SIWA SIDDHANTA (1)


Siwa Melenyapkan Kegelapan Bathin


Ditempat kerja saya, ada seorang kolega keturunan India yang beragama Hindu juga. Istrinya kebetulan membaca artikel di Blog ini mengenai : Dwarawati Muncul Dari Laut dan Misteri Jembatan Ramayana. Istrinya bertanya :”Mengapa Hindu di Bali dalam melaksanakan upacaranya menggunakan  daging”. Dia berpesan : “Bila sudah ketemu jawabannya, informasikan kepada saya”. Memang, bila kita baca Bhagawad Gita Bab 9, Ayat 26 tertulis (terjemahannya) :

(Siapa saja  yang sujud kepada-Ku dengan persembahan
setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah atau seteguk air,
Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang tulus hati),

karena  patraṁ, puṣpaṁ, phalaṁ, toyam: (daun, bunga, buah, air) semuanya tersedia di setiap belahan dunia. Daging, ikan dan telur tidak boleh dipersembahkan kepada Krishna. Sayuran, biji-bijian, buah-buahan, susu dan air adalah makanan yang tepat untuk manusia. Demikian yang tercantum di Bhagawad Gita.
Top of Form

SIWA
Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, yang  melebur kegelapan yang menghalangi budhi untuk  menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Kata Siwa juga berarti yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya. (Monier,1990:1074). Istilah Siwa berasal dari bahasa Sanskerta yang dalam ajektifnya berarti mulia, dan dalam bentuk kata benda  masculinenya bermakna Dewa atau Tuhan (Sumawa, 1990:301).

Dewa Siwa adalah Dewa cinta kasih yang tak terbatas dan merupakan penyelamat dan guru. Ia selalu terlibat dalam pembebasan roh-roh dari perbudakan materi. Ia mengenakan wujud seorang guru yang berasal dari cinta kasihnya yang mendalam terhadap umat manusia. Ia menjaga aktifitas dari roh-roh pribadi dan membantunya dalam pergerakan majunya. Ia membebaskan roh-roh pribadi dari blenggu atau ikatan. Siwa adalah pelebur isi dan alam semesta  (aspek pralaya atau pralina dari alam semesta dan segala isinya). Siwa yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Siwa yang belum dipengaruhi Maya (berbagai sifat seperti Guna, Sakti dan Swabhawa) disebut Parama Siwa, dalam keadaan ini, disebut juga Acintyarupa atau Niskala dan tidak berwujud. Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sang Hyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.
  

Siwa

Siwa adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Dewa Siwa memiliki nama lain yaitu, Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra. Bersenjatakan Tri sula, dengan Wahana Lembu Nandini. Beliau memiliki sakti:  Dewi Parwati, Dewi Uma, Dewi Durga, Dewi Kali.

Dewa Siwa meresapi seluruh alam dengan Sakti-Nya dan berkarya melalui Sakti-Nya. Sakti merupakan energi dasar dari Dewa Siwa, yang benar-benar merupakan badan dari Dewa Siwa. Diibaratkan seperti tukang periuk, penyebab utama dari periuk ; tongkat dan roda adalah penyebab instrumental sedangkan tanah liat adalah penyebab material dari periuk. Demikian pula Dewa Siwa merupakan penyebab pertama dari alam semesta, dan sakti itu merupakan penyebab instrumental dan maya merupakan penyebab material.
            
Dewa Siwa adalah dewata bagian dari Trimurti, yang bertanggung jawab terhadap penyerapan alam semesta. Beliau merupakan perwujudan dari sifat tamas. Kecenderungan menuju pelenyapan atau peleburan. Arti sebenarnya dari Siwa adalah pada siapa alam semesta ini tertidur setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dilenyapkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar, prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa.

Umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni: Bertangan empat, masing-masing membawa: trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi. Bermata tiga (tri netra), Pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit), Ikat pinggang dari kulit harimau, Hiasan di leher dari ular kobra. Oleh umat Hindu (Bali), Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya menjadi Panca Maha Bhuta (air, api, tanah, udara dan ether). Dalam pengider Dewata Nawa Sangga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Beliau dipuja di Pura Besakih. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru.


