Rabu, 30 September 2020

JENIS KAJANG dan NGAJUM KAJANG (3)

 Lontar Taittiriya Upanisad mengatakan bahwa badan manusia terdiri dari lima lapisan yang disebut Panca Maya Kosa. Adapun bagian-bagiannya adalah sebagai beriku: 

1.     Anamaya Kosa adalah lapisan badan manusia yang berasal dari makanan.

2.     Pranamaya Kosa yaitu lapisan tenaga.

3.     Manomaya Kosa yaitu lapisan pikiran

4.     Wijnanamaya Kosa yaitu lapisan kebijaksanaan

5.     Anandamaya Kosa yaitu lapisan kebahagiaan

Lapisan-lapisan inilah yang kemudian digambarkan dengan kajang dalam upacara Ngaben.

 

Kajang merupakan simbol atman yang dilukiskan dengan aksara dan gambar-gambar suci, penggunaan kajang ini dalam upacara pengabenan adalah diletakkan diatas jenazah/petinya seperti selimut, yang diusung menggunakan wadah/bade,pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon), dan nantinya akan dibakar bersama jenazah. Sebelum dapat digunakan sesuai dengan nilai spiritualnya harus dilaksanakan upacara Ngajum (Masupati) Kajang.  Setelah selesai ngajum kajang barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis. Kajang seperti sebuah KTP. Sebagai simbul tubuh manusia, serta segala pembentuk tubuh manusia, yang diwujudkan  dalam bentuk aksara atau gambar yang dibuat diatas kain kasa (kafan).

 

Kajang  ini sesungguhnya ada dua macam, yaitu :

1.   Kajang Siwa adalah kajang yang diperoleh dari Sang Sulinggih (Pedanda, Sri Empu, Dukuh, Bhagawan, dll) yang muput upacara bersangkutan.

2.  Kajang Kawitan adalah kajang yang diperoleh dengan cara nunas kepada Bhatara Kawitan di Pura Kawitan warga masing-masing. Kajang Kawitan ini akan berbeda antar setiap soroh. Di masyarakat sering ada kekeliruan pemahaman mengenai Kawitan, yang dikatakan berada di Timur. Kawitan di Timur itu maksudnya adalah Betara Surya/Betara Siwa, (sebagai  Sang Pencipta).  Kalau dalam keseharian disebutkan kawitan di timur (mungkin di Karangasem, Bangli, Klungkung atau Gianyar),maksudnya  adalah sesuai lelintihan atau keturunan,trah).

 

Ida Pedanda Gede Kaca menjelaskan mengenai Kawitan yang menyatakan, berdasarkan sastra,kita mempunyai 4 (empat) Kawitan yaitu :

1.     Bhur ( di Sorga ),Sang Hyang Widi Wasa, yang merupakan kawitan kita yang pertama. Kawitan berasal dari  kata  wit/asal-usul, yang tercipta ke dunia, yang terdiri dari :

a.     Tumbuh-tumbuhan, yang memiliki Bayu (energi untuk hidup).

b.     Binatang, yang memiliki bayu, sabda, (energi untuk hidup dan bisa bersuara).

c.     Manusia, yang memiliki bayu, sabda, idep , (energi untuk hidup, bisa bersuara dan memiliki daya pikir).  Jadi pohon-pohonan dan binatang merupakan saudara kita lahir ke bumi,makanya kita disebut mahluk yg paling sempurna,dari yg kurang sempurna.

2.     Bwah (ring Dalem),inilah kawitan kita setelah Sang Hyang Widhi. Itulah sebabnya bila kita mendak kawitan purusa predana, agar mendak di Pura Dalem Puri (menurut  lontar Tutur Anda Tattwa), sekarang masing-masing Desa Adat sudah memiliki Pura Dalem. Tempat berstananya Betari.Durga.

