Sabtu, 14 Desember 2019

PROSESI MEMANDIKAN JENASAH UMAT HINDU DI BALI

Penguburan Jenazah menurut umat Hindu di Bali,  dalam naskah lontar yama tattwa berkaitan dengan mendem sawa disebutkan bahwa apabila batas waktu dikubur telah selesai baru dibuatkan upacara ngaben yang bertujuan untuk dapat mempercepat pengembalian unsur-unsur panca maha bhuta yang melekat dalam badan kasar dan halus dari roh bersangkutan.
Urutan upacara penguburan seperti berikut ini :
1.     Memandikan jenasah
2.     Mengusung mayat ke kuburan⇙
3.     Mengubur jenasah


1

Persiapan Sarana Memandikan Jenasah.
Sebelum prosesi nyiramang layon (memandikan jenasah), dilaksanakan, maka perlu disiapkan sarana-sarana sebagai berikut :
1.     Tirta penglukatan pebersihan dari wiku
2.     Tirta peleletan dari wiku
3.     Tirta Pekuluh dari merajan.
4.     Tirta khusus:
a.  Tirta Pengentas Bangbang: selesai atiwa-tiwa jika jenasah akan dikubur atau mekingsan di Gni, sebaiknya menggunakan tirta diatas agar sewaktu-waktu bisa ngaben. Jika tidak maka sebelum setahun tidak boleh ngaben
b. Tirta Sang Hyang Prajapati: bila jenasah dikubur atau mekingsan di Gni mempergunakan tirta ini, karena tirta ini memiliki kekuatan pengembalian ke sumbernya. Sang Hyang Prajapati bersifat Mulaning Mula (wit = sumber). Prajapati sebagai tempat kehidupan bermula.
5.     Persiapan sarana pebersihan:
a.     Toya kumkuman,
b.     Sisig ambuh,
c.      Sisir dan petat,
d.     Minyak rambut,
e.     Wastra pesalin sepradeg,
f.       Boreh kuning,
g.     Kain pengusap rai,
h.     Kain pengusap raga.
6.     Persiapan Sarana Penyucian:
a.     Gegaleng 1 ijas pisang kayu 9 atau 11 bulih,
b.     Belayag berisi pis bolong 225/250  biji,
c.  Tebu ratu mesurat sangkan  paran dan batang kayu / taru sakti, semuanya dibungkus kain putih. Ada juga yang menyebut Bantal Segi Tiga sebagai gegaleng.
d. Momon (cincin mirah Windhusara) untuk ngerajah dan momon. Simbul menetralkan sifat serakah manusia (momo) semasa hidupnya. Juga untuk mencegah bau busuk. Secara niskala simbul Jiwatma yang telah meninggalkan jenasah.
e.     Beberapa lembar kain putih yang dirajah huruf Modre (kajang). Simbul penyucian organ tubuh sensitif yang menimbulkan kama dan indriya selama hidupnya. Penukup yang dimaksud ialah: Penukup Siwa dwara (ubun-ubun), Penukup dua daun telinga, Penukup lambe (mulut), Penukup muka atau prerai, Penukup purus atau baga (kemaluan).
f.       Wewalungan yang dirangkai diletakkan diatas layon, yang terdiri dari :
1)   Umbi skapa diiris-iris (usapang pada setiap persendian jenasah, sbg simbul penyucian wyana dari dasa prana).
2)     Daun intaran (simbul ardha Chandra).
3)   Kuncup kembang melati (pusuh menuh) untuk lubang hidung simbul Sang Hyang Waruna.
4)     Bunga teleng putih (slagan alis).
5)     Daun delem (untuk telinga) sbg simbul Sang Hyang Kwera.
6)     Malem 2 pulung (untuk lubang telinga), simbul apah, simbul Sang Blegode.
7)     Air Keramas (santen berisi air dapdap).
8)     Blonyoh putih (beras kencur), blonyoh kuning (beras kencur temutis).
9)     Bebek (serbuk)  anget-anget. Kapas.
10)Pecahan cermin 2 buah untuk kedua netranya. Simbul Teja (Sang Hyang Surya Candra).
11)  Tali penyalin secukupnya
12)  Bebek (serbuk cendana) secukupnya. Taburi seluruh tubuh sbg simbul Pertiwi (Sang Hyang Carman).
13) Selembar daun tunjung berisi kain hitam dan semburan (boreh) rempah-rempah utk sedaka lanang. Sedaka istri memakai selembar daun tuwung bolo 3 lembar dilapisi kain hitam berisi rempah2 (anget2) pada kemaluan, simbul Sang Hyang Smara.
