SIKHISME (6) (Bukan Perpaduan Agama Hindu dan Islam)




Sekte Dalam Sikh
Ada 2 sekte besar yang sangat menonjol di kalangan kaum Sikh, yaitu:  
  1. Panthis Nanak, merupakan aliran besar yang ingin mempertahankan ajaran-ajaran asli Guru Nanak
  2. Khalsa Sikh, merupakan kelompok yang mengutamakan kepatuhan dan ketundukan kepada Guru yang kesepuluh, yaitu Govind Singh, mereka lebih dinamis dan lebih terbuka terhadap kemungkinan adanya perubahan atau pembaharuan.
Selain Sekte diatas, kaum Sikh terpecah pula ke dalam 5 sekte lain, yaitu :
  1. Orsi,
  2. Hendali,
  3. Artenas,
  4. Namdali dan
  5. Akali.
Di samping itu ada juga yang membagi kaum Sikh menjadi 2 golongan besar yaitu Manjha dan Malwa.


Guru Sikh
Adat Istiadat Penganut Sikh
Agama Sikh tidak banyak merumuskan upacara ibadat. Ibadat yang paling pokok adalah semadi dalam rangka mengingat Tuhan untuk menyucikan rohani dari pengaruh-pengaruh yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Di samping itu mereka mengenal sujud dan menyanyi di kuil. Tetapi inti pokoknya adalah menyebut nama Tuhan secara terus menerus. Selain dari itu, kaum Sikh juga menjadikan tradisi menyikat rambut 2 kali sehari dan membaca serta menyanyikan syair-syair yang terdapat dalam kitab suci mereka setiap hari sebagai ibadat.
Melaksanakan adat istiadat dimulai sejak kelahiran sampai meninggal. Pemberian hadiah merupakan hal yang lazim  untuk menyambut kelahiran bayi. Pemberian nama merupakan upacara penting yang disebut  Naamkaran. Disini bayi yang baru lahir itu akan diberikan nama. Kemudian kitab mereka Sri Guru Granth Sahib akan dibuka secara acak. Bayi itu akan dinamakan mengikut huruf pertama dari halaman yang dibuka. Nama akhir untuk penganut Sikh adalah sama dan hanya berbeda yaitu Singh (Singa) bagi lelaki, Kaur (Puteri) untuk wanita.
Bila  remaja lelaki mencapai umur sebelas hingga enam belas tahun dia akan diupacarai untuk - pemakaian sorban. Upacara yang disebut  Dastar Bandhni biasanya dilakukan oleh para pemuka agama Sikh yang dipanggil Granthi atau pemuka masyarakat.
Bagi seorang Sikh, perkahwinan adalah suci dan mereka percaya pada sistem monogami.  Pada agama mereka, penceraian  tidak dibenarkan, tapi penceraian masih boleh dilakukan di pengadilan.

Tujuan Sikhisme
Tujuan hidup sikhisme adalah untuk mencapai keselamatan melalui penyatuan dengan Tuhan. Penyatuan dengan Tuhan adalah tujuan terakhir. Hidup tidak punya arti bila berpisah dengan Tuhan. Sebagaimana guru Nanak berkata, “betapa ngeri perpisahan itu ketika berpisah dengan Tuhan, dan betapa membahagiakan penyatuan itu ketika bersatu denganNYA.”.
Perpisahan diri dari Tuhan menyebabkan penderitaan yang dialami sebagai kondisi biasa manusia, meskipun manusia dan dunia diciptakan Tuhan. Kelemahan dan kesombongan manusia yang berakar dalam egosentrisme justru menyebabkan manusia terikat kepada kemelekatan pada kenikmatan  dan keinginan duniawi. Menurut Sikhisme, kemelekatan itu memisahkan kita dari Tuhan yang berakibat penderitaan bagi manusia, termasuk lingkaran kekal kematian dan kelahiran kembali. Tuhan menciptakan semuanya; Ia esa tanpa yang kedua, tak berbentuk dan bersifat kekal. Dialah Tuhan yang menopang semua bentuk eksistensi dan tinggal dalam semua eksistensi itu.


Guru Sikh

Cara Mencapai Tujuan
“Seseorang tidak akan mencapai Tuhan melalui nalar pemikirannya (logika manusia)”. Bagaimanakah caranya agar seseorang dapat memahami Kebenaran dan menembus awan Kebodohan? Yaitu dengan menyelaraskan kehendak kita  dengan KehendakNya, yang sebenarnya sudah direkayasa olehNya juga (dari awal penciptaan ini)”
“Semua di dunia ini adalah wujud-wujud manifestasi-manifestasi  kehendakNya, namun KehendakNya ini tidak dapat dijabarkan  oleh siapa pun juga. Melalui KehendakNya maka materi dipercepat  menuju ke arah kehidupan”.
“Melalui KehendakNya keagungan dapat tercapai, melalui KeagunganNya juga ada yang dilahirkan pada posisi yang tinggi dan ada juga pada posisi yang rendah”.
“Melalui KehendakNya, suka dan duka direkayasa, melalui KehendakNya juga yang suci mendapatkan keselamatan”.
“Melalui KehendakNya mereka yang batil berkelana terus dalam kelahiran-kelahiran yang tidak terhentikan. Kesemuanya ini hadir dalam KehendakNya, tiada satu pun yang dapat eksis tanpa kehendakNya”.
“Seseorang yang telah selaras dengan KehendakNya, terbebas secara tuntas dari berbagai ego-egonya”.
“Ada yang melantunkan kidung-kidung keagunganNya, sesuai dengan KehendakNya, ada yang berkidung akan Kedahsyatan-Nya, dan merasakan kedahsyatan ini sebagai tanda-tanda yang berasal dariNya. Ada juga yang menyenandungkan kidung-kidung yang menggambarkan-Nya sebagai Yang Maha Tanpa Batas”.
“Ada yang bernyanyi bahwa, Ia mampu merubah debu menjadi kehidupan dan kehidupan kembali menjadi debu (tanah). Ia pun Sang Pencipta (Brahma), Shiwa (Sang Penghancur), dan Wisnu (Sang Pengayom) dan Pemberi kehidupan ini”.


Artikel selanjutnya :
………. dalam suatu dialog agama, Zoroaster berhasil menundukkan dan mengalahkan kaum Majus (Magians) hingga raja beserta seluruh keluarganya memeluk agama Zarathustra dan mengumumkannya sebagai agama resmi didalam wilayah Bakhtria ……. Zoroastrianisme tidak menekankan pentingnya konversi. Mereka berusaha mempertahankan agamanya sebagai agama yang khas dalam komunitas mereka. ……… Kini, komunitas Zoroastrianisme dapat ditemukan di kota-kota besar seperti London, New York, Chicago, Boston dan Los Angeles dan telah hidup berbaur dengan komunitas-komunitas beragama lain ……..

Compiled By : I Dewa Putu Sedana, 
loading...

Belum ada Komentar untuk "SIKHISME (6) (Bukan Perpaduan Agama Hindu dan Islam)"

Posting Komentar