BUDHA ZEN (4)




Ritual Agama Zen
Kalau di Indonesia dan beberapa negara lain yang mayoritas Buddha mengenal hari Waisak sebagai hari raya besar umat Buddha, di Jepang hari raya ini sama sekali tidak dikenal dan juga tidak dirayakan. Karena Jepang merupakan negara sekuler maka mereka tidak mengenal hari libur agama. Di dalam Cha’n/Zen, upacara-upacara yang berbelit-belit kurang dilaksanakan, pembakaran dupa wangi dan lilin pun hanya sekali-sekali. Mereka juga mengulang Sutra, namun hal itu bukan merupakan suatu keharusan. Bagi mereka meditasi adalah bagian dari kehidupan mereka, namun meditasi tidak bisa menjamin seseorang menjadi Buddha. Segala sesuatu harus diresapi dan di realisasikan agar dapat menghayati setiap momen kehidupan. Mereka begitu menyintai ketenangan, keheningan serta keindahan alam karena hal-hal demikian banyak membantu dalam usaha untuk mencari diri pribadi dan mengenal diri sendiri. Tentu saja moral kesusilaan sangatlah mereka junjung.


Masyarakat umum hanya tahu satu hal saja yaitu berdoa. Datang ke kuil pada hari kapan saja, melempar sekeping uang dan berdoa dengan mencakupkan kedua tangan di dada supertinya sudah lebih dari cukup dan ritual ini dilakukan tidak lebih dari lima detik. Jadi di kuil Buddha di Jepang sepenuhnya hanya berfungsi sebagai tempat berdoa saja.
Para penganut Zen percaya bahwa ketenangan dalam pelaksanaan ritual, keheningan, sedikit rasa pahit teh di anggap rasa yang menyenangkan, rasa alami, dan jalan tengah antara manis dan asam. Para rahib Zen sering menggunakan teh sebagai media  pada saat melakukan meditasi. Meminumya dengan penuh rasa nikmat, tanpa terburu-buru.
Dalam sebuah ritual yang dilakukan oleh penganut Zen ditemukan pada upacara minum teh. Upacara minum teh dilakukan ditempat khusus, disuatu bangunan disebelah bangunan utama yang terletak dihalaman. Dahulu upacara ini dilakukan dalam suatu kelompok kecil. Biasanya dilakukan seorang lelaki samurai yang mencintai seorang perempuan. Janji seorang samurai, permintaan seorang samurai disampaikan dalam upacara sederhana yang  dianggap sacral. Pada saat modern ini upacara minum teh kebanyakan dilakukan sebagai penghormatan terhadap teradisi. Disamping itu dikalangan orang-orng tertentu, dilakukan oleh orang-orang dikalangan bisnis yang lelah dan pusing dengan persoalan-persoalan duniawi. Upapacara minum teh dilakukan dengan sangat tenang dan ritualistik. Didalam seni minum teh terdapat faedah dan manfaat antara lain menjaga kesehatan tubuh dan memperpanjang usia. Minum teh merupakan salah satu obat teradisional  yang dipercaya oleh orang Cina dan jepang  sangat manjur.


Seni Zen
Seni Zen sebagian besar memiliki ciri khas lukisan asli (seperti sumi-E dan Enso) dan puisi (khususnya haiku). Seni ini diusahakan  untuk mengungkapkan dengan sungguh-sungguh intisari sejati dunia melalui gaya impressionisme dan gambaran tak terhias yang tak "dualistik". Pencarian untuk penerangan "sesaat" juga menyebabkan perkembangan penting lain sastra derivatif seperti Cha”noyu (upacara minum teh) atau Ikebana; seni merangkai bunga. Perkembangan ini sampai sejauh pendapat bahwa setiap kegiatan manusia merupakan sebuah kegiatan seni sarat dengan muatan spiritual dan estetika, pertama-tama apabila aktivitas itu berhubungan dengan teknik pertempuran (seni beladiri).
Kuil Zen-Buddhisme memainkan peranan penting dalam melindungi seni Jepang, di samping sebagai penyokong olahraga gulat, anggar, dan memanah untuk pasukan pelindung mereka. Kuil Zen-Buddhisme juga sebagai penganjur terhadap seni sajak (puisi), lukisan, kaligrafi, dan seni merangkai bunga (ikebana). Kuil Zen-Buddhisme juga memberikan perhatian khusus terhadap seni membuat taman.



Tujuan Agama Chan/Zen.
Zen Buddhisme adalah sebuah aliran yang menekankan pentingnya meditasi dan mengkhususkan diri dalam hal itu. Zen yang mewakili puncak spiritualitas dalam agama Buddha adalah berintikan tentang transimi jiwa ajaran Buddha yang bersifat istimewa.
Tujuan akhir mempelajari agama Buddha adalah untuk mencapai keadaan kedamaian sempurna, Nirvana. “Kedamaian sempurna” ini berbeda dari konsep umum mengenai ketidakadaan gerak. Di kehidupan kita setiap hari, kita mengatakan bahwa sebuah objek tertentu bergerak dan objek yang lain tidak bergerak karena perbuatan pikiran kita. Semua fenomena diciptakan oleh pikiran kita. Sebenarnya, fenomena itu sendiri tidak memberikan perbedaan antara bergerak atau tidak bergerak. Yang membuat perbedaan adalah keterikatan pada pikiran kita yang disebabkan oleh kayalan. Jika kita dapat membebaskan diri dari keterikatan  ini, pikiran kita akan tenteram dan segala sesuatu akan berada dalam keseimbangan.
Sedangkan tujuan hidup Zen  sekte Soka Gakkai adalah penciptaan nilai. Nilai yang utama adalah kebaikan, kemudian kegunaan, ketiga, keindahan.


