APAKAH TUJUAN DARI KEBERADAAN MANUSIA




Beberapa hari yang lalu saya menerima comment  pada artikel Agama Konghucu sbb.:
“salam kenal untuk mas prabukalianget (maaf kalo salah sebut nama,,,hehehe)
saya ada beberapa pertanyaan (semoga bisa dijawab, kalo enggak juga gpp,,,cuma saya jadikan referensi saja)
1. apakah tujuan dari keberadaan manusia menurut anda
2. manusia harus aktif atau pasif dalam menjalani hidup
3. sampai sejauh mana harus aktif atau pasif
4.Apakah yang dimaksud dari Yang Mutlak/Tidak dapat didefisisikan, itu adalah “kesadaran “
5.Apakah anda setuju dengan pernyataan ini—–”manusia adalah bagian dari alam, jadi manusia akan mengikuti hukum alam”
terima kasih sebelumnya,,,
salam persaudaraan”

Karena  jawabannya agak panjang, maka saya sajikan dalam bentuk artikel saja.

Sdr. Arif yth,
Terimakasih atas beberapa pertanyaan yang anda sampaikan. Sebelumnya saya mohon maaf, karena jawaban/pandangan yang akan saya tuliskan, umumnya dari sudut pandang Agama Hindu, sehingga bila ada yang tidak sejalan dengan apa yang sdr  yakini, agar dapat dimaklumi. Semoga  bermanfaat.


