Rabu, 15 Agustus 2018

SIWA SIDDHANTA (4)


SIWA SIDDHANTA (4)
HEWAN UNTUK YADNYA

Ada kalanya kita mendapat pertanyaan, apakah boleh hewan dibunuh untuk dipersembahkan sebagai yadnya dalam ritual Agama Hindu?. Pertanyaan ini muncul beberapa tahun terakhir, sesuatu yang tak pernah ditanyakan di masa lalu. Pertanyaan muncul karena ada “sampredaya dalam Hindu” yang ketat dalam melaksanakan prinsip ahimsa (tak boleh menyakiti apalagi membunuh) yang disertai pula prinsip vegetarian yang kuat. Dengan prinsip seperti itu maka semua persembahan kepada Tuhan tidak memakai daging. Apakah itu yang benar atau apakah membunuh hewan untuk korban itu yang benar, ajaran Hindu tak memberikan pembenaran yang absolut. Beragama itu berdasarkan “rasa hati” yang tentu saja pijakannya adalah keyakinan. Setelah itu baru keiklhasan dan ketulusan.

Mebanten

Dalam lontar Sunarigama disebutkan ada dua cara untuk melakukan ritual. Pertama dengan menghaturkan sesajen (banten), terutama bagi masyarakat umum. Yang kedua dengan  tapa brata yoga samadhi, terutama untuk mereka yang sudah mencapai tingkat kerohanian tertentu dan “wruh ring tattajnana”. Sama-sama dengan tujuan mencapai suatu kesucian, baik suci lahir dan batin maupun suci pada lingkungan.
Bagi yang menggunakan sesajen memang diperbolehkan mempersembahkan segala hasil bumi termasuk hewan peliharaan. Justru hasil bumi dan hewan yang dipakai persembahan itu akan tumbuh semakin baik dan hewan yang dibunuh akan “lahir kembali” dalam status yang lebih tinggi dari keadaan semula. Ini juga disebutkan dalam sloka Manawa Dharmasastra V.40. Bunyinya: “Osadyah pasawa wriksastir, yancah pakhanam praptah, yajnartham nidhanam praptah, praapnu wantyutsritih punah”. Terjemahannya: Tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, ternak, burung lainnya yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dalam tingkat yang lebih tinggi pada kelahirannya yang akan datang.


Tawur Kesanga
Karena korban itu adalah “penyucian” maka buah yang dipetik dari pohonnya untuk persembahan akan membuat pohon itu berlipat buahnya pada musim selanjutnya. Dan hewan, termasuk burung dan ikan, akan menjadi “suci” sehingga pada kelahirannya kelak, statusnya lebih baik dari semula.

Dalam ritual Hindu di Bali pada tingkat caru yang lebih besar dengan menggunakan banyak binatang, ada upacara yang disebut mepepada. Ini adalah ritual untuk membuat hewan itu “suci” sebelum dijadikan korban. Pendeta yang memimpin ritual akan memberikan doa-doa sesuai dengan wujud hewan itu, apakah berkaki dua atau empat, apakah burung atau ikan dan seterusnya. Inti doa adalah agar roh hewan itu “menghadap” pada dewa sesuai dengan yang telah digariskan arahnya dan jika kemudian lahir kembali akan menjadi manusia, bukan lagi binatang. Hewan itu kemudian diberikan busana (dililitkan kain) di bawa berkeliling di tempat upacara sesuai putaran jarum jam, diperciki tirta (air suci) dan seterusnya disembelih dengan “penuh kasih sayang tanpa kebencian”. Begitu aturannya, bahwa pelaksanaannya mungkin tak terasa ada “kasih sayang” saat menyembelih itu soal lain. Dalam sloka Manawa Dharmasastra sebelumnya (MD V.39) sudah ditegaskan bahwa Tuhan telah menciptakan hewan-hewan untuk tujuan upacara korban dan korban ini sudah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan seluruh bumi dan isinya. Dengan begitu unsur ahimsa tidak berlaku di sini karena baik hewan korban maupun umat yang beryadnya sama-sama untuk mencapai kesucian dalam ritual itu.

Bagaimana dengan pantangan makan daging? Jika hewan yang disembelih itu untuk yadnya yang berarti sudah dilaksanakan “penyucian” maka dagingnya pun tak masalah untuk disantap. Tapi untuk hal ini terjadi silang pendapat karena sumber sastra pun ada banyak. Manawa Dharmasastra sloka V.33 menyebutkan bahwa seorang dwijati (pendeta) haruslah tidak makan daging. Namun disebutkan “jika memakannya tidak bertentangan dengan aturan”. Nah ini sering dijadikan pembenar, karena hewan yang disembelih “sesuai dengan aturan” maka dagingnya bisa dimakan. Itu sebabnya pendeta Hindu di Bali tak semuanya vegetarian, ada yang masih makan daging tapi terbatas, misalnya, hanya daging bebek.