3.  Swah ( ring Rong tiga), linggih   kawitan Siwa guru, BetaraHyang Guru, Brahma, Wisnu, Siwa/ Paramatma,Siwatma,Sanghyang Susudatma), pedagingan tetiga, barak, selem, putih).

4.     Kawitan secara nyata, orang tua  kita (ibu dan bapak sebagai guru rupaka).

 


Memandikan Jenasah

 

Dalam pemaknaan Kajang dibagi menjadi dua yaitu Kajang Kawitan dan Kajang Sari. Kajang Kawitan sebagai kajang rurub (pengangge sawe). Adapun kajang kawitan yang sudah dibhisamekan terdiri dari 12 lembar dimana didalam pemaknaannya mengandung sebuah proses pemindahan sanghyang atma dari Panca Maha Bhuta ke Panca Tan Matra. Sedangkan kajang sari dari dadia, sebagai kajang pengaskara dalam proses pengaskaran yang disebut juga  sebagai kajang kesamen.  

 

Kajang memiliki nilai spiritual sebagai tanda restu dari sanak keluarga, Sang Sulinggih, dan Bhatara Kawitan terhadap kepergian Sang Lina (yang meninggal) untuk manunggal dengan  Ida Sanghyang Widhi Wasa. Identitas persaudaraan di alam sana tidak ditentukan lagi oleh kelahiran dari ibu yang sama, dadia yang sama, melainkan dari kajang kawitan tersebut. Identitas kajang kawitan yang mempersatukan kita nanti dengan saudara-saudara kita. Selain itu, kajang kawitan juga menuntun supaya orang kembali kehakikatnya. Sekecil apapun upacara pengabenan, kajang menjadi sebuah keharusan karena merupakan sebuah identitas.

 

Sedangkan apabila ada semeton yang meninggal dunia hanya mependem/ megeseng/ mekingsan di Gni, kajang yang digunakan adalah Kajang yang dirajah atau ditulis dengan sarana upakara tetukon yang selanjutnya mendapat Lingga tangan (tapak tangan) dan diakukan pemlaspasan oleh seorang Sadhaka  / Sulinggih (Brahmana Dwijati). Jumlah kajang (angkeb) ditentukan dari Bhisama masing-masing  kawitan sesuai dengan :

1.     Profesi

2.   Jabatan orang yang meninggal (sang mati; sang putus) tersebut selama dia hidup, yang mana kajang kawitan akan berada pada tumpukan teratas dari sekian angkeb kajang yang dipergunakan.


Berdasarkan aksara suci, kajang dibedakan : 

1.     Kajang Klasa: kajang dari sulinggih untuk alas kajang     utama atau kajang pemijilan.

2.    Kajang Pemijilan atau Kajang Utama: kajang yang dibuat     sulinggih, ditaruh paling atas. Kajang ini yang akan diajum bersama ukur.

3.   Kajang Sari: kajang dari dadia atau keluarga terdekat.     Ditaruh dibawah kajang utama.

 

Kajang juga terbagi menjadi 9 yaitu :

1.     Kajang  tapakan pelinggihan Sang Hyang Atma.

2.     Kajang kulit/wangsa

3.     Kajang Jagra Pada (penyadaran Sang Hyang Atma menuju ke kamoksan).

4.     Kajang Parimana untuk jalan  Sang Hyang Atma ke Nirbana/swarga/kembali ke Sang pencipta.

5.     Kajang Sari  memuat dasaksara  manusia.

6.     Kajang kawitan, pengembalian Sang Hyang atma ke kawitan yaitu Sang Pencipta (Sang Hyang Widi wasa).

7.     Kajang guungan Sang Hyang Atma/rumah Sang Hyang Atma.

8.     Kajang Kwangen berisi uang kepeng  47 biji.

9.     Kajang pengawak simbul Sang Hyang Atma , memakai uang kepeng  125 biji.

Kesembilan Kajang ini sesuai dengan lontar Pitra Puja dan  lontar Sawa Wedana,, Lontar Puja Sawadhana, Lontar Dharma Tatwa, maupun lontar yang lainnya. Dalam upacara pengabenan, ada tiga syarat yang wajib dipenuhi :