14)  Pisau “sudha mala” atau pemutik untuk mekerik (lanang), pisau  mejejahitan untuk istri. Pisau Sudha Mala (ujungnya tri sula) utk menetralisir  kekuatan Sadripu  dan  Sapta  Timira  yang kelak mempengaruhi perbuatan (karmanya). Dari Tatwa: penyucian Dewa Kuku (Sang Hyang Kenaka Manik) yang telah dikotori perilaku manusia (lontar Tutur Agastyaprana).
15)  Dua untai benang tetebus (benang putih) untuk ituk-ituk. Untuk ikat ibu jari kaki dan tangan. Simbul penyatuan panca yaitu Panca Budhindriya dengan Panca Karmendriya agar menyatu dengan manah untuk kembali ke Ahamkara.
16)  Sebuah ante dari bambu, ditulisi aksara suci di bagian kepala, ulu hati dan kaki.
17)  Sebidang tikar plasa yang sudah dirajah
18)  Tiga buah kereb Sinom. Kereb Sinom dibuat dari daun enau muda dan bunga pinang (blangsah buah) dianyam 10-15 Cm, panjang 75-90 cm. Kereb Sinom adalah simbul Tri Kaya, bahwa Rokh mendapat sorga tergantung hasil Tri Kayanya (Karma Wasana).
19)  Upakara Beyakala, jejaritan Bale Gading dan lis degdeg.
20)  Kain putih untuk menggulung. Kain putih melelancing dengan lapis kain 11 lapis (untuk kajang solas).
21)Dua lempeng perak dibungkus tiga helai daun taru sakti sebagai pegembelnya.
22) Kepingan waja 4 tebih (untuk gigi) simbul Bayu, simbul dari Sang Hyang Bayu.
23)  Peti jenasah yang sudah diupacarai, tumpang salu, pepelengkungan. Ancak saji: pagar tempat jenasah dibaringkan.
24)  Kain putih berisi sesuratan dedayang sebagai sarana ulon.
25) Sebuah pelepah Pisang Udang Sabha (warga Pasek sesuai Bhisama  menggunakan  daun biyu kaikik), nantinya ditindih oleh jenasah. Ditulis huruf “Rwa Bhinneda”. Kata Udang = Uda + Ang. (Uda = air = Wisnu = Ung) (Ang = Ah = Sunia). Daun Pisang Udang Saba bermakna: “karmanyalah menentukan sorga (sunya loka) atau tidak.
g.   Persiapan tempat pebersihan yaitu Pepaga atau pandyusangan atau penusangan. Pemandian sawa sebagai simbul bumi, dibuat dg kawat mas, perak tembaga (tridatu). Diberi alas tikar dan pandan berduri sebelum dipakai. Pepaga (penusangan) dibuat dari bambu (kalau bisa bambu kuning), bertiang empat tingginya 175 Cm, ujung atas dari tiang dipasangi leluwur. Pepaga dibuat setinggi puser sang “yajamana” (pemilik upacara), dipasangi leluwur. Pojok timur laut dari tiang dipasang 11 uang kepeng sebagai simbul tingkatan alam sunia yg dituju. Panjang bambu dua jengkal lebih dari ukuran jenasah dengan lebar 80 Cm atau sesuai lebar jenasah. Galarnya menggunakan perhitungan “Ante” (cekur, pinggang, nyawan, galar, ante, guling). Etika pemasangan: jika laki tengahnya menengadah lainnya tengkurep, wanita sebaliknya. 
h.     Persiapan peti jenasah (simbul kekuatan maya Sang Hyang Widhi). Pada bagian kaki dilubangi sebesar “aguli” (ajari tengah) sebagai jalannya Panca Maha Butha keluar dari maya menuju alam “Sapta Petala”. Lubang dibagian kepala adalah jalan keluar jiwatma menuju Sapta Sunia (atau Sapta Loka).
i.    Upakara ayaban setelah melelet diletakkan diwulu tempat layon (luanan), baik nista, madya atau utama.. Contoh: Banten ayaban tumpeng 27, hulunya daksina gede sarwa 4 lengkap dengan banten sucinya, Banten Saji Tarpana, Banten Pulegembal, Banten Pengulapanprayascitabeyekawonan.
j.     Seember air antiseptic (air + daun intaran/daun base, atau air diisi bahan kimia antiseptic) untuk cuci tangan orang ikut ngeringkes