Sdr. Arif : “Apakah tujuan dari keberadaan manusia”.
Dalam Agama Hindu dinyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah “Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma”, yang artinya  bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin berlandaskan dharma. Tujuan ini secara rinci dijabarkan di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni
  1. Dharma berarti mencari kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan.
  2. Artha adalah memenuhi kebutuhan  benda-benda atau materi yang dapat memenuhi  kebutuhan hidup  manusia.
  3. Kama yang  berarti memenuhi kebutuhan hidup untuk mendapatkan kesenangan  bathin, sedangkan
  4. Moksa berarti memenuhi kebutuhan untuk kebahagiaan yang kekal abadi. Moksa artinya terbebas dari siklus reinkarnasi, terbebas dari pengaruh nafsu material, dan terbebas dari suka-duka. Ketika manusia mencapai moksa maka bisa dikatakan ia telah menjadi dewa. Dewa berasal dari kata ‘div’ yang artinya cahaya / sinar suci Tuhan. Untuk dapat menyatu dengan sinar suci Tuhan, manusia harus mampu melepaskan diri dari ikatan positif-negatif tersebut. Artinya kejadian apapun yang dialaminya, tidak akan menimbulkan reaksi positif maupun negatif, tetapi berada diantaranya. Orang yang berlatih yoga atau meditasi dapat merasakan hal ini. Ketika bermeditasi, pikiran berada pada satu fokus perhatian sehingga pikiran dan badan dapat beristirahat total. Saat itu yang ada hanyalah kehampaan, ketenangan,. Ketika kondisi itu tercapai badan akan terasa hangat
Empat macam Moksha / kebebasan:
  1. Samipya Moksa = Kebebasan yang dicapai semasih hidup oleh para Resi sehingga mampu menerima wahyu dari Tuhan.
  2. Sarupya/Sadarmmya = Kebebasan yang diperoleh semasih hidup seperti Awatara Sri Kresna, Budha Gautama.
  3. Salokya / karma Mukti = Kebebasan yang dicapai oleh Atman itu sendiri telah berada dalam posisi sama dengan Tuhan tetapi belum dapat bersatu dengan Tuhan.
  4. Sayujya / Purna Mukti = Kebebasan yang tertinggi dan sempurna sehingga dapat menyatu dengan Tuhan.
Kebutuhan manusia di zaman modern, menurut  teori klasik mengenai Hierarchy of Needs dari Abraham W Maslow,  dia mengelompokkan kebutuhan manusia (tujuan hidup manusia ?) sbb :
  1. Fisiologis (Psysiological needs).  Makanan,  pakaian,  perumahan,  termasuk  kebutuhan   sex.   Umumnya   orang   akan   memenuhi    kebutuhan  ini lebih dahulu, terutama makanan dan pakaian
  2. Keamanan (Safety/Security needs).
  3. Sosial (Social needs) (bermasyarakat).
  4. Kebutuhan akan harga diri/prestige (esteemed needs).
  5. Kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan mental  dan kerja untuk memperoleh kebanggaan    (Self – actualization needs).
Menurut mereka yang menekuni bidang spiritual, mereka mengatakan : “Semakin tinggi EGO  SESEORANG (Keinginan untuk memenuhi Kebutuhan akan Harga Diri), maka makin rendahlah  tingkat spiritualitasnya.
Untuk mencapai tujuan keberadaan manusia di dunia, seseorang dapat menempuh melalui beberapa cara.  Vivekananda mengatakan agama universal harus memenuhi kecendrungan semua jenis manusia : manusia yang aktif, pekerja; manusia yang emosional, pencinta keindahan dan kelembutan; manusia yang menganilisis dirinya sendiri, penekun mistik; manusia yang mempertimbangkan semua hal dan menggunakan inteleknya, pemikir, sang filsuf.
Untuk memenuhi kecendrungan semua jenis manusia ini, Hindu menyediakan empat jalan / cara untuk mencapai tujuan, yaitu:
1.  Karma Yoga bagi yang aktif;
2.  Bhakti Yoga bagi sang pencinta;
3.  Raja Yoga bagi sang mistikus ;
4. Jnana Yoga bagi sang filsuf.
Sebagai konsekuensinya, perbedaan jalan yang ditempuh memunculkan cara ibadah – yang lebih tepat – sadhana atau praktek spiritual yang berbeda.
Kecenderungan keinginan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkannya, sangat tergantung dari perkembangan / evolusi roh (Atman) seseorang.
  1. Kelompok Roh dengan spektrum kuning tak lain adalah Roh-Roh pemula. Mereka menggunakan kehidupan mereka untuk bersenang-senang, mengejar uang, ambisi, status dan reputasi. Hal-hal yang menyenangkan mereka ada di seputar pertandingan olah raga, fighting, debat kusir, kebencian, teroris, keserakahan dan hawa nafsu. Mereka dikontrol oleh energi cakra kedua dan ketiga ( seks dan solar plexus ). Singkatnya mereka mencari kebahagiaan di hal-hal fisik dan materi, sering kali kita jumpai mereka berada di kelompok-kelompok sosial dan pergaulan yang besar. Saling bersaing, saling unjuk gigi dengan display pameran ego yang luar biasa. Mereka adalah kelompok Roh yang bising, gaul dan menarik. Dunia ada di dalam genggaman mereka untuk saat ini.
  2. Sedangkan bagi roh yang “matang” (mature souls) terbentuk oleh pengalaman reinkarnasi (evolusi roh) sekitar ribuan dan puluhan ribu tahun. Kelompok Roh ini sudah belajar banyak dari pengalaman untuk bertahan  dan memuaskan hasrat duniawi mereka. Dalam kehidupannya kali ini mereka mulai beranjak dari keinginan untuk memuaskan diri sendiri ke keinginan untuk membantu orang lain. Aura mereka sudah berkembang jauh dan memancarkan cahaya hijau kekuningan hingga ke hijau murni. Sering kali mereka berprofesi sebagai healers (penyembuh) dan counselors (pembimbing). Kelompok Roh ini sudah menemukan cara untuk menjadi mandiri, memiliki pemahaman yang baik dan lebih utuh tentang kehidupan dan tidak membutuhkan kelompok sosial yang besar. Kelompok Roh ini memiliki kemampuan untuk menaikkan energi mereka ke chakra jantung dan dengan demikian mereka akan memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama dan lingkungannya. Mature Souls sebenarnya juga masih membutuhkan eksis di kelompok-kelompok sosial dan pergaulan. Tetapi hal ini didasarkan oleh keinginan untuk sharing dan semangat saling menguatkan bukan saling pamer ego dan debat kusir seperti yang ada di kelompok sebelumnya. Kelompok Roh ini akan mulai menjadi peka terhadap energi yang ada di sekelilingnya, beberapa diantara mereka dikarenakan oleh hubungan yang sangat kuat dengan kesadaran yang lebih tinggi, beberapa juga memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Banyak diantara mereka mulai memiliki kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk cahaya. Pada perkembangan di fase ini, Roh-Roh menjadi sangat peka dan sensitif yang kemudian membuat mereka untuk menarik diri dari pergaulan dan eksistensi duniawi yang bising, tidak teratur dan tidak berguna untuk perkembangannya. Ambisi, hawa nafsu dan keinginan fana mengalami penurunan drastis pada fase ini. Kelompok ini ada di sekitar 5 persen populasi dunia.