Tak ada santapan tanpa persembahan. Itulah yang lazim berlaku di Pulau Dewata. Makanan yang disantap manusia selalu merupakan sebagian dari sesaji yang sebelumnya dipersembahkan kepada para dewata. Penuh berkah.. Itulah cara seluruh penduduk Bali yang memeluk Hindu mengucapkan rasa syukur atas karunia dan berkah semesta pada hidup. Isi saiban disisihkan dari makanan yang dimasak pada hari itu sebelum disantap seluruh anggota keluarga. ”Dapur mewakili api dan sumur adalah air, halaman adalah tanah tempat tanaman tumbuh, semuanya telah memberi kita berkah. Dalam konsepsi Hindu-Bali, makanan pertama-tama harus dipersembahkan kepada dewata yang menguasai kehidupan manusia dan alam semesta. Dengan demikian, manusia mengonsumsi makanan yang penuh berkah dari dewata. ”Tanpa mempersembahkannya terlebih dahulu kepada dewata, sama saja dengan menikmati sesuatu dari alam dengan cara mencuri,” Itu sebabnya, antropolog Clifford Geertz menjuluki Bali sebagai negara teater karena simbol-simbol kekuasaan dan status diperlihatkan. Michel Pikard (2006) menyebutkan, setiap daerah di Bali mendapatkan kadar pengaruh Hindu-Jawa yang berbeda-beda sehingga terbentuk ruang sosial yang heterogen di masing-masing desa. Apa pun persembahannya, Acharyananda melihat semua yang ada di alam adalah refleksi Tuhan. Oleh sebab itu, semuanya layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Daging itik persembahan, misalnya, tidak bisa dipandang sebagai seonggok daging semata, melainkan simbol kebijaksanaan. ”Orang mempersembahkan anjing, yang diambil sebenarnya sifat kesetiaannya, ayam kedinamisannya, dan kambing sifat ketaat-asasannya,” ucapnya.


Saiban

Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H menjelaskan bahwa daging babi adalah sebuah simbol dari persembahan kepada Dewi Durga sebagai penguasa tantra bhairawa.
“Salah satu hewan yang dipotong saat penampahan Galungan adalah babi.  Kenapa? Karena Galungan sesungguhnya adalah pemujaan kepada Dewi Durga,”.
Babi ini adalah simbol pemujaan bagi pemuja Durga Bhairawa karena selalu identik dengan persembahan yang berkaitan dengan paham Tantrayana. Sementara bagi paham Siwa Sidantha dengan konsep Tantrayana sendiri sangat erat kaitannya dengan daging babi. Seperti misalnya dalam bebanten yang terbuat dari  daging babi dalam bentuk bebanten Gelar Sanga, Bebangkit berisi guling babi, Sate Renteng yang berbentuk senjata Dewata Nawa Sanga yang semuanya berbahan dasar daging babi.
Bebanten yang berbahan dasar daging babi ini semua ditunjukan kepada Bhatari Durga, baik dalam upacara apapun yang menggunakan bebanten ini sebagai persembahannya. (SB-Skb)

Menurut ajaran Agama Hindu, manusia memiliki tiga sifat utama atau yang lebih dikenal dengan Tri Guna, Sattwam, Rajas, Tamas. Sattwam adalah kebijaksanaan, Rajas adalah hawa nafsu atau keserakahan, dan Tamas adalah kemalasan. Sattwam disimbolkan dengan bebek, karena kemampuannya menyaring makanan di tengah kotornya lumpur. Seseorang yang memiliki sifat satwam yang dominan mampu menyaring pengaruh-pengaruh positif dalam bergaul dan menyampingan pengaruh yang negatif.
Rajas (sifat raja) disimbolkan dengan ayam, karena ayam akan selalu mencari kekuasaan dan tidak akan pernah merasa puas dengan dirinya. Begitu juga orang yang mempunyai sifat rajas yang dominan. Ia akan terus menerus berusaha untuk mendapatkan target yang diinginkan. Jika gagal, ia akan terus mencoba dan tidak mengenal putus asa.
Tamas disimbolkan dengan babi, karena babi itu malas, rakus, doyan tidur. Saking rakusnya kalau tak ada makanan dia akan memakan kotorannya sendiri. Manusia yang memiliki sifat tamas yang dominan akan cenderung tidak mau bekerja keras, “maunya enak aja”, dan loba.


Menjelang Nyepi di Jawa Tengah

Pada saat penampahan Galungan kita memotong (membunuh) babi. Kita membunuh sifat-sifat tamas yang ada dalam diri kita dan dagingnya kita makan. Setiap sesuatu yang buruk pasti menyimpan kebaikan tersendiri, begitu juga daging babi. Bukankah daging babi itu enak jika sudah matang? Itulah sisi positifnya. Kita juga sebagai manusia dengan sifat sattwam yang dominan mampu menyaring keburukan dan kebaikan pada babi.

SUMBER :
1.     Budi Suwarna dan Putu Fajar Arcana, Sembah dan Berkah di Tanah Dewata Kompas.com
2.     IBG Budayoga, S Ag, Msi,Kalender Pasraman Yogadhiparamaguhya 2009,
3.     Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, Hewan yang Dibunuh untuk Yadnya
4.     Kompas.com, Artikel Agama Hindu , Tentang Siwa Sidhanta
5.     Mpujayaprema, Bali Kasogatan, Siwa Siddhanta
6.     Mpujayaprema, Galungan Kenapa “Nampah” Babi?, SULUH BALI


0 komentar:

Posting Komentar