Rabu, 17 Juli 2019

KERAJAAN BALIAGA BEDAHULU


SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN BEDAHULU
.Awal  sejarah kerajaan Bali terpusat di daerah dekat Pura Besakih sekarang dan pada waktu pemerintahan Sri Kesari Warmadewa disebut Bhumi Kahuripan dengan istananya Singhamandawa. Seperti kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatra, dan pulau lain, keberadaan kerajaan di Bali tidak terlepas dari pengaruh Hindu-Buddha. Hal tersebut bisa dilihat dari nama raja pertamanya yang bernama Sri Kesari Warmadewa yang artinya “Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha”  Sri Kesari Warmadewa terkenal juga dengan nama Selonding. Mengenai asal-muasal Sri Kasari Warmadewa sampai saat ini terdapat beberapa pendapat.Pendapat pertama mengatakan bahwa Sri Kesari Warmadewa asli berasal dari daerah Bhumi Kahuripan dan istananya disebut Singhamandawa atau Singha Mandapa yang berarti Pendopo Singha (dekat pura Besakih sekarang).Pendapat lainnya mengatakan bahwa Sri Kesari Warmadewa diperkirakan berasal dari kerajaan Sriwijaya yang datang ke Bali pada akhir abad ke-9, Sri Kesari Warmadewa menjadi raja di Bhumi Kahuripan.Pendapat yang mengatakan bahwa Sri Kesari Warmadewa berasal dari kerajaan Sriwijaya dan diperkirakan sebagai keturunan dari Balaputradewa diperkuat oleh kesamaan cara penulisan prasasti ,

Pada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman.Beliau diganti oleh anaknya bernama Manorathawarman, selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau, mendirikan kerajaan Kutai. Mulawarman diganti  Aswawarman. Anaknya bernama Purnawarman mendirikan kerajaan Taruma Negara. Anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa pergi ke Bali, pertama-tama mendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih.

Kerajaan  Bedahulu atau Bedulu disebut juga Kerajaan Pejeng karena lokasinya di Pejeng merupakan sebuah kerajaan kuno pada  abad ke-8 sampai ke-14 Masehi. Memiliki pusat pemerintahan di Pejeng atau Bedulu, Kabupaten Gianyar.  Kerajaan Bedahulu diperintah oleh raja-raja keturunan dari Warmadewa. Para ahli memperkirakan Pejeng adalah pusat Kerajaan Bali Kuno yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kerajaan Bedahulu (883-1343 M). Kata "pejeng" sendiri diduga berasal dari kata "pajeng" (payung), karena dari desa inilah raja-raja  Bali Kuno memayungi rakyatnya. Ada juga yang menduga berasal dari kata pajang, bahasa Jawa Kuno yang berarti sinar. Bagi tetua di Pejeng, sebelum Pejeng, desa itu disebut Soma Negara, ibukota Kerajaan Singamandawa.  Meskipun Kerajaan Bedahulu berdiri lebih dari 450 tahun, namun tidak dapat ditemukan letak lokasi pusat Kerajaannya  Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan Dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu) menentang ekspansi Kerajaan Majapahit pada tahun 1343, yang dipimpin oleh Gajah Mada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar- benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasil dikalahkan tahun 1347.


KERAJAAN BALIAGA
Setelah akhir pemerintahan Raja Kembar Mahasora dan Mahasori atau yang lebih dikenal dengan Raja Masula Masuli yang menjadi Raja Bali adalah Sri Hyang Ning Hyang Adidewa Lencana (tahun 1260 -1286 M) .Pada masa pemerintahan raja ini, Bali diserang dan dikuasai oleh Kerajaan Singhasari dibawah kepemimpinan Raja Kertanagara. Raja Adi Dewa Lancana kemudian ditangkap dan dibawa ke Singhasari tahun 1286 M. Sejak itulah Bali menjadi kekuasaan kerajaan Singhasari. Dengan  dikuasainya Bali oleh Singhasari maka pengangkatan raja raja Bali selanjutnya dilakukan oleh Raja Singhasari. Namun Demikian karena Kerajaan Singhasari runtuh akibat Penyerangan dari Prabu Jayakatwang yang menyebabkan Prabu Kertanagara gugur maka selanjutnya pengangkatan raja Bali dilakukan oleh Majapahit yang merupakan penerus dari kerajaan Singhasari. Raja Bali pertama yang diangkat oleh Prabu Kertanagara adalah Ki  Kryan  Demung yang berasal dari Jawa Timur yang kemudian digantikan oleh putranya Ki Kebo Parud.

