Rabu, 09 September 2020

MAKNA dan FUNGSI KAJANG (2)

KAJANG manut lontar Pitra Puja, Sawa Wedana, Purana Tatwa dll, Kajang itu  anugrah Bhatara Siwa (secara niskala) Sang Pencipta (Kawitan  manusa, pohon-pohonan dan binatang,  berdasarkan : sabda (kemampuan bersuara), bayu (memiliki energy), idep (memiliki pemikiran, pemahaman). Kajang dalam Kamus Jawa Kuno berarti “kerudung” atau “kain penutup”. Berdasarkan atas arti tersebut, Kajang digunakan sebagai kain kerudung penutup mayat  ketika prosesi pembakaran dalam upacara ngaben. Masyarakat Hindu meyakini bahwa melalui Kajang sang roh akan dapat sampai dengan selamat di alam kematian. Kajang seolah-olah sebagai Pasport yang mengantar sang roh dengan selamat sampai ke tujuan. Kajang ini terbuat dari selembar kain putih dengan panjang kurang lebih satu setengah meter (3 hasta). Dalam lembaran kain tersebut ditulisi dengan gambar-gambar tertentu dan aksara-aksara modre yang memiliki nilai-nilai magis sebagai simbol kelepasan. Terkadang terjadi pemahaman yang keliru mengenai makna Kajang, karena Kajang dipandang sebagai atribut sakral-magis yang dapat mengantarkan sang roh sampai pada alam para dewa. Dengan kata lain, Kajang akan dapat mengantarkan roh mencapai surga dan menyatu dengan Hyang Siwa di sunyaloka. Namun, hal yang demikian dipandang sebagai kekeliruan dalam memahami makna Kajang, sebab surga, neraka dan menyatunya seseorang ditentukan oleh karmaphala pada saat ia hidup, baik di kehidupannya sekarang maupun terdahulu.


Kajang merupakan sebuah pemaknaan bahwa manusia itu selain dibangun dari unsur panca maha bhuta, unsur atma atau ketuhanan  juga dibentuk dari sastra. Sehingga setiap manusia hendaknya semasa hidupnya menyempatkan diri untuk mempelajari sastra agama sebagai bekal dikehidupan kelak. Selain itu kajang juga merupakan simbolis dari roh atau atma dari manusia . Jika ingin memahami tentang kajang maka harus dipahami tentang tata cara upacara pengabenan. Dalam upacara pengabenan, banyak terdapat kelengkapan atau sarana – sarana upacara yang secara simbolis melambangkan tubuh manusia beserta unsur – unsurnya, yang disimbolkan dan dibentuk dari tumbuh - tumbuhan misalnya dari tukon pisang jati. Disana juga disimbulkan utu adalah kepala, telor adalah mata serta bagian lainnya. Ada juga yang menggunakan uang kepeng yang disebut ukur, serta ada juga perlambangan tubuh manusia dalam bentuk gambar, yang dalam lontar Maya Tatwa disebutkan sebagai lambang unsur manusia dan unsur alam.

Kajang merupakan  simbol tubuh manusia beserta unsur - unsurnya dalam bentuk sastra atau huruf.  Kajang sebagian besar terdiri dari sastra atau huruf Bali, disamping juga biasanya terdapat beberapa rerajahan seperti rerajahan bedawang nala, naga dan yang lainya. Sastra di dalam kajang tersebut umumnya berisi tentang unsur – unsur panca maha bhuta di dalam tubuh manusia serta darimana unsur tersebut berasal dan kemana ia akan menyatu setelah manusia mati. Memang betul dapat dikatakan sebagai baju. Tapi bukan baju untuk badan material, tetapi pembungkus kecerdasan spiritual.

Kajang ini, ibarat seperti layaknya KTP atau identitas, dengan tujuan untuk  menghantar atman (Roh manusia) kepada leluhurnya (dalam Lontar Wrespatti Tattwa). Bentuk dan jenis surat kajang berbeda-beda sesuai dengan Kawitannya (referensi dan penggunaan nya ada pada masing - masing "Bhisama Kawitan").Kajang  merupakan simbol dari suksma sarira atau pembungkus Sang Hyang Atman. Sebelum dapat digunakan sesuai dengan nilai spiritualnya harus dilaksanakan upacara Ngajum Kajang. Selesai ngajum kajang barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis, pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon) kajang ini diletakkan di atas jenazah yang diusung menggunakan wadah/bade, dan nantinya akan dibakar bersama jenazah. Kajang memiliki nilai spiritual sebagai tanda restu dari sanak keluarga, Sang Sulinggih, dan Bhatara Kawitan terhadap kepergian Sang Lina (almarhum) untuk manunggal kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. 


