhyaya.
6.   Brahmana, Adanya sekta Brahmana yang menurut penelitian para ahli purbakala seluruhnya telah luluh dengan sekta Siwa Siddhanta. Di India sekta Brahmana disebut dengan nama Smarta, tetapi sebutan ini tidak dikenal di Bali. Adanya kitab-kitab Sasana Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yang bersumberkan Manawadharmasastra merupakan produk dari sekta Brahmana.
7.   Resi, disebutkan kelompok ini senang melaksanakan pertapaan di tempat-tempat yang dipandang suci seperti di gunung-gunung, di goa-goa dan sebagainya. Terhadap sekta ini DR. R. Goris memberi suatu uraian dengan menunjukkan suatu kenyataan bahwa di Bali Rsi adalah seorang Dwijati yang bukan berasal dari wamsa Brahmana. Beliau menghubungkan istilah Rsi di Bali untuk seorang Dwijati dari wamsa Ksatria, dengan sebutan Dewarsi atau Rajarsi.
8.    Sora (Surya), dibuktikan dengan adanya pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai dewa yang utama. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam adalah ciri penganut sekta Sora. Selain itu yang lebih jelas lagi adalah setiap upacara agama di Bali selalu dilakukan pemujaan terhadap dewa Surya sebagai dewa yang memberikan suatu persaksian bahwa seseorang telah melakukan yadnya.
9.   Ganapatya., kelompok pemuja Dewa Ganesha , yang keberadaannya terbukti dengan banyaknya didapatkan arca Ganesha, baik dalam wujud besar maupun kecil. Arca h itu ada yang terbuat dari batu padas dan ada pula yang terbuat dari logam yang tersimpan di Bali. Fungsi arca Ganesha adalah sebagai Wignagna yaitu penghalang segala gangguan. Sehubungan dengan itu pada umumnya arca Ganesha diletakkan pada tempat-tempat yang dianggap berbahaya. Setelah zaman Gelgel, banyak patung ganesha dipindahkan dari tempatnya yang terpencil ke dalam salah satu tempat pemujaan. Akibatnya, patung Ganesha itu tak lagi mendapat pemujaan secara khusus, melainkan dianggap sama dengan patung-patung dewa lain.

Kesemua jenis sekta ini merupakan unsur yang membangun Siwa Siddhanta. Hal ini dapat dilihat dari jenis upacara yang dilakukan yang merangkul semua jenis sekta itu, contohnya ajaran sekta bhairawa terlihat dalam sarana yang digunakan yang berupa arak berem, tabuh rah. Kemudian pemakaian dupa yang merupakan ajaran dari sekta brahma.

SIWA (SAIVA) SIDDHANTA
Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber - sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali.

Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur - unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan satu  kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.


Maha Rsi Agastya

Sekta Siwa Siddhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India Tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini yang berasal dari pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain: Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu, begitu disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.

Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekta Siwa yang lain. Sidhanta artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas.

Diibaratkan seperti mengenalkan binatang gajah kepada orang buta; jika yang diraba kakinya, maka orang buta mengatakan gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa; bila yang diraba belalainya mereka mengatakan gajah itu seperti ular besar. Metode pengenalan yang tepat adalah membuat patung gajah kecil yang bisa diraba agar si buta dapat memahami anatomi gajah keseluruhan.



Danghyang Nirarta


Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda-pun dipelajari yang pokok-pokok / intinya  saja; resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati Tattwa. Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh terkemuka yaitu Mpu Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.

Sumber :
Pada artikel terakhir.

Compiled : I Dewa Putu Sedana

BACA JUGA :
Ssiwa Sidhanta (3)
Ssiwa Sidhanta (4)
Tubuh Manusia dan Latihan Spiritual
Vibrasi Warna Tubuh 1

0 komentar:

Posting Komentar