KALIYUGA, RAMALAN JAYABAYA dan SABDOPALON (2)



KONSEP WAKTU
Satu Mahayuga adalah suatu siklus masa yang terjadi di muka bumi, yang terbagi menjadi empat masa, yaitu Satyayuga atau Kerta Yuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Keempat masa tersebut membentuk suatu siklus, sama seperti siklus empat musim. Perubahan masa dari Satyayuga (masa keemasan) menuju Kaliyuga (masa kegelapan) merupakan kenyataan bahwa ajaran kebenaran dan kesadaran spiritual sebagai umat beragama lambat laun akan berkurang, seiring dengan  perubahan masa. Dimana pada akhirnya manusia akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika bumi renta, ketika kerusakan moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya untuk kiamat.
         
        
     
Tumbir
Caturyuga ibarat Lembu Dharma. Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga (Caturyuga) seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, dimana setiap masa berganti, kaki lembu juga ikut berkurang satu, simbol moralitas yang berkurang setiap masa. Masa Satyayuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, moralitas mantap. Sedangkan masa Tretayuga seperti lembu yang berdiri dengan tiga kaki. Masa Dwaparayuga dengan dua kaki, dan masa Kali Yuga hanya dengan satu kaki. Pada masa itu, moralitas tidak bisa berdiri lagi dengan mantap.
Siklus tersebut dimulai dari masa keemasan (Satyayuga), dan diakhiri oleh masa kegelapan (Kaliyuga). Setelah masa kegelapan berakhir, dimulailah masa keemasan yang baru, sama halnya seperti perubahan musim dingin ke musim semi, dan siklus tersebut berlangsung selama ribuan tahun. Ketika masa kegelapan berakhir, maka masa baru akan muncul, dimana manusia-manusia yang memiliki sifat jahat sudah dibinasakan sebelumnya untuk memulai kehidupan baru yang lebih damai. Itulah siklus masa dari Satyayuga menuju Kaliyuga, dan Kaliyuga akan kembali kepada Satyayuga.
Satu Mahayuga secara singkat dijabarkan seperti di bawah ini Seperti yang dijabarkan dalam  kitab Bhagawadgita, masa Kali Yuga dimulai ± 5.115 tahun yang lalu (pada saat raja Yudistira naik tahta dan Kresna meninggal, yaitu tahun 3102 SM) dan akan terus berlangsung, selama 432.000 tahun.