1.     Menggunakan kajang  merupakan syarat pertama

2.     Syarat kedua memakai tirtha pengentas/penglambung

3.     Syarat ketiga tirta penglepas, memuat dua kitir yang bertuliskan  Ong Ung Mang Ang, kemudian diisi arca dana bertuliskan sesuai dengan wangsa/kawitan. Kertas kitir dan  Arca dana ditulis pada kertas Ulantaga, tidak diperkenankan memakai kertas biasa, serta memuat bekal yang meninggal, bertuliskan: Ong I A Ka Sa Ma Re La We Ye Ung diatas  tembaga.

                                                                                                                                 

Kajang menurut pemakainya (wangsa), dibedakan menjadi :

1.     Kajang Brahmana, 

2.     Kajang Ksatrya, 

3.     Kajang Wesya,

4.     Kajang Sudra, 

5.     Kajang Pasek, 

6.     Kajang Pande,   dll.

Kajang soroh: atau kajang sesuai kawitan masing-masing.     Kajang ini selanjutnya menjadi Kajang Utama. Misalnya kajang Brahmana terdiri dari berbagai jenis misalnya,

1.     Kajang Brahmana Putus,

2.     Kajang Brahmana Utama,

3.     Brahmana Walaka.

Kajang Kesatrya  :

1.     Kajang Kesatrya Utama,

2.     Kajang Kesatrya Anyakra Werti,

3.     Kajang Kesatrya Waisya Putus,

4.     Kajang Prasatria dan lain sebagainya.

Dalam kajang dilukiskan aksara Ang (purusa) dan Ah (material), sementara aksara-aksara lainnya hanya sebuah variasi tergantung kreativitas keturunannya.          

Pemguburan Jenasah

 PEMBUATAN KAJANG

Bisa nyurat kajang mengandung makna adalah mampu menyurat, artinya memiliki kemampuan nyastra, menguasai huruf modre.

Dadi (boleh), mengandung makna boleh, siapa yang boleh tentunya dengan batasan mereka yang sudah mewinten, paling tidak sudah mewinten saraswati.

Patut, mengandung makna bahwa sepatutnya kita semua sebagai warih beliau yang harus nyurat kajang kawitan untuk keperluan keluarga kita.  

Bagi para Sulinggih, atau sang Dwijati, yang pantas nyurat Kajang, hendaknya terlebih dahulu memahami aksara modre dan sejenisnya. Sebelum Kajang kasurat (ditulis) dalam selembar kain kasa, terlebih dahulu ditulis dalam batin kita. Tempatkan Aksara Rwabhineda dengan baik dan benar serta dilatih agar benar-benar membatin dalam kemanunggalan. Pahami betul permainan aksara baik dalam pelukun aksara dan peringkesannya sehingga dapat menempatkan Kajang dalam diri menggantikan kerudung maya yang selama ini mengikat. Berfungsi dan tidaknya Kajang sangat tergantung pada orang yang Nyurat. Kajang dibuat pada hari H, tidak boleh diinapkan dan beliau juga yang akan menyatukan Kajang tersebut ke jasad, sesuai dengan  Weda Pitra Puja, dan dilaksanakan juga upacara ngajum sawa, yang maksudnya  banyak dari keluarganya  yang akan memberikan jalan kepada orang yang meninggal, dengan cara ditusuk-tusuk dengan jarum, agar yang bersangkutan memperoleh tempat yang baik, sesuai dengan   asuba karmanya

Kajang tidak boleh dibuat oleh sembarang orang. Kajang dibuat dan dipelaspas oleh sang sulinggih atau sang dwijati yang mana untuk membuat sebuah sastra suci dan sakral seperti kajang diperlukan kesucian bathin dari yang membuatnya. Orang yang berhak membuat adalah Sang Sulinggih (dwijati), orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau pemangku kawitan.

