JAINISME ; AGAMA YANG ATHEIS (9)





Hari Raya
  1. Mahavira Jayanti, Hari Raya ini untuk merayakan hari kelahiran Mahavira. Penganut Jain akan berkumpul di Kuil untuk mendengarkan pembacaan dari ajaran Mahavira.
  2. Paryushana.  Penganut Jin Digambra merayakannya di kuil Bulawadi, Mumbai.  Kata  ‘Paryushana’ berarti  ‘tinggal di satu tempat ‘, Awalnya inilah praktek yang utama biarawan. Upacara ini terdiri dari delapan hari puasa, pertobatan dan melaksanakan puja. Sering pendeta diundang untuk memberikan pencerahan dari naskah Jain.
  3. Diwali.  Hari Raya ini diperingati diseluruh India. Bagi penganut Jin memiliki arti yang khusus, karena pada hari itu tahun 527 SM  (sesuai dengan tradisi  Svetambara) dimana  Mahavira memberikan ajarannya yang terakhir dan memperoleh kebebasannya yang tertinggi. Pada  Diwali orang tua sering memberikan manisan kepada anak-anaknya, dan lampu dinyalakan diseluruh India. Beberapa Jain yang sangat religius akan melaksanakan dua hari puasa, mengikuti apa yang dilakuian oleh Mahavira.
  4. Kartak Purnima. Hari Raya Divali diikuti dengan Hari Raya Kartak Purnima.  Ini diyakini sebagai waktu yang menguntungkan untuk melaksanakan tirtayatra ke tempat-tempat suci  yang terkait dengan Agama Jain.
  5. Mauna Agyaras . Ini merupakan satu hari untuk melaksanakan puasa dan nyepi. Pe
    nganut Jain juga melaksanakan meditasi pada Hari Raya diatas.

Penganut Membersihkan Patung Tirthankara
 Pendeta tidak bisa memberikan berkah kepada orang yang didoakan, karena :
  1. Mahluk itu diluar hubungan dengan manusia
  2. Mahluk itu telah terbebas dari segala keinginan dan nafsu dan karenanya mereka tidak bisa dipuaskan dengan persembahan atau dengan hal yang lainnya
  3. Persembahyangan pemeluk Jain tidak sama dengan persembahyangan agama lain. Penganut Jain berdoa untuk mengenang perbuatan luhur para Tirthankara dan mengingatkan penganutnya kepada ajaran Mahavira.
  4. Penganut Jain bersembahyang sebagai media untuk meningkatkan spiritualitas; itu adalah sarana menuju akhir tetapi hal itu bekanlah sebuah akhir.
  5. Jain tidak berdoa untuk meminta berkah atau materi kepada Tirthankara, tetapi untuk meminta inspirasi dalam menjalani kehidupan.
  6. Penganut Jain berdoa dengan dialek kuno Ardha Magadhi
Perbedaan utama antara persembahyangan Jain dan Hindu , yang kelihatan sama dipermukaannya, meskipun penganut Jain kelihatannya bersembahyang kepada Tirthankara, tetapi mereka bukan sembahyang kepada perorangannya, tetapi dia sembahyang kepada kesempurnaan yang dicapainya, agar mereka dapat mengikuti jejaknya. Jainisme mengajarkan bahwa kita bisa mencapai kedamaian sejati dan kebahagiaan hanya dengan berfikir dan berbuat yang benar.
Ada tiga alasan untuk hal ini :
  1. Jainisme adalah      berbuat, bukan penyembahan. Agama Jainisme      mengharapkan agar pengikutnya       menolong dirinya sendiri dari pengorbanan, melalui pikiran dan      perbuatan  seperti seharusnya.      Banyak  Jain di India sembahyang di      kuilnya setiap hari, dan bersembahyang bersama pada Hari Raya.
  2. Tidak      ada sesuatu yang diminta waktu sembahyang kecuali untuk peningkatan      spiritual. Seorang Jain  yang berdoa      untuk mendapatkan sesuatu, mereka tidak akan pernah untuk mendapatkan      peningkatan spiritual. Jain memiliki sedikit alasan untuk berdoa kepada      Deva, diluar keinginan pribadi, karena       Dewa yang bisa memberi pertolongan, tapi tidak bisa memberikan      siddha; dan seperti halnya cara kerja karma, yang mengatur kualitas      kehidupan manusia secara otomatis dan tidak bisa dipengaruhi dengan doa
  3. Dalam doa utama, Jain tidak meminta bantuan      apapun atau keuntungan material, mantra ini berfungsi sebagai isyarat      sederhana respek yang dalam terhadap makhluk yang lebih maju secara      spiritual. Mantra ini juga mengingatkan pengikutnya untuk mencapai tujuan      akhir mencapai moksha. Penganut Jain bukanlah sembahyang untuk menyenangkan      Deva-Deva, atau untuk mendapatkan sesuatu dari Deva-Deva.

Tapi Jain bersembahyang untuk :
  1. Meningkatkan  taraf spiritual penganut.
  2. Bersembahyang menyebabkan pembersihan spiritual.
  3. Sembahyang dapat menghancurkan karma buruk yang melekat pada jiva. Sembahyang agar bisa fokus untuk aktivitas spiritual.
  4. Sembahyang memberikan pengikut untuk mendekatkan diri kepada rasa ketuhanan.
  5. Sembahyang  akan menyisakan kepada penganutnya contoh kehidupan yang ingin diikutinya.

Artikel selanjutnya : 
Penganut Jain berpuasa sebagai penebusan dosa, terutama bagi para pendeta. Puasa juga membersihkan badan dan pikiran, seperti  Mahavira yang menggunakan banyak waktunya untuk melaksanakan puasa. Bagi penganut Jain tidaklah cukup hanya tidak makan saja dalam melaksanakan puasa mereka haruslah juga menghentikan keinginannya ..... Berpuasa sampai mati, seorang Jain berhenti makan  dengan maksud untuk menyiapkan kematian Ini berbeda dengan bunuh diri, karena tidak dilandasi dengan perasaan marah atau emosi, tetapi hal ini dilakukan bila tubuh  tidak mampu lagi melayani pemiliknya  sebagai alat spiritualitas ................

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, 
loading...

1 Komentar untuk "JAINISME ; AGAMA YANG ATHEIS (9)"