JAINISME ; AGAMA YANG ATHEIS (10)





Kebiasaan
Puasa merupakan hal yang sangat lazim dalam spiritualitas Jain. Biasanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu, seperti hari Raya tertentu. Puasa lebih sering dilaksanakan oleh kaum wanita dibandingkan dengan prianya. Penganut Jain berpuasa sebagai penebusan dosa, terutama bagi para pendeta. Puasa juga membersihkan badan dan pikiran, seperti  Mahavira yang menggunakan banyak waktunya untuk melaksanakan puasa. Bagi penganut Jain tidaklah cukup hanya tidak makan saja dalam melaksanakan puasa mereka haruslah juga menghentikan keinginannya untuk makan. Bila dia menginginkan makan, maka puasa itu tidaklah ada manfaatnya.
Ada beberapa jenis puasa.
  1. Puasa penuh : tidak makan dan minum secara penuh dalam jangka waktu tertentu.
  2. Puasa sebagian : makan lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk mencegah rasa lapar.
  3. Vruti Sankshepa: membatasi  jenis makanan yang dimakan .
  4. Rasa Parityaga: menghindari makanan yang disenangi
  5. Puasa Agung, beberapa pendeta Jain berbuasa berbulan-bulan dalam sekali puasa, mengikuti contoh Mahavira, yang dikatakan melaksanakan puasa sampai 6 bulan. Bahkan sekarangpun masih ada  yang berpuasa lebih dari 6 bulan seperti Hira Ratan Manek. Yang lainnya berpuasa sampai setahun penuh seperti Sri Sahaj Muni Maharaj yang mengakhiri puasa 365-hari pada 1 Mei, 1998.
Santhara atau Sallenkhana – Berpuasa sampai mati, seorang Jain berhenti makan  dengan maksud untuk menyiapkan kematian Ini berbeda dengan bunuh diri, karena tidak dilandasi dengan perasaan marah atau emosi, tetapi hal ini dilakukan bila tubuh  tidak mampu lagi melayani pemiliknya  sebagai alat spiritualitas. Tujuannya untuk membersihkan badan, dan menyingkirkan  semua keinginan   yang bersifat fisik dari pikiran. Seperti halnya  menghentikan makan dan minum, sehingga bisa memusatkan fikiran kearah spiritual menyongsong kematian.

Tujuan Jainisme
Tujuan terakhir dari makhluk hidup, menurut filsafat Jain harus mencapai keadaan suci dalam Jiva, dengan menghilangkan semua karma yang sudah melekat pada kita hampir selamanya. Ini adalah keadaan yang sama dimana Tirthankara (Guru)  dan jutaan Jiva lain sudah mencapainya. Kita menyebut keadaan ini keadaan Siddha.
Akan tetapi, tujuan pengikut Jain dalam lingkaran kehidupan mereka sekarang adalah mengikuti jalan untuk menaklukkan kemelekatan dan keengganan. Bagi orang awam sudah diberikan langkah sederhana untuk mengikutinya. Ia melibatkan kepercayaan dalam nilai kunci tertentu, ajaran kunci tertentu, melakukan meditasi, berdoa, dan kegiatan Jivani lainnya yang akan membantu Jiva membebaskan dirinya sendiri dari ikatan karma yang pada akhirnya membawa kita melalui beberapa lingkaran kehidupan menuju keadaan yang sama sucinya, Siddha.
Tujuan hidup juga adalah untuk membatalkan efek negatif dari karma melalui pemurnian mental dan fisik. Proses ini mengarah pada pembebasan disertai dengan kedamaian batin. jiwa adalah disebut ‘pemenang’ (dalam bahasa Sansekerta / bahasa Pali, Jina) karena telah mencapai pembebasan dengan upaya sendiri. Seorang Jain adalah pengikut Jina (“penakluk”). Jina maju secara Jivani sehingga manusia menemukan kembali dharma, dan bisa dibebaskan dari halangan karma, dan mengajarkan jalan spiritual agar bermanfaat untuk semua makhluk hidup. Jain mengikuti ajaran 24 jina khusus yang dikenal sebagai Tirthankara (“orang-orang yang telah menunjukkan jalan ke keselamatan bebas dari  kelahiran dan kematian”) sebuah upaya yang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Jain percaya bahwa pengetahuan tentang dharma adalah benar dan telah menurun   sepanjang sejarah. Tujuan dari Jainisme adalah juga untuk menyadari sifat sejati jiva. Mereka yang telah mencapai moksha disebut siddha (jiwa dibebaskan), dan mereka yang melekat pada dunia melalui karma mereka disebut samsarin (jiwa duniawi). Setiap jiwa harus mengikuti jalan, seperti yang dijelaskan oleh para jina (pemenang), untuk mencapai pembebasan total atau moksah. Sedangkan tujuan utama dari penganut Jain adalah untuk menjadi Paramâtman, jiwa yang sempurna. Hal ini bisa dicapai bila seluruh lapisan karma, yang dipandang sebagai substansi dapat ditiadakan, yang akan menuntun jiwa ke bagian atas alam semesta, bergerak dari kegelapan  menuju pencerahan, , jiwa tinggal selamanya didalam kebahagiaan moksha. Moksha dalam Jainisme sebagai kebebasan, penyatuan dan integrasi , bebas dari keinginan bebas dari karma dan kelahiran kembali. Moksha dapat dicapai di dunia ini  atau pada saat meninggal. Bila Moksah tercapai, maka manusia mencapai sebagai manusia  Tuhan. Bagi penganut  Jain tiak ada Tuhan pencipta  dan karena itu, tidak ada komunkasi denganNYA . Jiwa adalah kesadaran yang murni, berkekuatan, kebahagiaan, dan maha tahu.
Tujuan tertingi ajaran-ajaran agama Jain pada hakekatnya adalah untuk mencapai kesempurnaan absolute dari kehakikian manusia, yakni pembebasan diri dari segala macam penderitaan dan kungkungan atau belenggu. Tiga cara menyingkirkan belenggu, yaitu :
  1. Pengetahuan benar dalam ajaran-ajaran tersebut
  2. Keyakinan yang sempurna dalam ajaran-ajaran guru-guru Jaina.  dan
  3. Perilaku yang benar. Perilaku benar terdiri atas praktek tidak menyakiti atau melukai seluruh makhluk hidup, menghidari kesalahan, mencuri, sensualitas, dan kemelakatan objek-objek indriya, mengkombinasikan ketiganya di atas, perasaan akan dikendalikan dan karma yang membelenggu Jiva akan disingkirkan. Lalu, Jiva mencapai kesempurnaan alamiahnya yang tak terbatas, pengetahuan tak terbatas, dan kebahagian yang tak terbatas. Inilah keadaan moksa menurut ajaran Jaina. Hal ini telah dibukatikan oleh guru-guru dalam tradisi Jaina atau Tirthankara. Mereka memperlihatkan jalan menuju moksa. Ada tindakan tertentu yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan unsur karma. Tindakan-tindakan ini adalah meditasi, kegiatan Jivaani, mengendalikan emosi negatif kita, dan sebagainya. Jadi pada dasarnya menurut Jainisme, Jiva bertanggung jawab penuh atas tindakan-tindakannya
Oleh karena itu, untuk mencapai kesempurnaan tersebut, agama Jain mendorong semua pengikutnya untuk hidup dengan penuh kesederhanaan, yang diwujudkan dalam bentuk praktek-praktek aksetik atau pertapaan. Hidup semacam ini merupakan usaha untuk mencapai kehidupan yang abadi.