Oleh karena itu, orang yang menulis Kajang adalah orang yang sudah melewati proses pawintenan dan belajar nyastra atas bimbingan guru (sulinggih). Hal terpenting selain berguru adalah mendapat anugerah dari Hyang Bhatari Durga. Pemangku atau welaka, tidak diperkenankan nyurat Kajang, karena kegunaannya sangat sakral,  (bisa dan boleh sangat berbeda), hendaknya jangan sampai dilaksanakan untuk kepentingan pribadi, bisnis semata, agar tren yg keliru jangan terus dilaksanakan, ila-ila dahat (sangat tidak baik), Sang Hyang Atma sulit mendapatkan tempat yg layak, dan bila nanti menitis ke marca pada (alam material), akan mengusak asik keluarga. Sulinggih dan Pemangku yang  Masupati Kajang Kawitannya.

 

Ngaben


Sadhana laku tatkala menulis atau nyurat Kajang.

Pada umumnya, kajang diberikan oleh Pandita yang menjadi Nabe atau Guru Kerohanian. Selain itu, kajang juga dapat diperoleh dari Pura Kawitannya dan dari keluarga dekat. Karena badan itu sangat penting sebagai kendaraan Atman menuju alam Niskala. Sebagai badan pengganti tentunya sangat diharapkan badan itu badan yang searah dengan sifat-sifat suci Atman. Dengan demikian antara wadah dan isinya menyatu.

 

Ada beberapa aturan yang harus dilakukan.Terpenting adalah ketika nyurat aksara biasanya aksara Ang dan Ah ditulis dengan penuh konsentrasi dan fokus pada Sakti sebagai manifestasi Durga Dewi. Kemudian, tattkala aksara tersebut ditulis, penulis Kajang hendaknya mampu menempatkan Ang pada dada, yakni tuntungin hati dan aksara Ah pada pangkal lidah, sehingga yang menulis Kajang dapat dinyatakan sebagai Manusa Sakti yang mendapatkan anugrah Dewi Durga untuk mengurai sang roh dari segala bentuk ikatan. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam teks “…,pupusuh, mu, ring, ati. Ungsilan, mu, ring ampru. Tuntungin ati, mu, ring wiiting ati. Mawak Brahma, Wisnu, Iswara. Matemahan manusa Śakti , manusa Śakti ne, mawak Bhaṭāri , Ang, ring dadha, Ah, ring witing lidah, ya ta patemuang, ika atepang,maka matunggalan maring Bhaṭāri  Durga,…”

 

Untuk upacara ngaben yang dilengkapi dengan naga banda, disebutkan bahwa pada hari pabersihan, Naga Banda tersebut, bersama-sama kajang, bade dan perlengkapan pelebon lainnya dipelaspas dan diurip (atau "dihidupkan"), pada saat menjelang pemberangkatan ke tunon (tempat pembakaran)Naga Banda dipanah oleh Ida Pandita yang muput karya (pemimpin upacara). 

 

 


URUTAN JALANNYA NGAJUM (MASUPATI) KAJANG

(oleh Ida Pandita Mpu Daksa Yaksa Acharya Manuaba.)

1.     Siapkan sebuah asagan (bale, meja) dg kasur kecil,     tikar dan bantal. tikar dirajah Padma ditengah padma ditulis aksara:   Ongkara Mertha dan Aksara Rwa Bhineda. Diatas bale2 diletakkan kajang. Disamping bale ditaruh banten: ayaban tumpeng 5, sesayut alit, suci,  daksina gde, sorohan, banten pemelaspas,  peras pemelaspas, sesayut  pasupati, pesucian.

