JAINISME ; AGAMA YANG ATHEIS (8)





KITAB SUCI
Setiap kelompok aliran tersebut memiliki kitab-kitab suci  yang berbeda. Nama umum untuk kumpulan kitab-suci Jainisme adalah Agama (aturan/ajaran/perintah). Jumlah buku-buku itu bervariasi dari 33 sampai 84 buku tergantung kepada masing-masing sekte. Sebuah Kitab Jainisme ditulis dalam waktu yang amat panjang dan kitab yang paling dikenal ialah Tattvartha Sutra, atau “Buku Kenyataan” yang ditulis oleh Umasvati (atau Umasvami), seorang cendikiawan dan pendeta yang hidup pada lebih dari  18 abad  yang lalu
Para penganut Jaina mengadakan pertemuan dibandar Patli putra, untuk mengumpulkan naskah-naskah suci untuk dijilid manjadi satu. Dan kemudian kitab suci ini diberi nama Siddhanta, yang menjadi ajaran pokok agama Jaina. Dan bahasa yang digunakan dalam kitab ini adalah bahasa Ardhamajdi atau prakit. Namun bahasa tersebut hanya digunakan pada abad-abad sebelum masehi, setelah masehi untuk menjaga isinya kitab tersebut diganti bahasanya menjadi bahasa sansekerta.
Sedangkan kitab Siddhanta sendiri terdiri dari 12 anggas sebelumnya, semua itu adalah himpunan yang terdiri dari wejangan-wejangan Mahavira. Namun anggas yang kedua belas telah lenyap sampai kini, tidak bisa diketemukan lagi. Namun tentang jumlah anggas seluruhnya, yang merupakan bagian dari kitab suci dijumpai perbedaan pendirian diantara sekte-sekte didalam agama Jaina itu. Seperti sekte Digambara mengakui ada 80 anggas dari bagian kitab suci agama Jaina sedangkan sekte Swetambara mengakui hanya 45 anggas saja. Sedangkan gerakan reformasi agama Jaina hanya 33 anggas saja.
Agamas terdiri dari 45 naskah berikut ini :
  1. Dua belas  Angā :
  1. Acaranga sutra,
  2. Sutrakrtanga,
  3. Sthananga,
  4. Samavayanga,
  5. Vyakhyaprajnapti
  6. Bhagawati Sutra,
  7. Jnatrdharmakathah,
  8. Upasakadasah,
  9. Antakrddaasah,
  10. Anuttaraupapātikadaśāh,
  11. Prasnavyakaranani,
  12. Vipakasruta Drstivada.
  13. Aupapātika,
  14. Rājapraśnīya,
  15. Jīvājīvābhigama,
  16. Prajñāpana,
  17. Suryaprajnapti,
  18. Jambūdvīpaprajñapt,
  19. Candraprajñapti,
  20. Nirayārvalī,
  21. Kalpāvatamsikāh,
  22.  Puspikāh,
  23. Puspacūlikāh,
  24. Vrasnidaśāh
  25. Ācāradaśāh
  26. Brhatkalpa
  27. Vyavahara
  28. Niśītha
  29. Mahāniśītha
  30. Jītakalpa
  31. Daśavaikālika
  32. Uttarādhyayana
  33. Āvaśyaka
  34. Pindaniryukyti
  35. Catuhśarana
  36.  Āturapratyākhyanā
  37.  Bhaktaparijñā
  38.  Samstāraka
  39.  Tandulavaicarika
  40. Candravedhyāka
  41. Devendrastava
  42. Ganividyā
  43. Mahāpratyākhyanā
  44. Vīrastava
2.     Dua belas  Upanga āgama (Naskah yang memuat      penjelasan mengenai Angā):
3.     Enam Chedasūtras      (Naskah menggenai prilaku dan sikap seorang pendeta)
4.     Empat Mūlasūtras      (Naskah yang memuat dasar-dasar ditahap awal untuk kependetaan)
5.     Sepuluh sutra       Prakīrnaka  (Naskah mengenai kebebasan atau      macam=macam topik).
`     6.   Dua Cūlikasūtras (Naskah yang lebih memperjelas atau menghiasi makna Anga)
  1. Nandī-sūtra
  2. Anuyogadvāra-sūtra


Artikel selanjutnya : 
Diwali.  Hari Raya ini diperingati diseluruh India. Bagi penganut Jin memiliki arti yang khusus, karena pada hari itu tahun 527 SM  (sesuai dengan tradisi  Svetambara) dimana  Mahavira memberikan ajarannya yang terakhir dan memperoleh kebebasannya yang tertinggi. ............ Persembahyangan pemeluk Jain tidak sama dengan persembahyangan agama lain. Penganut Jain berdoa untuk mengenang perbuatan luhur para Tirthankara dan mengingatkan penganutnya kepada ajaran Mahavira. Penganut Jain bersembahyang sebagai media untuk meningkatkan spiritualitas;  Jain tidak berdoa untuk meminta berkah atau materi ...............

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 
loading...

Belum ada Komentar untuk " JAINISME ; AGAMA YANG ATHEIS (8)"

Posting Komentar