Sdr. Arif :Manusia harus aktif atau pasif dalam menjalani hidup. Sampai sejauh mana harus aktif atau pasif”.
Manusia harus aktif menjalani hidup. Setiap manusia hendaknya melaksanakan kewajibannya sesuai dengan swadharmanya (kewajiban sesuai fungsinya)  Semestinya manusia  melaksanakan kewajibannya secara maksimal. Bisa dianalogikan bahwa semua orang “semestinya” melaksanakan “Job Descriptionsnya” agar tercapai nilai “A”.
Bhagavad-gita 3.19 : Karena itu hendaknya seseorang bertindak karena kewajiban’ tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa.
Bhagavad-gita 2.48 : Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.
Bhagavad-gita 6.2 : Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang disebut melepaskan ikatan sama dengan yoga atau mengadakan hubungan antara diri kita dengan Yang Mahakuasa,  sebab seseorang tidak akan pernah dapat menjadi yogi kecuali ia melepaskan keinginan untuk memuaskan indria-indria.
Bhagavad-gita 6.27 : Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia di bebaskan dari segala reaksi perbuatan dari dahulu.


Sdr. Arif :  “Yang Mutlak/Tidak dapat didefisisikan, itu adalah “kesadaran “.
Berbagai sebutan digunakan untuk memuliakan Yang Mutlak. Salah satunya adalah : Sang Hyang Acintya (Yang tak terfikirkan). Apakah yang tak terfikirkan itu adalah kesadaran ?. Sepertinya kok nggak.
Tuhan ada “dalam” manusia, dan demikian juga karma  adalah merupakan bagian organik dari hakekat manusia. Einstein, yang juga Yahudi, hanya menerima paham ketuhanan Spinoza. Spinoza dianggap sebagai salah seorang filsuf Barat modern yang terbesar. Filsafatnya tentang Tuhan hampir mirip dengan dengan pandangan Hindu, yang disebut Pantheisme (pan = segalanya; theis = Tuhan). Ia memahami Tuhan mengejawantah di dalam hukum-hukum alam, yang di dalam Hindu disebut Rta yang mengatur alam dan karma yang mengatur perbuatan manusia.
Beberapa petikan untuk Yang Mutlak :
Bhagavad-gita 8.22  : Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.
Bhagavad-gita 6.27 : Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia di bebaskan dari segala reaksi perbuatan sebelumnya.
Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar imenemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.
Menyinggung mengenai  tingkat kesadaran manusia, Vedanta membagi tingkat kesadaran ke dalam lima kategori yaitu :
  1. Avrta Cetana :  Kesadaran Tertutup. Di dalam tingkat pertama disebut kesadaran tertutup, seseorang sadar dengan  makanan. Seorang anak atau seekor binatang puas hanya dengan mendapatkan makanan yang enak. Perhatian seseorang hanya pada makan dan tidur saja. Berdasarkan pada sistem Weda, seseorang yang hanya sibuk dalam merencanakan sebuah standar tinggi kehidupan materialistis yang terdiri dari makan dan berketurunan, tidak lebih baik dari binatang. “Binatang dan manusia keduanya berbagi kegiatan makan, tidur, berketurunan dan membela diri. Tetapi sifat khusus dari manusia adalah bahwa mereka mampu untuk menyibukan diri di dalam kehidupan rohani. Oleh karena itu tanpa kehidupan rohani, manusia ada pada tingkatan binatang [Hitopadesh].”