2.   Siapkan sarana Ngajum Kajang: kain putih, selembar kain     cepuk, kajang klasa, kajang pemijilan, kajang sari, ukur, jarum, kwangen,     sekar ura, rurub sinom, rantasan, minyak wangi.

3.     Letakkan kain kasa 1,5 – 2 m diatas tikar sbg alas     kajang sekaligus sbg pembungkus

4.     Diatas kain cepuk ditaruh Kajang Klasa

5.     Diatasnya kajang sari (bila ada) (kajang dari dadia)

6.     Diatasnya kajang Pemijilan (dari sulinggih). Kajang     Pemijilan ini kajang inti (kajang utama) yang akan di Ajum.

7.     Ukur. Untuk laki2: Seleh (sisi pis bolong yang berisi     dua huruf) menghadap keatas. Untuk wanita Kerep (empat huruf) menghadap     keatas. Membuat ukur harus memperhatikan Seleh dan Kerep.

Kajang

 

Ngajum dimulai dengan :

1.     Menusukkan jarum pada kajang melalui     lubang uang kepeng sehingga ukur menyatu dengan kajang seperti dijarit.      Diawali oleh penglingsir pemangku/ pinandita menusuk pada bagian kepala.  Yang lebih muda dari yang diaben tidak boleh menusuk pada bagian kepala.

2.     Dilanjutkan pebersihan dengan air kumkuman, keramas, sisig,     minyak wangi, boreh miik seperti memandikan orang meninggal. Lanjut     menghias kepala ukur dengan bunga.

3.     Memasang kwangen seperti upacara nyiramang layon, di  kepala 1, ulu hati 1, kedua siku, bahu, pergelangan tangan, pangkal paha,     lutut, pergelangan kaki.

4.     Ditabur sekar rura diatas ukur, semprotkan  minyak wangi.     (sekar rura: macam2 bunga, kembang rampe, boreh miyik).

5.     Memasang rurub sinom (dari blangsah pinang) sebanyak 3     buah (kepala, badan, kaki).

6.     Menaruh rantasan diatasnya dan canang sari diatas rantasan.

7.     Pemangku memercikkan tirta penglukatan, pebersihan,     prayascita.

8.     Melaspas kajang.

9.     Sulinggih memberi tirta Pengajuman (tirta pasupati  kajang) dan Tirta Saji. Bersamaan dengan pemujaan sulinggih membuat     tirta-tirta: pengajuman kajang, tirta penembak, tirta pengentas, tirta prelina,    tirta penyaeb, tirta penganyutan dan lain-lain.

10. Setelah ngetisang tirta pengajuman, tirta pasupati kajang,     rurub sinom dan rantasan diambil sementara lalu dilanjutkan ngeringkes     kajang. Kain putih tiga lembar paling bawah sebagai pembungkus. Sama     seperti ngeringkes jenasah, laki: kain pembungkus sisi kanan menutup,     wanita: pembungkus sisi kiri  menutup. Pembungkus diikat dengan     benang tukelan dan tali rotan di tiga tempat, kepala, dada dan kaki.     Ketiga ikatan itu disambung dengan benang memanjang. Rurub sinom kembali  dipasang.

11. Setelah Ngaskara Adegan selesai, dilanjutkan upacara     pemerasan. Kajang dan adegan dipanggul mengelilingi banten pemerasan     sebanyak tiga kali diikuti oleh sanak keluarga.

12. Kajang ditaruh diatas peti jenasah di Bale Semanggen.  Nantinya akan dibawa  ke  setra untuk dibakar.

 

BACA JUGA,  KLIK DIBAWAH INI :

1.     Kajang,  Untuk Apa ? (1)

2.     Makna dan Fungsi Kajang (2)

3.     Prosesi Memandikan Jenasah Umat Hindu di Bali

4.     Prosesi Penguburan Jenasah di Bali (1)

5.     Panca Yadnya dan Kematian

6.     Kehidupan setelah Kematian 1

0 komentar:

Posting Komentar