 Patung Svetambara Jain yang penuh Hiasan  

Jalan Untuk Mencapai Tujuan
Jiwa melalui beberapa tahap peningkatan spiritual, yang disebut gunasthâna, manifestasi yang progresif dengan menurunkan dosa dan meningkatkan kesucian. Jiwa  akan memperoleh kehidupan yang lebih baik  sesuai dengan  karma individu yang bisa ditiadakan selama hidupnya. Diantara kelahiran-kelahiran , jiwa bertempat disalah satu tujuh neraka, enam belas sorga atau di empat belas area angkasa. Jiwa yang telah bebas tinggal di alam semesta yang paling tinggi. Semua penganut  Jain memiliki lima janji, tapi para pendeta yang melaksanakan kehidupan dengan tidak menikah dan hidup dalam kesederhanaan. Jainisme menempatkan penekanan yang besar  pada  ahiµsâ, samadi dan sebagai biarawan sebagai alat untuk mencapai tujuan Melaksanakan  pûjâ di kuil merupakan bentuk dari duapulluh empat Tîrthankara atau aturan spiritual, mereka yang mengambil yang lainnya mengarungi samudera samsâra.
Menurut Jainisme, hanya ada satu jalan untuk mencapai moksah: yaitu dengan jalan puasa sampai meninggal, yang disebut dengan santhara Ini merupakan bentuk  tertinggi dari “tak tersentuh”, meskipun hal ini jelas merupakan kekerasan kepada diri sendiri penganut, tapi hal itu merupakan sesuatu yang paling sedikit menghancurkan bentuk kehidupan yang lain. Metoda ini dipilih oleh pendiri Jainisme : Mahawira, ketika beliau dilaporkan mencapai moksah pada hari raya Diwali.

Artikel selanjutnya : 
Agama Sikh merupakan agama Non-Semit, Non-Vedic. Agama Sikh merupakan agama terbesar ke-6 di dunia. Ada yang mengatakan agama Sikh sebagai cabang dari Agama Hindu (tetapi tidak demikian halnya). ........... Agama Sikh ini secara tegas menyatakan diri sebagai agama monotheisme. yang juga menentang ajaran Avtarvada, yakni konsep titisan (inkarnasi) Tuhan. Meditasi dengan menyebut nama Tuhan dan menyanyikan puji-pujianNya merupakan cara peribadatan Sikh. Kepercayaan utama orang Sikh adalah keyakinan kepada Waheguru ............

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 
loading...

Belum ada Komentar untuk "JAINISME ; AGAMA YANG ATHEIS (10)"

Posting Komentar