Kamis, 04 Juli 2019

DINASTI WARMADEWA PADA MASA KERAJAAN BALI AGA


PRASASTI BLANJONG
Blanjong berasal dari dua kata, yakni belahan dan ngenjung. Belahan berarti pecahan, sedangkan ngenjung adalah isti­lah dalam Bahasa Bali Alus yang berarti ka­pal nelayan.Be­rawal ke­tika peca­han kapal Belanda terdampar pertama kali di pe­sisir Sanur, yang tepat­nya kini di pesisir Blanjong. Peristi­wa inilah yang menjadi awal sejarah nama Blanjong.Blanjong adalah nama daerah di Desa Intaran, Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali. Di daerah ini juga ditemukan Prasasti Pilar tepatnya di dekat Banjar Blanjong. Kemu­dian prasasti tersebut diberi nama Prasasti Blanjong.


“Prasasti Blanjong melambangkan tugu kemenangan,” dan  merupakan tonggak kemenangan ketika Sri Ke­sari Warmadewa memimpin Bali.Uniknya, Prasasti Blanjong memakai bahasa bilingual yakni Bahasa Bali Kuno yang ditulis den­gan huruf Pra–Nagari (huruf India),serta Bahasa Sansekerta yang ditu­lis menggu­nakan huruf Kawi, Tarikh candrasangkala-nya berbunyi Khecarawahni-Murti artinya 836 Saka (914 M).Dalam prasasti tersebut, tertulis: “Pada tahun 835 çaka Bu­lan Phalguna, seorang raja yang mempu­nyai kekua­saan di selu­ruh penjuru dunia berista­na di Keraton Sanghadwala, bernama Çri Kesari telah mengalahkan musuh-mu­suhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai kemudian hari.”Prasasti Bali yang tertua berangka 804 Saka (882 M) mengenai: pemberian izin kepada para biksu dan pendeta agama Buddha untuk membuat pertapaan di bukit Cintamani. Prasasti berangka 818 Saka (896 M) dan 883 Saka (911 M) mengenai: tempat suci dan tidak menyebutkan nama raja;

Prasasti Blanjong dikeluarkan oleh seorang raja Bali yang bernama Sri Kesari Warmadewa.Pada prasasti ini disebutkan kata Walidwipa, yang merupakan sebutan untuk Pulau Bali.Dalam pemeliharannya Prasasti Blanjong sempat mengalami pemugaran beberapa kali. Prasasti dengan tinggi 177 cm dan diameter 62 cm ini, menarik wisa­tawan asing dan domestik untuk mengunjungi jejak–jejak sejarah Bali Kuno.Prasasti Blanjong kini di­tempatkan pada sebuah lemari besar yang ter­buat dari kaca.Bertu­juan agar prasasti terse­but dapat dilihat dari luar dengan leluasa.Tetapi tak banyak orang yang boleh masuk ke dalam lemari kaca terse­but. Hanya sang juru kunci yang memiliki wewenang. Terlihat pula masyarakat setem­pat yang sedang meng­haturkan sesaji berupa canang sari (salah satu jenis persem­bahan masyarakat Hindu-red) un­tuk menghormati prasasti tersebut.

Kini jejak–jejak pemerintah­an Sri Kesari Warmadewa ini sudah terawat cukup apik.Dilindungi pula oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Kerja Provinsi Bali, NTB dan NTT.Tepat di sebe­lah kiri lemari kaca terdapat sebuah meja yang di atasnya tampak se­buah buku kunjungan serta sebuah buku yang menerangkan tentang isi dari Prasasti Blanjong tersebut.Sebenarnya, Prasasti Blanjo­ng berada pada sebuah lingkungan pura.Pura tersebut bernama Pura Blanjong. Selain Prasasti Blanjong, di pura tersebut juga dapat ditemu­kan beberapa arca peninggalan dari pemerintahan Sri Kesari Warmade­wa.

DINASTI WARMADEWA
Dinasti Warmadewa didirikan oleh Sri Kesari Warmadewa.Menurut riwayat lisan turun-temurun, yang berkuasa sejak abad ke-10.Namanya disebut-sebut dalam prasasti Blanjong di Sanur dan menjadikannya sebagai raja Bali pertama yang disebut dalam catatan tertulis.Menurut prasasti ini, Sri Kesari adalah penganut Buddha Mahayana yang ditugaskan dari Jawa untuk memerintah Bali.Dinasti inilah yang memiliki hubungan dekat dengan penguasa Kerajaan Medang periode Jawa Timur pada abad ke-10 hingga ke-11.

Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat.Dalam prasasti tertua bertarikh 882 – 914 M diketahui, badan ini disebut dengan istilah “panglapuan“.Sejak zaman Udayana, badan ini disebut dengan istilah “pakiran-kiran i jro makabaihan”.Anggotanya terdiri atas beberapa orang Senapati dan Pendeta Siwa dan Buddha.