  1. Sankucita Cetana : Kesadaran Mengkerut. Di dalam tingkat kedua, yaitu kesadaran yang mengkerut, seseorang sadar bahwa dirinya ada. Pada tingkat pertama seseorang hanya sadar makanan. Di sini kesadaran seseorang lebih tinggi. Seseorang sadar akan badannya dan dia berkeinginan untuk melindunginya dari setiap bahaya yang mungkin ada. Jika seseorang dapat melanjutkan hidupnya tanpa menjadi binasa seseorang berpikir dirinya bahagia. Dalam konsep hidup badaniah, seseorang mengerti kehidupan dimaksudkan untuk kenikmatan indria-indria. Menyamakan diri dengan badan dan bertindak pada tataran badaniah adalah sebab dari penderitaan hidup. Seseorang hanya menginginkan untuk kenikmatan indria-indrianya dan semua kegiatannya terpusat pada tujuan ini. Pada tingkat kesadaran ini seseorang tidak dapat mentoleransi setiap ketidaknyamanan badaniah. Untuk memuaskan indria-indrianya dan mencapai kenyamanan material seseorang akan bekerja seperti binatang pembawa beban. Orang-orang seperti itu tidak ingin mengangkat jarinya untuk pelayanan kepada Tuhan. Di dalam kesadaran yang mengkerut seseorang tidak ingin menyibukan pendapatan dan tenaga mereka untuk Tuhan. Seseorang hanya ingin menikmati hasil dari pekerjaan mereka untuk kepuasan indria-indria mereka sendiri. Orang-orang seperti itu disebut pekerja yang mengharapkan hasil. Di dalam Weda, Arjuna, awalnya, menolak untuk melaksanakan tugasnya. “Wahai pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia inipun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka [BG. 1.35]”.
  2. Mukulita Cetana : Kesadaran  Kuncup. Pada tingkat ketiga, kesadaran kuncup, seseorang menginsafi bahwa sejumlah besar harta material tidak dapat memberikan kebahagiaan yang sejati. Kesibukan yang berlebihan dari kenikmatan indria-indria, muncul rasa frustasi. Pada saat ini seseorang tidak lagi berhasrat untuk bekerja seperti binatang untuk mengumpulkan harta benda. Dia menjadi ingin tahu untuk mengerti penyebab dari penderitaan ini. Ketika seseorang maju dari tataran badaniah, seseorang mencapai tataran mental. Seseorang memiliki sebuah pendekatan filosofis tentang nilai-nilai kehidupan. Pada saat itu pikiran menjadi pusat dari kegiatan indria-indria. Seseorang menyamakan pikiran dengan dirinya.Dari titik ini seseorang mencapai sebuah tataran yang lebih tinggi dari pertanyaan rohani. Proses seperti itu dikenal sebagai filosofi mencari kebenaran.
  3. Vikacita Cetana : Mekar. “Semua kesibukan dalam tugas kewajiban pasti dimaksudkan untuk pembebasan tertinggi. Semua kesibukan itu hendaknya dilakukan bukan untuk mendapatkan keuntungan material. Lebih jauh lagi, menurut para resi, orang yang tekun dalam pelayanan tertinggi hendaknya tidak menggunakan keuntungan material untuk mengembangkan kesenangan indria. Keinginan-keinginan dalam hidup ini hendaknya tidak diarahkan pada kesenangan indria. Sebaiknya orang hanya menginginkan kehidupan yang sehat, atau perlindungan diri, sebab manusia dimaksudkan untuk bertanya tentang Kebenaran Mutlak. Semestinya tidak ada hal lain yang menjadi tujuan kegiatan mereka [SB 1.2.9-10]”.
  4. Purna Vikacita Cetana : Mekar Sepenuhnya. Kesempurnaan utama dilengkapi dengan tingkat kelima yaitu kesadaran yang mekar sepenuhnya. Ketika seseorang kehilangan minat pada jalan kegiatan yang mengharapkan hasil, pengetahuan spekulatif, dan ilmu kebatinan, seseorang sampai pada jalan pelayanan cinta bhakti rohani. Inilah perkembangan tertinggi dari kesadaran manusia. Di dalam kesadaran yang sepenuhnya mekar tidak ada peluang bagi kegiatan yang mengharapkan hasil, yang dimaksudkan untuk kenikmatan indria. Bahkan pengetahuan spekulatif, yang dimaksudkan untuk melepaskan ikatan dari kegiatan duniawi, dan Ilmu kebatinan, dimana seseorang telah menginsafi bahwa Tuhan adalah dekat bukan merupakan tujuan akhir. Di dalam pelayanan cinta bhakti rohani seseorang mengembangkan hubungannya dengan Tuhan dan secara terus-menerus mengingat dan melayaniNya dengan cinta kasih yang penuh. “Selalu memuji kebesaran-Ku, berusaha dengan ketabahan hati yang mantap, bersujud di hadapan-Ku, Roh-roh yang mulia ini selalu memuja-Ku dengan bhakti [BG.9.14]”.