2
Prosesi Memandikan Jenasah
Prosesi nyiramang layon (memandikan jenasah), dilaksanakan, seperti merawat layaknya orang yang  masih hidup.  Tata cara upacara nyiramang layon untuk memandikan, membersihkan dan mensucikan sawa (jenasah)  sebelum dilaksanakan upacara penguburan, adalah sebagai berikut :
1.  Diadakan upacara nanginin (membangunkan) dengan mengumandangkan kidung Pitra Yadna. Jenazah diturunkan dari pembaringan dan diletakkan  di atas tandu dilengkapi dengan ulap-ulap, semua ini bertempat di natah (halaman)  pekarangan.
Penurunan layon dari Bale Gede, dilakukan sanak keluarga, diserahkan kepada krama banjar dicacapan bale, keluarga tetap membopong bagian kepala. Menuju pepaga (tempat menaruh mayat yang akan dimandikan), posisi kaki layon (jenasah) tetap didepan.
2. Peralatan untuk memandikan jenasah seperti tersebut diatas hendaknya sudah disiapkan. Kepala layon di Ulu (sebelah timur atau utara), Leluhur ditaruh diatas tempat memandikan serta peralatan lainnya ditempatkan di Ulu.
3.     Pemimpin upacara membuka penutup dibagian kepala dengan menarik kearah leher serta mulai melakukan serangkaian pabersihan (sawa Preteka).
4.     Busana hanya dibuka bagian dada saja dulu. Kemudian barulah pakaiannya dilepas
5.     Pertama kali keramas dengan toya ambuh.  Mantra ngeramasi: “Om banyu klemukan, banyu pawitra pangilanging papa klesa, danda upata atemahan sudha nirmala ya nama svaha. Ong ong  angurah candra dimuka ya nama svaha”.
6. Setelah keramas barulah busana dibuka seluruhnya, keluarga menutup bagian kemaluannya
7.   Mencuci mulut atau berkumur dengan air biasa, setelah itu membersihkan giginya dengan sigsig yang dibuat dari jaja gina (jajan dengan bahan baku beras dan ketan) yang dibakar, arangnya dipakai sebagai sigsig dengan Mantram: “Om waja, sudha spathika puspadanta ya namah svaha””.
8.    Cuci muka dengan air biasa, lalu diberikan bedak dari gamongan lalu dikeringkan , dengan Mantram: “Om paripurna ya nama svaha”.  Artinya: Tuhan, dengan bedak ini semoga menjadi sempurna.
9.   Seluruh badan dibilas air biasa, (mantra memandikan: “Om sarira suda ya namah svaha. Om gangga paripurna ya namah svaha”. gosok dg blonyoh (boreh kuning), dibilas. kemudian diberi bedak atau boreh dengan bedak isen, dan kakinya dengan boreh kunyit, lalu diblonyoh putih kuning dibuat dari beras putih dan kuning. Beras putih untuk diatas dari muka ke kepala, beras kuning untuk dibawah dari leher ke kaki, serta makerik kuku tangan dan kaki, dibungkus dengan daun sirih diletakkan di pepaga, dengan Mantram: “Om asuchirwa suchirwyapi, sarwakama gatopiwam, chintayed dewam isanam, sabahya byantara suchih”Artinya: Bila seseorang sudah suci atau tidak asal ia menghilangkan segala keinginan ketika ia memusatkan pikiran kepada Hyang Widhi, maka sucilah ia. Selanjutnya memasang itik-itik pada ibu jari kaki, memasang itik-itik ibu jari tangan.
10.  Keringkan rambut dan muka dengan kain putih. Rambut disisir dengan sisir petat (sisir yang dibuat dari bambu. Pusung gelung gota (irtri) pusungan mudra lingga (lanang), dengan mantram: “Om banyu kalamukan  banyu patra pasamauh papa klesa danda  upata ya namah svaha”.  Artinya: Tuhan, semoga air yang dipakai berkeramas dapat menghilangkan papa klesa danada dan upata.
11. Mengenakan tekep bhaga/purus yang baru serta monmon dimulut.  oleh putra-putri atau keluarga terkecil dari yang diupacarai.
12. Tikar penggulungan diganti, disertai Mantram: “Om sikapa pamulune  sang wus lampus, lempung lemuh ya namah svaha”. Artinya: Tuhan, semoga yang diupacarai putih dan lembut.
13.  Wiku nyurat sastra diraga dengan cincin mirah. (Ah – Nabi; Dasaksara – perut; Mang = ulu hati; Ang = bahu kiri; Ung = bahu kanan; Adu muka = selagan alis; Ang = ubun2.)
 