Berikutnya yang menjadi raja Bali adalah Sri Paduka Maharaja Batara Mahaguru ( 1324-1328 M). Beliau diangkat oleh Raja Majapahit yaitu Prabu Jayanegara / Kalagemet. Yang menggantikan beliau adalah putranya sendiri yaitu Sri Tarunajaya dengan gelar Sri Walajaya Kertaningrat (1328-1337 M). Sesudah beliau meninggal dunia, maka digantikan oleh adiknya yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang berarti Raja yang berkuasa (1337-1343 M).
Raja Sri Tapolung disebut-sebut sebagai raja yang kuat, bervisi, disegani dan dihormati rakyatnya.Raja ini diberi gelar sebagai Sri Asta Sura Ratna Bhumi Bhanten, penguasa Bali yang memiliki delapan kekuatan dewa.Sikap inilah yang dipandang Majapahit berbahaya bagi ambisi kerajaan itu menguasai Nusantara.Karenanya, Bali kemudian dijadikan target utama untuk ditundukkan.




Bali Tempo doeloe

PUSAT KERAJAAN BEDAHULU ?
Tim arkeologi  melakukan galian di areal ditemukan tengkorak oleh warga Banjar Batulumbang, Bedulu, Blabahtuh.  Penggalian hingga sembilam titik kian bertambah jumlah benda prasejarah ditemukan.Selain pernak-pernik, juga ditemukan tembok dari batu bata khas Majapahit. Dugaan sementara di sanalah pusat kerajaan Raja Bedahulu yang selama ini misterius.
Sedangkan  pondasi tembok yang lebarnya 1,5 meter, diperkirakan bagian dari tembok Puri Raja Bedahulu. Diakui selama ini di wilayah Bedulu banyak ditemukan peninggalan raja Bedahulu. Namun belum ditemukan lokasi pusat kerajaannya. Dikaitkan dengan tradisi yang dianut warga  setempat, kemungkinan besar lokasi galian itulah pusat kerajaan. Tak  ada warga berani bicara ngawur di sana. Wanita yang menstruasi menghindari melintas dan menghindari untuk  buang air (kencing/berak). Yang melanggar dipastikan linglung tak tahu jalan pulang,”. Bukti kuat itu lokasi kerajaan,  nama Pura Jero Agung bersebelahan dengan lokasi temuan.  Sedangkan subak selatan pura itu disebut Subak Delod Jero.  Di Kerajaan Bali Kuno, ditanah inilah Ki Patih Tunjung Biru memperoleh kuasa sebagai menteri kerajaan. Masa itu, Bali diperintah dengan adil dan tenteram, dipimpin oleh Shri Gajah Waktra dengan gelar Dalem Bedahulu atau Sri Astasura Ratna Bumi yang sakti dan bijaksana,  dibantu para menteri yang patuh memegang perintah sang raja, disiplin, dan sakti mandraguna

Menurut sejarah, kerajaan Bali Aga di pimpin oleh seorang raja yang sangat adil dan bijak sana, oleh sebab itulah mengapa Sri Ratna Bumi Banten sangat di cintai oleh rakyatnya.Beliau mengangkat seorang  Mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis, yang tinggal di desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam. Sebagai pembantunya diangkat  Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Belahbatuh dan 12 orang  menteri.

 Kebo Iwa

MITOS RAJA BEDAHULU.
Keputusan Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten untuk menentang Majapahit tercetus dalam rapat dengan para menterinya dimana Keputusan tersebut akibat pengaruh dari Menteri Pertahanan  (Senapati danda) yang bernama Ki Bima Sakti yang di Majapahit terkenal dengan nama Werkodara. Perlawanan kerajaan Bedulu terhadap Majapahit oleh legenda masyarakat Bali dianggap melambangkan perlawanan penduduk Bali asli (Bali Aga) terhadap serangan Jawa (Wong Majapahit).  Beberapa tempat terpencil di Bali masih memelihara adat-istiadat Bali Aga, misalnya di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, Desa Tenganan Kec. Manggis Kabupaen Karangasem serta di desa-desa Sembiran, Cempaga,  Sidatapa, Pedawa, Tiga Wasa, dan Padangbulia di Kabupaten Buleleng.

Adapun politik pemerintah Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten sekarang sungguh sangat berbeda dibandingkan yang sudah sudah, bahkan beliau sekarang bersikap membangkang dan tidak menghiraukan perintah-perintah dari Majapahit.Karena sikap beliau tersebut maka beliau dijuluki Raja Bedahulu, “Beda” artinya berbeda (pendapat) dan “Hulu” berarti kepala. Tegasnya raja ini melepaskan diri dan tidak mau tunduk dibawah kekuasaan Majapahit sebagai atasan yang dulu mengangkatnya. Sikap dan prilaku Raja ini didengar oleh Ratu Majapahit karena itu Ratu Tribhuwana Tunggadewi menjadi marah besar sehingga beliau merencanakan untuk mengirim pasukan besar keBali dibawah pimpinan Patih Gajah Mada dan panglima Arya Damar (Adityawarman).

Setelah itu Gajah Mada menempatkan seorang keturunan brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja (Dalem) di pulau Bali. Keturunan dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali.

BACA JUGA :

0 komentar:

Posting Komentar