ZOROASTERISME, Mayat Penganutnya Digeletakkan di Menara (6)




Tata cara kehidupan
Dalam kehidupan Zoroaster mengajarkan agar manusia untuk menikah, berketurunan, memelihara  penghidupan, pertanian dan peternakan. Sama seperti halnya agama yang lain.
Zoroaster mengajarkan kepada pemeluknya untuk menolong tuhannya mengalahkan roh jahat dengan melakukan pemurnian pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik; kebersiahan hati yang pemurah dan dermawan; pengasih kepada binatang terutama hewan yang berguna; melakukan pekerjaan yang bermanfaat ; menolong kepada sesama manusia terutama orang-orang yang membutuhkan; memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik.




Rumah 1.000 Pintu

Konsep Eskatologi (Kehidupan Setelah Kematian)
Eskatologi (eschatology) berasal dari kata Grik eschatos bermakna: akhir keseluruhan. Yang maksudnya: ajaran atau doktrin tentang akhir segalanya, tentang maut, tentang kebangkitan kembali, tentang peradilan terakhir, dan tentang hidup kekal selanjutnya, sebagaimana hampir seluruh agama memiliki doktrin serupa.
Konsep surga adalah keadaan yang kembali kepada kehidupan dunia sebelum Ahriman. Surga seperti tempat reuni keluarga besar dan kehidupan di dalamnya, merupakan penyempurnaan alami dari kehidupan di dunia serta kenikmatan yang abadi dengan tidak lagi memiliki nafsu makan dan merupakan tempat roh memuji Ahura Mazda. 
Penulis Zoroaster Kiwari juga memandang keabadian jiwa dan lestarinya manusia setelah kematian, ganjaran segala perbuatan baik dan hukuman segala perbuatan buruk, di surga dan neraka, hari kiamat merupakan asas dan fondasi agama Zoroaster  Ajaran Zoroaster sebagaimana ajaran agama lainnya meyakini bahwa ruh manusia tidak akan binasa seiring dengan datangnya kematian. Manusia dengan memperhatikan segala perbuatannya, akan memasuki surga atau neraka. Dalam kitab Gathas terdapat ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajaran-ajaran yang tercantum dalam Avesta. Salah satu rukun ajaran ini yang disebut sebagai “Agama lama Zoroaster” atau “pertama”, menyebutkan: “Manusia pasca kematian akan melintasi Chinvat Peretum; sebuah jembatan yang tidak dapat dilalui oleh para pendosa, dan pada akhirnya orang-orang baik akan memasuki firdaus dan orang-orang buruk akan terlempar ke neraka. Setelah berhasil melewati jembatan ini maka seseorang akan hidup bahagia dengan rahmat Ahura Mazda. Semakin banyak kebaikan yang dibuat seseorang maka akan semakin lebarlah jembatan itu dan sebaliknya, semakin besar kejahatannya maka semakin sempitlah jembatan itu hingga rohnya tidak dapat melewatinya dan jatuh dari Jembatan Chinvat. Di bawah jembatan inilah terdapat neraka yang penuh api, sebuah tempat yang suram dan penuh kesedihan. Dan akhirnya ketika meninggal transfigurasi alam akan berakhir dalam keabadian.
Juga disebutkan dalam Gathas bahwa akan terdapat sebuah alam setelah kematian. Dalam pemahaman Zoroastrianisme, setiap orang akan mengalami penghakiman setelah meninggal.  Penganut Zoroaster meyakini bahwa ketika seseorang meninggal, ia harus dapat membuktikan dirinya telah melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan. Menurut ajaran Zoroastrianisme, dunia akan mengalami pembaruan menuju kesempuranaan dan jiwa-jiwa baik yang masih hidup dan sudah mati akan dibebaskan selamanya dari kuasa jahat.[ Pembaruan dunia dan kebangkitan kembali seluruh ciptaan disebut Frashokeveti
.
Menjelang akhir zaman akan turun 3 juru selamat yaitu:
  1. Aushedar,
  2. Aushedar-mah,
  3. Dan yang terakhir Shayoshant.
Kedatangan ketiganya akan menegakkan keadilan dan memusnahklan kejahatan.

 
Relief Zoroaster

Sekte-sekte  Zoroastrianisme
Terbaginya Zoroastrisme ke dalam beberapa kelompok bukan disebabkan karena perbedaan pemahaman teologi. Pembagian sekte-sekte ini karena waktu perayaan Tahun Baru yang berbeda-beda. Terdapat tiga sekte dalam Zoroastrianisme:
  1. Kelompok Shenshahi yang merayakan Tahun Baru pada musim gugur sekitar bulan Agustus atau September
  2. Kelompok Qadimi yang merayakan Tahun Baru pada musim panas, sekitar bulan Juli atau Agustus
  3. Kelompok Fasli yang merayakan Tahun Baru pada musim semi yaitu setiap tanggal 21 Maret
Aliran dalam Zoroastrianisme :
  1. Mazdak, aliran yang mempercayai dua tuhan, yakni tuhan kebaikan dan tuhan keburukan. Selain itu, ajaran sosialismenya menyatakan bahwa semua manusia itu sama, tidak memiliki strata sosial.
  2. Tsanawiyah, selain mengakui dualisme tuhan, mereka juga mengajarkan untuk menyembah api, selain mereka menyambah berhala.
  3. Disahniyah, ajarannya mirip dengan ajaran Manu. 
Ikuti lanjutan Artikel ini yang akan memuat : Kitab Suci, Tempat Ibadah, Upacara berupa Ritus Naojote, Ritus Kematian, dimana mayat tidak dikubur, tapi digeletakkan di Menara, Ritual Sadeh, Perkembangan Zoroastrianisme Masa Kini, Tujuan Zoroastrianisme, dan Jalan Untuk Mencapai Tujuan tersebut.

Artikel selanjutnya :
Kitab suci penganut Zoroaster adalah kumpulan tulisan-tulisan sakral yang dikenal dengan  Dasatir dibagi menjadi 2 bagian yaitu: Khurda Dasatir dan Klan Dasatir, serta Avesta yang dibagi menjadi Khurda Avesta dan Kalan Avesta yang juga dikenal dengan Zend atau Maha-Zend ........... Gatha adalah sekumpulan nyanyian yang terhimpun semenjak 3500 tahun yang lalu dan di dalamnya dijelaskan tentang jalan hidup yang baik ......... Tempat ibadah agama Zoroaster adalah kuil (kuil api) yang umumnya berbentuk kotak, di dalam kuil, api dibiarkan terus menyala sebagai perlambang kehadiran dewa-dewa juga sebagai lambang kesucian. Tidak harus pergi ke kuil jika ingin melakukan ritual ibadah, terkadang mereka berdoa di tempat luar seperti sungai-sungai, gunung, ladang dan rumah masing-masing. ............

Compiled By : I Dewa Putu Sedana, Drs, MBA.
Dari Berbagai Sumber
loading...

Belum ada Komentar untuk "ZOROASTERISME, Mayat Penganutnya Digeletakkan di Menara (6)"

Posting Komentar