Jalan Untuk Mencapai Tujuan
Pengetahuan akan menyeret orang-orang untuk memiliki pikiran yang menciptakan perbedaan. Orang-orang akan kehilangan diri di dalam dunia pengetahuan, bahkan kadang-kadang hingga pada kondisi dikendalikan oleh pandangan pembangkangan. Dengan demikian, orang-orang menjadi berbahaya bagi makhluk lain. Cha’n menganjurkan agar pertama-tama, orang-orang mencari sifat diri, dengan cara:
1. Meneliti Cha’n melalui keragu-raguan. Banyak agama di dunia ini menekankan keyakinan.Agama-agama itu tidak membiarkan penganutnya memiliki  keraguan mengenai doktrin keagamaan mereka Dalam agama-agama lain, tidak ada tempat untuk keragu-raguan. Seseorang harus percaya tanpa syarat. Akan tetapi, Cha’n mendorong seseorang untuk memulai dari sikap ragu-ragu. Sedikit keraguan akan menuju ke sedikit  penyadaran. Keraguan yang besar akan menuju pada penyadaran yang besar. Ketidakadaan keraguan akan menuju pada ketidaadaan penyadaran.
2.   Mencari penyadaran melalui perenungan. Saat keraguan muncul, seseorang perlu merenungkannya  untuk mencapai kesadaran. Tujuan dari banyak koan, seperti “Bagaimana wajah asli seseorang sebelum dilahirkan oleh orang tuanya?”, “Apakah anjing memiliki sifat Buddha?”, “Siapa yang membaca nama Buddha?”, adalah untuk membangkitkan keraguan seorang praktisi Cha’n. Perenungan secara tekun akan koan-koan ini akhirnya akan menuju pada penyadaran. Mereka yang berada dalam khayalan hanya akan duduk dan tidak melakukan apa pun, sementara mereka yang bijaksana akan berlatih dengan tekun.” Ketekunan berarti merenungkan dengan penuh perhatian setiap saat, bukan hanya ketika sedang duduk bermeditasi
3.   Belajar Cha’n dengan bertanya. Ketika merenungkan koan, hal yang paling penting adalah terus-menerus bertanya sampai orang itu sadar. Hal ini sama seperti mencoba menangkap seorang pencuri;  seseorang harus terus mengejarnya tanpa berhenti. Kesadaran akhir akan diperoleh jika seseorang terus menerus bertanya. Cha’n adalah sesuatu yang tidak dapat diuraikan dengan perkataan. Jalan akan lenyap begitu bahasa dipergunakan.  Kondisi itu akan hancur jika direnungkan dengan pikiran.
4.     Menyadari Cha’n melalui pengalaman pribadi. Untuk berlatih Cha’n, seseorang harus mulai dengan keraguan, perenungan, dan pertanyaan, tetapi langkah akhir dan yang paling penting adalah pengalaman pribadi yang menyangkut Cha’n. Cha’n bukanlah untuk diperbincangkan ataupun direnungkan, tetapi untuk dialami. Kesadaran adalah keadaan pikiran yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata. Kesadaran hanya dapat dialami oleh mereka yang sudah mencapainya.Sebenarnya, metode yang paling tepat dari ajaran Cha’n adalah untuk menyadarinya melalui kehidupan seseorang setiap hari, dengan mengenakan pakaian, makan, duduk diam, dan bepergian. Segala sesuatu yang kita lakukan atau berhubungan dengan kita adalah Cha’n.



Artikel selanjutnya : 
Jainisme adalah sebuah agama kuno di India yang mana dikatakan berasal dari keluarga Dharma. Walaupun pengikutnya adalah kelompok minoritas dengan lebih kurang 4,9 juta pengikut di India, pengaruh pengikut Jain pada agama, etika, politik, dan ekonomi cukup besar. ............ “Jain” menurut Sri Krisna Saksena, berasal dari kata “Jina” (Sansekerta.), yang berarti pemenang atau yang mengalahkan ................. Jainisme tidak mempermasalahkan keberadaan Tuhan  atau mahluk lain yang lebih tinggi dari manusia sempurna ............. Ajaran ini menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. . Jain menegaskan bahwa ahimsa termasuk sikap tanpa kekerasan terhadap binatang dan manusia. Tapi, penganut yang taat kepada agama Jain ini berbuat lebih jauh lagi dari itu. Nyamuk yang menggigit kulit dibiarkan semau-maunya. ................

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 
loading...

Belum ada Komentar untuk "BUDHA ZEN (4)"

Posting Komentar