Sdr. Arif : “Manusia adalah bagian dari alam, jadi manusia akan mengikuti hukum alam”
Bumi bukanlah pusat tata surya, matahari bukanlah pusat galaksi kita, Galaksi kita hanyalah salah satu dari miliaran galaksi di alam semesta tak berpusat. Manusia  disebut sebagai “Bhuana Alit / Micro Cosmos” dan alam semesta (Universe) disebut sebagai “Bhuana Agung / Macro Cosmos”, karena itu disebutkan : (kekuatan) apapun yang ada di alam semesta, juga ada dalam diri manusia, hanya diperlukan cara yang tepat untuk membangkitkannya.  Alam semesta juga “bernafas/berdenyut” dan bila manusia mampu untuk mengendalikan pikirannya agar sesuai dengan “denyut” alam semesta, maka “atmanya / rohnya”  akan tidak lagi dibatasi oleh waktu dan ruang, serta dapat pergi ke dimensi yang lebih tinggi atau lebih rendah sesuai dengan keinginannya. (Ini menurut keterangan orang yang menekuni spiritual).
Diri Kita Yang Sejati (Roh) berbeda dengan badan material yang boleh dianggap hanya kekosongan / tidak nyata (ingat benda pada akhirnya adalah atom, elektron, proton dst. yang hanya energi tidak kasat mata), badan kita bisa dikatakan sama dengan gambaran orang yang ada di layar televisi atau bioskop, yang hanya pancaran elektron atau sinar, apapun kejadian yang terjadi di dalam layar televisi. kita mestinya tidak menganggap hal yang nyata / benar ada di layar televisi tersebut. Karena yang nyata hanya Roh Individual (Atman) dan Brahman (Tuhan), namun Atman pun adalah Brahman, diluar itu yaitu alam, benda, badan adalah energi semata (energi / tenaga eksternal Tuhan). Alam material dan badan seperti halnya bayangan.. seolah-olah ada tapi sebenarnya tidak nyata.
Sdr. Arif. Demikian ulasan dari saya, selebihnya silahkan sdr. Arif untuk melengkapi.

Artikel selanjutnya :
Kaliyuga. Mengapa para Maharsi mampu “meramalkan” hal-hal yang akan terjadi ribuan tahun kedepan ? Buat para penekun spiritual tentulah hal seperti itu tidak aneh. Karena bagi mereka yang “waskita”, penglihatan bathinnya “tidak dibatasi oleh waktu dan ruang”. ........... ), Kaliyuga dimulai pagi hari  pada tanggal 18 Februari 3102 BJC (Before the Calendar of Julian Ceasar) (menurut perhitungan kalender Julian,] atau tanggal 23 Januari 3102 SM (menurut perhitungan kalender Gregorian), yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia.  ............. Dengan menganalisis kemungkinan dari segi astronomi mengenai pernyataan  Vyasa (Byasa) pada   Bhishma Parwa “Dua gerhana  dalam sebulan  dalam waktu 13 hari.”. Dengan mempresentasikan data gerhana dalam perioda  3300 BCJ  sampai  700 BCJ yang terlihat di  Kuruksethra,  dengan menggunakan Lodestar Pro Software (Software untuk astronomi)..........

loading...

Belum ada Komentar untuk "APAKAH TUJUAN DARI KEBERADAAN MANUSIA"

Posting Komentar