Wangsa Warmadewa
Raja-raja anggota Wangsa Warmadewa:
1.  Berdasarkan Prasasti Blanjong yang ditulis pada tahun 914 Masehi, Raja Bali pertama kali adalah Raja Khesari Warmadewa ( 914). Sri Ugrasena, yang memerintah pada tahun 915-942 dengan istananya yang berada di Singhamandawa. Sang Ratu Sri Ugrasena ini telah meninggalkan sembilan prasasti yang berisi pembebasan pajak pada daerah-daerah tertentu dan pembangunan tempat-tempat suci.Kerajaan Singhamandawa terdapat di Sukawana.Pada masa tersebut diceritakan ada persaingan antara Ugrasena dengan Sri Kasari Warmadewa.Sri Kasari Warmadewa akhirnya memindahkan pusat pemerintahanya ke Pejeng.Persaingan Sri Kasari Warmadewa – Ugrasena mungkin sekali berubah menjadi kerjasama, apakah melalui perkawinan atau hal lain. Setelah Sang Ratu wafat, penggantinya adalah raja-raja yang memiliki gelar Warmadewa, seperti Sang Ratu Ajiabanendra Warmadewa yang memerintah pada tahun 955-967
2.      Setelah berakhirnya masa Sri Ratu Ugrasena, Sang Raja Aji Tabanendra Warmadewa kemudian menjadi raja di Bali. (943 - 961 M). Ia berasal dari Wangsa Warmadewa, keturunan Dalem Sri Kasari. Ratu Aji Tabanendra Warmadewa ini memerintah selama 12 tahun (955-967 M), dan bergelar Sri Candrabhaya Singhawarmadewa atau Indra Jayasingha Warmadewa. Ia memerintah bersama istrinya, Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Warmadewi, yang mendirikan pemandian Tirta Empul Tampaksiring pada 960 M. Semasa pemerintahannya, Ratu Tabanendra Warmadewa memperkenankan pendeta Siwa mendirikan pertapaan di Air Madatu, tempat dimakamkannya Sang Ratu Ugrasena (situasi ini mirip di Jawa pada masa Kerajaan Mataram.
3.   Sri Candrabhaya Singhawarmadewa atau Indra Jayasingha Warmadewa. (962 – 975 M). Ia memerintah bersama istrinya, Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Warmadewi, yang mendirikan pemandian Tirta Empul Tampaksiring pada 960 M.
4.      Sri Janasadhu Warmadewa ( 975 - 983 M)
5.   Pada tahun 983 muncullah seorang raja wanita yang bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (983 - 989 M).
6.     Sri Dharma  Udayana Warmadewa, raja dari keturunan Warmadewa  (989 - 910 M), Dharma Udayana Warmadewa mempunyai seorang istri yang bernama Gunapriya Dharmapatni atau lebih dikenal dengan nama Mahendrdatta, seorang putri dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Setelah adanya pernikahan tersebut,  pengaruh kebudayaan Jawa-Bali kian berkembang pesat. Misalnya saja bahasa Jawa Kuno mulai digunakan untuk penulisan prasasti dan pembentukan dewan penasehat seperti di kerajaan-kerajaan Jawa. memiliki tiga putra, yaitu Airlangga, Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu. Kelak, Airlangga akan menjadi raja terbesar Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur. Menurut prasasti yang terdapat di pura Batu Madeg, Raja Udayana menjalin hubungan erat dengan Dinasti Isyana di Jawa Timur. Hubungan ini dilakukan karena permaisuri Udayana bernama Gunapriya Dharmapatni merupakan keturunan Mpu Sindok. Pada masa pemerintahan Udayana, datang Mpu Kuturan yang melakukan perubahan terhadap agama Hindu dengan menyatukan sembilan sekte di Bali menjadi Tri Murti, dan agama yang disepakati pun adalah agama Siwa-Buddha.Sebelum menjadi raja, Udayana pernah pergi ke Jawa Timur untuk mempersiapkan diri menjadi raja dengan mendirikan pemandian Jalatunda pada 987 M. Masa pemerintahan Sri Udayana adalah masa kejayaan keturunan Warmadewa di Bali.Beliau mempersunting putri dari Jawa Timur, Mahendradatta Gunaprya Dharmapatni, putri raja Kerajaan Watu Galuh, Sri Makuta Wangsa Wardhana.Saudara Mahendradatta adalah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama Tunggadewa, yang menggantikan ayahnya menjadi raja Watu Galuh.
7.    Airlangga (991-1049, penguasa Kerajaan Kahuripan). Airlangga tidak memerintah di Bali, namun di Jawa Timur. Namun kedua anaknya mampu melanjutkan menjadi raja hingga tahun 1077. Dan pada tahun inilah Dinasti Warmadewa mulai berakhir dan digantikan oleh dinasti lain.
8.  Kedudukan Raja Udayana digantikan putranya, yaitu Shri Wardhana  Marakata Pangkaja(1011- 1025 M).
9.   Pemerintahan Marakata Pangkaja digantikan oleh adiknya, Anak Wungsu (1049-1077 M). Anak Wungsu merupakan raja terbesar dari Dinasti Warmadewa. Anak Wungsu berhasil menjaga kestabilan kerajaan dengan menanggulangi berbagai gangguan, baik dari dalam maupun luar kerajaan.Sejak 1088 M, kekuasaan di Bali dijalankan oleh putri Sri Anak Wungsu yaitu Ratu Sakalindhu Kirana (1088-1101 M), dengan gelar Paduka Sri Maharaja Sri Sakalindu Kirana Sana Guna Dharma Laksmi Dhara Wijaya Utunggadewiatau Paduka Sri Maharaja Gon Karunia Pwa Swabhawa Paduka Sri Saksatnira Harimurti Jagatpalaka Nityasa.Ia merupakan raja wanita pertama di Bali. Dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu, disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu.Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat.Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.Dinasti Warmadewa yang diperintah oleh Anak Wungsu.Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kata-kata pada prasasti yang disimpan di Desa Sembiran yang berangka tahun 1065 M.Kata-kata yang dimaksud berbunyi, “mengkana ya hana banyaga sakeng sabrangjong, bahitra, rumunduk i manasa…” Artinya, andai kata ada saudagar dari seberang yang datang dengan jukung bahitra berlabuh di manasa…”
10. Dari istri yang lain, Udayana memiliki dua orang anak, Sri Suradhipa, menjadi raja pada 1101-1119
11. Sri Jayasakti yang melanjutkan roda pemerintahan (1119-1150 M). Sejak saat itu tidak banyak perubahan dalam sejarah kerajaan di Bali, pergantian raja terus berganti seiring dengan berjalannya waktu.
12.   Ranggajaya (1155 - ?
13.   Jayapangus (memerintah 1177-1184)