3

14.  Di setiap buku atau persendiannya diletakkan kwangen :
a.     Ubun-ubun, 1 buah kewangen + 11 uang kepeng
b.     Tangan kiri, 1 buah kewangen + 5 uang kepeng
c.      Tangan Kanan, 1 buah kewangen + 5 uang kepeng
d.     Dada, 1 buah kewangen + 11 uang kepeng
e.     Ulu Hati, 1 buah kewangen + 11 uang kepeng
f.       Kaki kiri, 1 buah kewangen + 5 uang kepeng
g.     Kaki Kanan, 1 buah kewangen + 5 uang kepeng
h.     Lambung kanan, 8 buah kewangen + 15 uang kepeng
i.       Lambung kiri, 8 buah kewangen + 15 uang kepeng
j.  Bantal tanpa kewangen dengan uang kepeng sebanyak 225 kepeng. Intinya jenazah itu dirawat layaknya orang masih hidup.
15.  Memasang/mengenakan Wewalungan
a.     Cermin dipasang dikedua mata.
b.     Baja(waja) dipasang pada gigi.
c.      Daun Intaran dipasang di kening
d.     Memasang gadung di dahi
e.     Boreh anget pada perut,
f.       Lenga wangi pada tubuh,
g.     Daun Delem dipasang di pipi
h.     Bunga pusuh  menuh dipasang di hidung.
i.       Bunga kelor dipasang di taring.
j.       Sebilah besi/paku dipasang pada kedua kaki.
k.      Lekesan sirih hitam di jeriji kedua tangan
l.       Lekesan sirih putih di jeriji kedua kaki.
m.    Daun tuwung pada kemaluan laki-laki
n.     Daun tunjung di kemaluan wanita
o.     Lengis kapur anggen anget-anget
p.  Gempong(empol kelapa) dipakai menyembur sesuai arah mata angin(Timur, Selatan, Barat, Utara, Tengah, Atas, Bawah)
q.     Angkeb rai (muka) dipasang di wunwunan atau muka.
16. Mewastra: dikenakan kain, kampuh, daster putih untuk laki-laki. Dikenakan kain, selendang putih untuk perempuan..
17. Meletakkan bantal kemudian mesasad dengan telur ayam, sabut kelapa, alang-alang yang dijepit dengan lidi dari ujung rambut sampai ujung kaki, Mantramnya: Om anda pamarisudha sarwa bhuta ya namah svaha”  Artinya: Tuhan, semoga dengan telur ini yang suci ini segala bhuta kala ruwat.
18.  Selanjutnya disembahyangkan dengan diperciki air kumkuman, Tirtha Pangelukatan, Tirtha Pabersihan, Tirtha Kawitan atau Tirtha Batara Hyang Guru dari Kamulan Taksu dan Tirtha Kahyangan Tiga, dengan posisi tangan layon memegang sebuah kwangen berisi 11 pis bolong.  Kalau akan dipendem atau dikubur atau belum ditentukan hari pengabenan dipercikkan Tirtha Pengentas Tanem. Ini semuanya merupakan simbol permakluman tentang kematian Sang Seda (orang yang meninggal).
19.  Lalu disuguhi tarpana mapegat,  dilengkapi dengan banten mapegat atau sambutan, lambang perpisahan dengan seluruh keluarga umumnya yang satu Sanggah Merajan. Sanak keluarga mohon restu ke Sang Hyang Raditya dg kwangen, posisi tangan di selagan alis, dan kwangen diletakkan di kaki layon. Mantra: “Om Swargantu, Om Suniantu, Om Moksantu, Om Mursantu, Om Ksama Sampurna ye namah svaha”Sembahyang: Cakupkan tangan dengan sembah puyung (utpeti sembah) Ke surya (Sang Hyang Siwa Raditya) dg kewangen: Mohon anugerah kekuatan widya kepada Sang Lina (Stiti sembah). Sembah ke Sang Lina sbg pengaksama agar sang lina melepas tresnanya kpd keluarga yg ditinggalkan
20.  Terakhir Sawa dibungkus atau dilelet dengan tikar dan tali kendit atau ante bambu, jenazah diusung lagi ke tempat pembaringan terus memasukkan ke peti sawa. Di Bale Gede umumnya ada Arca Garuda simbol Dewa yang dapat menuntun orang yang meninggal itu memperoleh tuntunan pembebasan dari dosa-dosa selama hidupnya.  Dilengkapi dengan saji banten arepan, seperti bubur pirata, nasi angkeb saji sebagai bekal roh menuju akhirat.

(Dari Berbagai Sumber).

BACA JUGA , KLIK DIBAWAH INI:
2.     Mendem Sawa (Mengubur Jenasah)
3.     Kajang
      4.   Ngaben
      5.   Misteri Kehidupan Masa Lalu 1

0 komentar:

Posting Komentar