Yuga dalam filsafat Hindu merupakan suatu “perhitungan masa” yang meruapakan siklus dari empat masa. Menurut kosmologi Hindu kehidupan di alam semesta diciptakan, dimusnahkan sekali dalam setiap satu  Kalpa. (429.408.000 tahun),  yang merupakan satu hari Brahman (Tuhan) secara penuh (siang dan malam)  Keberadaan Brahman mungkin sudah berlangsung selama 311 trilliun dan  40 milyard tahun. Siklus Yuga secara penuh dari Masa Emas yang tinggi dan penuh kecerahan sampai ke masa Kegelapan  dan kemudian kembali lagi  hal ini disebabkan oleh sistem perputaran matahari pada porosnya
Menurut Weda penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam semesta material ini terjadi secara terus menerus dalam siklus waktu tertentu. Salah satu siklus waktu atau masa itu disebut Maha Yuga. Ayat-ayat Weda menguraikan secara rinci, umur atau lamanya masing-masing masa itu. Masing-masing Maha Yuga terdiri atas empat masa (catur yuga) yang umurnya semakin menyusut.
Satya yuga (disebut juga Kerta Yuga) berlangsung selama 1.728.000 tahun (432.000  tahun X 4). Di masa Satya, seperti juga namanya, Dharma masih dijalankan sepenuhnya. Semua orang, semua makhluk, hidup berlandaskan Dharma. Karena itu sering masa ini disebut sebagai masa keemasan. Karena memang banyak sekali orang yang bercahaya emas karena kesadaran yang dimilikinya. . Pada masa Satyayuga, kesadaran umat manusia akan Dharma (kebenaran, kebajikan, kejujuran) sangat tinggi. Budaya manusia sangat luhur. Moral manusia tidak rusak. Kebenaran sangat dijunjung tinggi sebagai aturan hidup. Hampir tidak ada kejahatan dan tindakan yang melanggar aturan. Maka dari itu, masa tersebut disebut juga ‘masa keemasan’.  Umur manusia pada masa . Satya Yuga  sekitar 100.000 tahun
Treta Yuga berlangsung selama 1.296.000 tahun (432.000 tahun X 3). Treta  artinya ‘berkurang’. Kesadaran manusia menurun. Dharma tidak dijalankan sebanyak sebelumnya. Kadang orang menyebut ini sebagai masa perak. Karena memang tidak banyak lagi orang yang masih bercahaya keemasan, tapi mereka masih memiliki kesadaran tinggi, hingga cahaya perak masih menyelimuti. Masa Tretayuga merupakan masa kerohanian. Sifat-sifat kerohanian sangat jelas tampak. Agama menjadi dasar hidup. Meskipun begitu, orang-orang mulai berbuat dosa dan penjahat-penjahat mulai bermunculan. Pada masa ini, seseorang yang pandai, memiliki pengetahuan dan wawasan luas, serta ahli filsafat akan sangat dihormati. 75% manusia yang menjalankan dharma secara sungguh2. Umur manusia pada masa, treta yuga  sekitar 10.000 tahun,
Dwapara Yuga selama 864.000 tahun (432.000 X 2). Dvapara yang artinya ‘kemusnahan’—maka di akhir masa ini Dharma benar-benar nyaris lenyap. Hanya ada sedikit di sana sini sisa-sisa Dharma bertahan. Sisa-sisa Dharma yang bertahan inilah yang akan bangkit kembali di masa Kali atau masa Kelahiran. Pada masa Dwaparayuga, manusia mulai bertindak rasional. Penjahat-penjahat dan orang-orang berdosa bertambah. Kelicikan dan kebohongan mulai tampak. Yang diutamakan pada masa ini adalah pelaksanaan ritual. Asalkan mampu melaksanakan upacara, maka seseorang akan dihormati. Akhir masa Dwapara dimulai ketika Kresna meninggal, setelah itu dunia memulai masa terakhir, Kali Yuga. Umur manusia pada masa Dwapara Yuga sekitar 1.000 tahun,
Kali Yuga masa kita sekarang ini akan berlangsung selama 432.000 tahun. Di masa Kali inilah terjadi penurunan kesadaran spiritual manusia hingga titik terendah Selama masa Kali, sesungguhnya Dharma tidak benar-benar lenyap, tetapi Dharma yang masih tersisa, bertahan dan terus mengumpulkan tenaga untuk kelahiranNya kembali. Veda menyatakan bahwa Kali-Yuga berlangsung selama dvadasabda satatmakah, dua abad deva, atau 1.200 tahun deva Menurut tahun manusia, Kali-Yuga berlangsung selama 1.200 x 360 = 432.000 tahun (1 hari deva = 1 tahun manusia). Kaliyuga, merupakan masa kehancuran. Banyak manusia mulai melupakan Tuhan. Banyak moral manusia yang rusak parah. Kaum pria yang  berkuasa menganggap wanita sebagai objek pemikat nafsu mereka. Banyak siswa berani melawan gurunya. Banyak orang-orang yang mencari nafkah dengan tidak jujur. Dan banyak lagi kepalsuan, kebohongan, kejahatan, dan tindak kekerasan. Pada masa ini, uang yang paling berkuasa. Hukum dan jabatan mampu dibeli dengan uang. hanya 25% dharma  tersisa. Umur manusia pada masa Kali Yuga sekitar sekitar 100 tahun



Periode dari Satyayuga menuju Kaliyuga disebut 1 Mahayuga. Setiap satu Mahayuga (4.320.000 tahun) berakhir, akan terjadi pralaya. ). Setelah Mahayuga berlangsung selama 71 kali, maka tercapailah suatu periode yang disebut satu Manwantara. Setelah 14 Manwantara berlangsung, maka dicapailah suatu periode yang disebut satu  Kalpa.(429.408.000 tahun). Pada saat periode tersebut dicapai, maka akan terjadi maha pralaya..
Baru kemudian dimulai lagi masa Satyayuga. Bagi manusia, pengetahuan tentang empat putaran masa ini akan dapat membantu dirinya saat dia mempelajari spiritualitas. Di masa yang berbeda, penekanan pelajarannya berbeda, cara yang mudah untuk belajar berbeda. Pengetahuan tentang empat putaran masa ini juga dapat digunakan untuk menyadarkan manusia betapa dia sangat ‘kecil’ dibandingkan seluruh alam semesta.

Artikel selanjutnya : 
........ manusia semakin tidak mengenal Tuhan. Orang-orang suci, orang-orang yang taat kepada Tuhan akan sangat langka, dan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat umum, mereka akan disakiti, diburu seperti binatang di tengah kota.. Orang-orang suci terpaksa harus mengasingkan diri ke hutan, bersembunyi dalam goa-goa .......... Ciri-ciri Kaliyuga, yang  termuat pada Bhagawata Purana : Penuh pertengkaran dan kemunafikan. ........ Tuhan akan semakin jauh dari kehidupan manusia, institusi agama hanya dijadikan kedok untuk mencari keuntungan-keuntungan duniawi. Nilai-nilai spiritual akan semakin ditinggalkan, manusia akan semakin congkak dan merasa tidak membutuhkan keberadaan Tuhan lagi. ..........

Compiled By:  I Dewa Putu Sedana 
loading...

Belum ada Komentar untuk " KALIYUGA, RAMALAN JAYABAYA dan SABDOPALON (2)"

Posting Komentar