PRASASTI
Setidaknya, ada empat buah prasasti yang berkaitan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan di Bali, yakni:
1.     Prasasti Bali yang tertua berangka 804 Saka (882 M); isinya mengenai pemberian izin kepada para biksu dan pendeta agama Buddha untuk membuat pertapaan di bukit Cintamani;
2.     Prasasti berangka tahun 818 Saka (896 M) dan 883 Saka (911 M); isinya mengenai tempat suci dan tidak menyebutkan nama raja.
3.     Prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong, dekat Sanur. Permukaan prasasti ditulis sebagian dengan huruf Nagari (huruf India) dan sebagian dengan huruf Bali kuno, sedangkan bahasanya Sansekerta. Angka berupa candrasangkala, berbunyi “Khecarawahni-Murti”, artinya tahun 836 Saka (914 M);
4.  Prasasti yang ditemukan di Jawa Timur, hanya menerangkan bahwa Bali pernah dikuasai Singasari pada abad ke-10 dan Majapahit abad ke-14.



Prasasti Blanjong
KEPERCAYAAN
Pengaruh kepercayaan zaman prasejarah, terutama masa Neolitik, masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititik beratkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimbolkan dalam wujud bangunan pemujaan berupa teras piramid atau bangunan berundak-undak.Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan punden berundak-undak.Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu.


Pada masa permulaan hingga masa Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu Siwa dan Buddha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasasti yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa – Buddha) sebagai pembantu raja.

PENINGGALAN KERAJAAN BALIAGA
Pura Tirta Empul. Pura tersebut terletak di daerah Tampaksiring Bali dibangun pada tahun 967 M oleh raja Sri Candrabhaya Warmadewa. Pura ini, digunakan beliau untuk melakukan hidup sederhana, lepas dari keterikatan dunia materi. Penamaan Pura Tirta Empul diambil dari nama mata air yang terdapat didalam pura ini yang bernama Tirta Empul. Tirta Empul artinya air yang menyembur keluar dari tanah.  Air Tirta Empul mengalir ke sungai Pakerisan. Pura Penegil Dharma, Pura Penegil Dharma didirikan dimulai pada 915 M. Keberadaan pura ini berkaitan dengan sejarah panjang Ugrasena, salah seorang anggota keluarga Raja Mataram I dan kedatangan Maha Rsi Markandeya di Bali



Pura Tirta Empul

Arca yang paling populer adalah Arca Ganesha yang kini disimpan di areal Pura Blanjong. Sedangkan arca lain hanya bersifat frag­matis dikarenakan penggambaran­nya kurang jelas dan yang tersisa hanya beberapa bagian. Sementara arca lain, seperti Arca Perwujudan yang kini sudah dipindahkan ke Museum Bali meng­gambarkan seorang Dewi yang berdiri tegak dengan bentuk wajah bulat telur, mengenakan mahkota yang bertingkat, serta perhiasan seperti anting dan kalung. Diduga arca ini adalah perwujudan dari permaisuri Sri Kesari Warmadewa.
Setali tiga uang dengan Arca Per­wujudan, Arca Terakota dan Arca Binatang kini juga disimpan di Museum Bali dengan kode yang terpisah.

BACA JUGA :



0 komentar:

Posting Komentar