 Pura Besakih

Salah satu yang menarik dari keberadaan Dewa Siwa, ialah Beliau berada di mana-mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider-ider. Di timur Ia adalah Iswara, di tenggara Ia adalah Mahesora, di selatan Ia adalah Brahma, di barat daya Ia adalah Rudra, di barat adalah Mahadewa di barat laut Ia adalah Sangkara, di utara Ia adalah Wisnu, di timur laut Ia adalah Sambhu dan ditengah Ia adalah Siwa. Sebagai Sang Hyang kala, di timur Ia adalah kala Petak (putih), di selatan Ia adalah Kala Bang (merah), di barat ia adalah Kala Gading (Kuning), di utara Ia adalah Kala Ireng (hitam) dan ditengah Ia adalah kala mancawarna.

Siwa  memiliki lima fungsi yaitu : (1) Tirodhana (pengaburan), (2) Srsti (penciptaan), (3) Sthiti (pemeliharan), (4) Samhara (penghancuran), dan (5) Anugraha (pemberi anugrah).
Sesungguhnya kesadaran Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa sesungguhnya satu dan disebut Kenyataan/Hakikat Siwa. Siwa dibedakan menjadi tiga tingkatan adalah untuk memperlihatkan ada tidaknya dan besar kecilnya pengaruh maya. Siwa kehilangan kesaktian, kesucian dan wisesanya karena pangaruh maya maka kesadaran/ hakikat Siwa disebut atma yaitu jiwa yang ada pada setiap manusia. Atma artinya kesadaran yang terpesona. Kata maya berarti khayal, ketidaknyataan.

Tuhan dalam wujud Sada Siwa memiliki Sakti yang dsebut dengan  Cadu Sakti, yaitu empat kekuatan, yaitu:
Wibhusakti disebut juga dengan uta-prota, yaitu ada dalam segalanya tetapi keadaannya tidak terpengaruh oleh apa-apa dan tetap suci murni selamanya.
Prabhusakti yaitu menguasai segalanya sehingga semua di bawah kendalinya.
Jnanasakti yaitu sumber pengetahuan yang abadi sehingga beliau tetap maha tau.
Kriyasakti yaitu dapat mengerjakan segala kerja dengan sempurna.

Tuhan dalam wujud Sada Siwa memiliki Swabhawa yang bernama Astaiswarya yang artinya delapan kemahakuasaan dan keistimewaan Tuhan, yaitu:
1.     Anima : Atom (kecil) sehingga Tuhan dpt meresapi segala benda dan tempat.
2.     Laghima :ringan sehingga mudah melayang di angkasa.
3.     Mahima : maha besar & agung sehingga menjadi dihormati.
4.     Prapthi :serba sukses sehingga kehendaknya dapat tercapai bebas dari hukum karma.
5.     Prakamya : dapat terwujud segala keinginannya.
6.     Isitwa : Maha pengatur (Rta).
7.     Wasitwa : Mahakuasa.
8.     Yatrakamawasayitwa : apa saja yang dikehendaki dan dimanapun maka seketika itu sukses.


Dewata Nawa Sanga
Agama Hindu di Indonesia adalah agama Hindu yang memuja Bhatara Siwa sebagai Tuhan yang tertinggi. Sanghyang Widhi Wasa adalah sebutan Tuhan yang amat umum. Bhatara Siwa adalah Sanghyang Widhi sendiri. Bhatara Siwa dipuja oleh umat Hindu Indonesia. Ia dipuja sebagai Trimurti yaitu : Brahma, Wisnu dan Iswara, sebagai Panca Brahma yaitu: Sadya/Sadyajata, Bamadewa, Tatpurusa, Aghora dan Isana sebagai Dewata Nawa Sangha yaitu ; Iswara, Mahesvara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu dan Siwa.

Artikel selanjutnya : SIWA SIDDHANTA (2).

Sumber :
Pada artikel Siwa Siddhanta (4)



loading...

Belum ada Komentar untuk "SIWA SIDDHANTA (1)"

Posting Komentar