Sementara, Sang Atma yang selama ini berada di dalam tubuh manusia saat masih hidup akan kembali kepada Brahman. Dalam menerima pahala di alam akhirat, itu tergantung dari karmanya selama masih hidup. Memang secara kodrati, kita meyakini karmaphala sebagai hasil perbuatan yang menentukan tempat sang roh akan kemana setelah kematian. Tidak jarang kajang ini sering menjadi sebuah kebanggaan identitas suatu keluarga. Bahkan tidak sedikit keluarga yang mengaburkan catur wangsa dengan catur warna. Sehingga dalam ritual Pitra Yadnya (pengabenan) sering muncul permasalahan, khususnya dalam ngaben kolektif. Yakni suatu soroh itu menjadi eksklusif. Padahal kalau kita kembali pada intisari ngaben adalah pengembalian unsur Panca Mahabhuta ke asalnya. Seperti, unsur padat pada badan manusia kembali ke pertiwi, unsur cair akan kembali pada apah, unsur panas kembali ke api, unsur angin kembali bergabung pada udara, dan unsur ruang kosong pada manusia kembali pada akasa. Sementara, Sang Atma yang selama ini berada di dalam tubuh manusia saat masih hidup akan kembali pada Brahman. Dalam menerima pahala di alam akhirat, itu tergantung dari karmanya selama masih hidup.

FUNGSI KAJANG

Fungsi kajang tidak menentukan orang mendapatkan tempat yang baik.  Sang Atma bukannlah benda material tetapi roh. Melalui pengetahuan yang tertoreh dalam rajahan-rajahan kajang, itu sebenarnya untuk menyadarkan Sang Hyang Atma bahwa dia akan kembali kepada Brahman. Bukan kembali pada sumber sorohnya.

  


Rerajahan yang terdapat pada kain putih orang yang diaben melambangkan lapisan badan rohani dan atman. Sedangkan kain putih sendiri adalah lambang badan jasmani. Rerajahan yang digunakan pada kain putih merupakan lambang dari dewa-dewa manifestasi Brahman. Kajang pada umumnya dibuat dengan suatu upacara dan puja oleh pandita pemimpin upacara. Tahap pembuatan kajang,  dari awal sampai  melaspas menggunakan banten dan puja tertentu, hal ini dilakukan agar kajang yang dihasilkan bernilai sakral.

Beberapa fungsi aksara suci kajang : 

1.    Fungsi referensial yaitu fungsi bahasa yang mereferensikan objek sebagai acuan makna. 

2.  Fungsi emotif / ekspresif, yakni mengekspresikan bahasa sesuai dengan keinginan seperti pembuat kajang (pendeta / sulinggih) dan pengguna kajang (orang yang mengadakan upacara ngaben).

Ada beberapa penggolongan kajang masing-masing memiliki aksara suci sebagai ciri pembeda: 

1.  Fungsi metalinguistik merupakan fungsi bahasa yang dikaitkan dengan faktior di luar bahasa, dalam aksara suci tersebut secara metalinguistik fungsi bahasa dikaitkan dengan hakikat kehidupan, manusia sesuai keyakinan umat Hindu di badan manusia (sarira kosha)

2.  Fungsi magis, yaitu aksara suci yang dikaitkan dengan sesuatu yang sakral (nama-nama dewa sebagai manifestasi Brahman), meliputi:

            a.   Brahman yang tunggal (esa), 

b.   Brahman  sebagai pencipta Purusa Pradana

c.   Brahman sebagai Tri Murti,

d.   Brahman sebagai Panca dewata

e.   Brahman sebagai Siwa

f.    Brahman sebagai Dewata Nawa Sanga

 

Makna permohonan kepada Brahman yaitu untuk :

1.     Mencapai kesucian, 

2.     Mencapai kebahagiaan abadi, 

3.     Mendapat perlindungan Tuhan, 

 

Berdasarkan atas hal tersebut, Kajang akan menjadi berfungsi mistik, magis dan religius jika sesana nyurat dan jnana yang menyurat terasah dengan baik. Banyak yang tidak memahami hal tersebut, sehingga Kajang disurat tanpa terlebih dahulu mentransfer aksara Kajang ke dalam diri. Beberapa Kajang pun dibuat dengan sistem Sablonan dan dibuat dengan jumlah yang banyak, sehingga terkesan ada komodifikasi Kajang oleh beberapa oknum. Hal tersebut akan menghilangkan taksu Kajang dengan fungsinya sebagai media pelepasan. Sekali lagi aksara dalam Kajang sangatlah tenget (sacral) dan salah menuliskannya berdampak pada kekuatan Kajang, bukan lagi sebagai pelepas tetapi menyebabkan sang roh mengalami kesengsaraan di alam kematian.

BACA JUGA, KLIK DIBAWAH INI : 

1.  Prosesi Memandikan Jenasah di Bali

2. Prosesi Penguburan Jenasah di Bali

3. Ngajum Kajang dan Jenis Kajang (3)

4. Aksara Suci pada Kajang (4)

5. Babad Dalem Kaleran.

6. Kehidupan Setelah Kematian 1



 


0 komentar:

Posting Komentar